Peningkatan prevalensi Autism Spectrum Disorder (ASD) secara global dan nasional menghadirkan tantangan serius bagi keluarga, sistem pendidikan, serta layanan kesehatan. Di Indonesia, jumlah anak dengan autisme terus bertambah, sementara dukungan pengasuhan masih kerap dipahami sebagai tanggung jawab utama ibu. Perspektif ini tidak hanya menyederhanakan kompleksitas pengasuhan anak dengan kebutuhan khusus, tetapi juga mengaburkan peran ayah yang sesungguhnya sangat penting.
Sebuah penelitian kualitatif yang dilakukan oleh Achmad Mujab Masykur, Wiwin Hendriani, dan Nur Ainy Fardana Nawangsari dari Fakultas Psikologi dan dipublikasikan dalam North American Journal of Psychology (2025) berupaya mengisi celah tersebut dengan mengkaji secara mendalam bagaimana ayah di Indonesia menjalankan perannya dalam pengasuhan anak dengan ASD. Berbeda dari pendekatan kuantitatif yang umum digunakan, penelitian ini menggali pengalaman ayah secara langsung melalui wawancara mendalam, sehingga memberikan gambaran yang lebih utuh dan kontekstual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ayah dalam keluarga dengan anak ASD bersifat multidimensional dan dinamis. Ayah tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi sebagai pencari nafkah, tetapi juga terlibat aktif dalam pengasuhan sehari-hari, pendampingan terapi, pendidikan anak, serta dukungan emosional bagi pasangan dan anak. Keterlibatan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahan autisme, karakteristik anak, serta kondisi sosial dan pekerjaan ayah.
Dalam aspek ekonomi, ayah memikul tanggung jawab yang semakin besar karena kebutuhan keluarga dengan anak ASD umumnya lebih tinggi, terutama untuk biaya terapi dan perawatan jangka panjang. Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa peran sebagai pencari nafkah tidak selalu dijalankan secara konvensional. Beberapa ayah menyesuaikan pola kerja, bahkan mengubah karier, demi memastikan keberlanjutan pendampingan anak.
Pada ranah pengasuhan harian, ayah terlibat langsung dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, seperti membantu makan, mandi, menjaga kebersihan, hingga melatih kemandirian. Keterlibatan ini tidak hanya bersifat instrumental, tetapi juga menjadi sarana membangun kedekatan emosional yang penting bagi perkembangan sosial dan psikologis anak dengan ASD. Peran ayah sebagai penopang emosional juga muncul sebagai temuan penting. Kehadiran ayah yang stabil dan suportif berkontribusi dalam menjaga keseimbangan emosional keluarga, terutama pada fase awal ketika orang tua menghadapi diagnosis anak. Selain itu, ayah juga berperan dalam membantu anak membangun kepercayaan diri dan kesiapan menghadapi tantangan sosial, khususnya pada anak dengan ASD ringan hingga Asperger檚 Syndrome.
Penelitian ini juga menegaskan peran ayah sebagai teladan dan pendidik nilai. Ayah menanamkan nilai moral, etika, budaya, dan religiusitas dengan cara yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Dalam konteks budaya Indonesia, nilai kesantunan, penghormatan kepada orang yang lebih tua, serta praktik keagamaan menjadi bagian penting dari proses pendidikan anak dengan ASD. Pada anak dengan kemampuan kognitif yang lebih baik, ayah terlibat dalam membimbing pendidikan formal hingga jenjang perguruan tinggi. Sementara itu, bagi anak dengan ASD sedang hingga berat, fokus ayah lebih diarahkan pada pendampingan terapi dan pengembangan keterampilan hidup dasar. Keterlibatan ayah dalam terapi terbukti membantu konsistensi latihan dan memperkuat hasil intervensi.
Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menantang pandangan lama yang memposisikan ayah sebagai figur periferal dalam pengasuhan anak dengan disabilitas. Dalam konteks Indonesia, ayah justru tampil sebagai aktor kunci yang berkontribusi nyata terhadap optimalisasi tumbuh kembang anak dengan ASD. Implikasi dari penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan pengasuhan yang lebih inklusif dan berimbang. Dukungan kebijakan, program intervensi keluarga, serta layanan pendampingan anak dengan ASD perlu secara sadar melibatkan ayah sebagai subjek utama, bukan sekadar pelengkap. Dengan demikian, upaya mengoptimalkan perkembangan anak dengan autisme dapat dilakukan secara lebih komprehensif, berkelanjutan, dan kontekstual sesuai dengan nilai sosial budaya Indonesia.
Penulis: Dr. Wiwin Hendriani, S.Psi., M.Si.





