Individualisme dan kolektivisme adalah konstruk teori yang dipelajari di penelitian lintas budaya. Kedua konstruk tersebut berakar kuat dalam budaya dan menunjukkan sejauh mana orang berorientasi pada diri sendiri atau berpusat pada orang lain, mandiri atau saling bergantung. Dalam budaya Barat, seseorang melihat dirinya sebagai individu yang terpisah dari orang lain, sedangkan dalam budaya Timur kolektivis, seseorang individu memandang dirinya terhubung dengan orang lain (Markus dan Kitayama, 1991).
Konstruk individualisme-kolektivisme tidak berdiri sendiri. Mereka juga dapat dipasangkan dengan dimensi lain yaitu vertikalitas dan horizontalitas (Singelis et al., 1995; Triandis, 1995). Semua negara yang memiliki kultur individualistik atau kolektivistik tidak memiliki keseragaman dalam dimensi horizontalitas dan vertikalitas. Dalam masyarakat kolektivistik yang horizontal maka kesetaraan adalah nilai yang dianggap penting; sedangkan dalam masyarakat kolektivistik yang vertikal (misalnya, desa pedesaan di India), individu akan menerima ketidaksetaraan dalam kelompok.
Riset ini dilakukan multinasional tentang bagaimana individualisme (horizontal dan vertikal) dan kolektivisme (horizontal dan vertikal) memprediksi kesepian dengan menggunakan sampel dari 28 negara.
Partisipan riset ini berjumlah 8345 partisipan yang terdiri dari 3107 laki-laki dan 5238 perempuan. Partisipan berasal dari 28 negara termasuk Indonesia, Jerman, Polandia, dst. Instrumen untuk mengukur kesepian digunakan dengan menggunakan Three items loneliness scale (TILS; Hughes et al., 2004). Untuk pengukuran Individualisme dan kolektivisme baik pada dimensi vertikal dan horizontal digunakan instrument dari Singelis et al. (1995).
Analisis data dilakukan dengan menginvestigasi invariansi pengukuran pada tiap-tiap skala. Analisis regresi juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana individualisme (vertikal dan horizontal) dan kolektivisme (vertikal dan horizontal) memprediksi kesepian.
Hasil riset menunjukkan bahwa individualisme horizontal dan vertikal; serta kolektivisme horizontal dan vertikal memprediksi kesepian di keseluruhan sampel (28 negara). Usia dan jenis kelamin juga memprediksi kesepian. Walaupun individualisme dan kolektivisme pada dimensi horizontal dan vertikal memiliki efek yang kecil namun dimensi-dimensil kultural tersebut signifikan dalam memprediksi kesepian. Walaupun pola ini terjadi pada semua negara, namun terdapat perbedaan hasil bobot regresi pada pada sampel dari Kanada, Kroasia, Jepang, Malaysia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Spanyol, dan Vietnam.
Baik dalam negara kolektivis dan individualis memungkinkan untuk memiliki tingkat kesepian yang rendah. Jika pada negara kolektivis hal tersebut bisa terjadi karena penghargaan dan perawatan atas hubungan sosial; sedangkan pada masyarakat individualis, dimungkinkan karena ketersediaan sumber daya yang mendukung gaya hidup dan norma yang mereka anut.
Penulis: Dr. Rahkman Ardi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Schermer, J.A., Brankovi膰, M et al (2023). Loneliness and vertical and horizontal collectivism and individualism: A multinational study. Current Research in Behavioral Sciences, 4.





