Nyeri kronik merupakan kasus yang banyak terjadi baik di negara berkembang maupun di negara yang sudah maju. Angka kejadian nyeri kronik di Negara maju seperti Amerika adalah antara 14,6% hingga 64%. Pengobatan nyeri kronik ini masih sangat sulit dan sering mengalami kegagalan. Angka kegagalan pengobatan nyeri kronik ini juga masih cukup tinggi yaitu antara 34% hingga 79% dari total kasus. salah satu penyebab nyeri kronik adalah osteoarthritis, dan salah satu obat yang sering digunakan adalah obat golongan antinyeri antiinflamasi nonsteroid yaitu meloksikam. Hingga saat ini mekanisme yang mendasari kegagalan tersebut belum diketahui.
Cdk5 (cyclin dependent kinase 5) dan TRPV1 (transient receptor potential for vanilloid type 1) merupakan dua protein yang terbukti aktif dalam kondisi nyeri kronik. TRPV1 merupakan suatu kanal ion kalsium yang berperan pada proses induksi nyeri. TRPV1 dapat diaktifkan oleh berbagai kondisi termasuk oleh cdk5. Cdk5 dapat meningkatkan insersi TRPV1 dari badan golgi menuju membrane sel saraf dan dapat memfosforilasi TRPV1 sehingga aktifitas kanal kalsium ini menjadi lebih aktif. Cdk5 juga dapat memfosforilasi reseptor lain seperti reseptor NMDA yang dapat meningkatkan transmisi nyeri sehingga terjadi kondisi nyeri yang lebih hebat. Peningkatan aktifitas cdk5 sendiri dapat terjadi melalui beberapa jalur antara lain jalur MAPK akibat suatu jejas berulang (nyeri kronik) atau melalui jalur ERK1/2. ERK1/2 dapat diaktifkan oleh peningkatan aktifitas leuktrien . Jalur ERK1/2 ini yang kemudian diduga berhubungan dengan resistensi meloksikam pada nyeri kronik karena pemberian meloksikam akan menghambat enzim cox sehingga asam arachidonat akan lebih banyak dirubah menjadi leukotriene oleh enzim lox. Peningkatan kadar leukotriene akan mengaktifkan ERK1/2 dan kemudian akan meningkatkan aktifitas cdk5.
Satu penelitian dengan menggunakan model nyeri kronik pada hewan coba tikus putih telah dilakukan untuk membuktikan dugaan mekanisme resistensi meloksikam tersebut. Pembuatan model nyeri kronik dilakukan dengan menginjeksikan CFA (complete Freud檚 adjuvant) pada daerah plantar pedis. Injeksi CFA dilakukan setiap 7 hari selama 28 hari. Meloksikam mulai diberikan setelah tikus putih mengalami pembengkakan kaki selama 28 hari (nyeri kronik). meloksikam diberikan sekali sehari selama 7 hari berturut turut.
Dosis meloksikam yang diberikan adalah hasil konversi dari dosis 7.5mg dan 15 mg yang digunakan pada manusia. Ambang nyeri pada tikus putih diperiksa dengan menggunakan alat hot plate (UgoBasile-Italy). Temperature hot plate diatur 510C. Ambang nyeri diperiksa tiga kali yaitu satu minggu sebelum induksi nyeri kronik, dua minggu setelah induksi nyeri, dan satu minggu setelah pemberian meloksikam. Tanda Inflamasi pada tikus putih dinilai dengan mengukur volume kaki yang telah diinjeksi CFA dengan menggunakan alat pletismometer (UgoBasile-Italy). Pemeriksaan volume kaki dilakukan 3 kali yaitu 24 jam setelah injeksi CFA, hari ke-28, dan setelah mendapat meloksikam selama 7 hari berturut turut. Ekspresi cdk5 dan TRPV1 diperiksa dengan menggunakan immunohistokimia. Organ yang digunakan untuk pemeriksaan ekspresi cdk5 dan TRPV1 adalah di ganglion dorsalis tikus putih.
Hasil penelitian ini menujukkan bahwa tikus putih yang mengalami nyeri kronik terjadi resistensi terhadap pengobatan dengan menggunakan meloksikam. Resistensi ini dinilai respon klinis dari hewan coba yang masih mengalami nyeri dan pembengkakan pada kaki. Penelitian ini juga membuktikan bahwa induksi yang berlangsung secara kronis dapat meningkatkan ekpresi cdk5 dan TRPV1. Ekspresi cdk5 memiliki korelasi positif yang kuat dengan ekspresi TRPV1. Kelompok tikus putih yang mengalami nyeri kronik dan mendapatkan meloksikam menunjukkan ekpresi cdk5 dan TRPV1 yang lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini membuktikan bahwa cdk5 dan TRPV1 memiliki peran penting dalam kejadian resistensi terhadap meloksikam. (*)
Penulis : Mohammad Fathul Qorib, Reny I檛ishom, Sri Agus Sudjarwo, Ahmad Basori
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology
Berikut judul dan link artikel :
Judul : The Role of Cdk5 and TRPV1 in Meloxicam Resistance Signal
Transduction in Rat Experiencing Chronic Pain
Link artikel :





