Gangguan kognitif saat ini menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat, terutama pada populasi lansia. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 31 juta orang mengalami penurunan fungsi kognitif, dan jumlah ini berpotensi berlipat ganda pada tahun 2045. Secara global, lebih dari 65 juta orang lanjut usia menghadapi masalah serupa, dengan sebagian besar disebabkan oleh Alzheimer. Dampaknya bukan hanya pada kualitas hidup, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi yang mencapai lebih dari 1 triliun dolar per tahun bagi dunia.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti lintas universitas di Indonesia dan Malaysia mengembangkan pendekatan baru berbasis fitofarmaka. Penelitian ini berfokus pada ekstrak daun pegagan (Gotu kola/Centella asiatica) yang dienkapsulasi dengan polimer PEG-400 untuk meningkatkan daya serap dan efektivitasnya dalam melintasi blood-brain barrier (BBB). Gotu kola sendiri telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional karena kandungan triterpenoid dan fitosterolnya yang bersifat antioksidan, antiinflamasi, serta neuroprotektif.
Dalam penelitian yang dilakukan selama 16 minggu ini, berbagai formulasi nanoenkapsulasi diuji baik secara in vitro maupun in vivo menggunakan model tikus yang diinduksi gangguan kognitif. Tiga variasi rasio ekstrak dan PEG-400 (1:1, 1:100, dan 100:1) dibandingkan untuk melihat efektivitasnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi 1:100 (1 mg ekstrak : 100 mL PEG-400) memberikan hasil paling optimal. Formulasi ini menghasilkan nanopartikel berukuran 57 nm dengan bentuk bulat seragam, ukuran yang ideal untuk menembus sawar darah otak. Uji biologi menunjukkan formulasi ini mampu: (1) Menghambat 100% enzim asetilkolinesterase, sehingga kadar asetilkolin di sinaps tetap terjaga, (2) Menurunkan kadar sitokin proinflamasi TNF-伪 hingga 54,75%, yang berhubungan dengan berkurangnya neuroinflamasi, (3) Meningkatkan performa kognitif tikus pada uji T-maze, dengan penurunan waktu penyelesaian hingga 1,44 detik secara signifikan.
Dengan profil fitokimia yang kaya, termasuk kandungan 尾-sitosterol dan 纬-sitosterol sebagai senyawa utama, formulasi nano ini berpotensi besar dikembangkan sebagai terapi multi-target untuk mencegah atau memperlambat penurunan kognitif pada penyakit Alzheimer dan demensia terkait usia.
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini mendukung arah Sustainable Development Goal (SDG) 3: Good Health and Well-being, karena menghadirkan alternatif pengobatan berbasis bahan alam yang lebih aman, efektif, dan potensial untuk dikembangkan secara luas. Dengan demikian, nanoenkapsulasi ekstrak Gotu kola dalam PEG-400 bukan hanya sekadar inovasi teknologi, tetapi juga membuka peluang baru dalam strategi pencegahan dan terapi gangguan kognitif yang selama ini masih terbatas pilihan.
Penulis: Brian Limantoro, Samuel, Aqillah Nabil Naufaldy, Servatia Pradinda Renatamagani, Michail Farhan Sutami, Rachelle Xaverine Nyomanto, Nurul Inaas Mahamad Apandi, Fatma Yasmin Mahdani.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami dengan judul 淧EG-400 Nanoencapsulated Gotu Kola Leaf Extracts as an Alternative Treatment for Cognitive System Impairment: In-Vitro and In-Vivo Assays pada Tropical Journal of Natural Product Research, 2025 melalui link berikut:





