51动漫

51动漫 Official Website

Peran Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan Lansia Mengenai Xerosis Kutis

Foto by Alodokterr

Xerosis cutis adalah kondisi kulit kering yang disebabkan oleh faktor multifaktorial, seperti hilangnya atau berkurangnya kelembapan pada lapisan kulit akibat berkurangnya aktivitas kelenjar minyak dan keringat. Kulit kering dapat dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Kondisi kulit ini juga disertai dengan hilangnya fungsi pelindung kulit. Gambaran klinis xerosis cutis di antaranya adalah kulit terasa kering, kulit terasa kasar dengan sisik, kadang-kadang disertai dengan rasa gatal atau terbakar, dan menjadi lebih sensitif terhadap bahan iritan. Kondisi kulit ini juga dapat terjadi akibat penyakit sistemik atau penyakit penyerta lainnya.

Xerosis cutis saat ini masih merupakan keluhan yang paling umum terkait kondisi kulit pada populasi lanjut usia. Namun, banyak dari mereka masih belum mengetahui keluhan ini. Edukasi berperan penting dalam penatalaksanaan xerosis cutis, seperti cara mengidentifikasi dan menghindari faktor pencetus serta cara memutus siklus gatal-garuk. Berdasarkan keadaan tersebut, edukasi yang baik untuk populasi lansia diperlukan untuk penatalaksanaan dan pencegahan xerosis cutis.

Lansia dapat mencegah komplikasi xerosis kutis dengan menggunakan perawatan kulit untuk melindungi dan mencegah kerusakan kulit, termasuk menggunakan pelembab dan sabun yang sesuai. Pelembab adalah bahan yang dapat meningkatkan tingkat kelembapan kulit dan melembutkan kulit. Jenis pelembap dipilih sesuai dengan kondisi klinis atau tingkat keparahan xerosis kutis dan tingkat kerusakannya. Pelembab sebaiknya digunakan minimal dua kali sehari atau bisa digunakan lebih dari dua kali sehari apabila kulit terasa kering dan gatal.

Sabun yang dianjurkan untuk lansia yang menderita xerosis kutis adalah sabun pH netral dengan pelembab. Lansia disarankan untuk menghindari sabun dengan pH basa dan surfaktan sintetik seperti sodium lauryl sulfate (SLS). Sabun dengan pH basa dapat meningkatkan pH kulit, menyerang lapisan asam pelindung kulit dan mengubah keseimbangan flora normal kulit. Perubahan ini dapat meningkatkan risiko berkembangnya mikroorganisme pada kulit, yang akan melemahkan fungsi pelindung kulit. Saat ini telah banyak dikembangkan alternatif pembersih kulit selain sabun dan air; Produk pembersih kulit ini tidak perlu dicuci setelah digunakan sehingga dapat mengurangi kerusakan skin barrier dan menjaga keseimbangan pH kulit. Pasien juga disarankan untuk mengeringkan kulit dengan handuk atau waslap untuk menghindari kerusakan kulit.

Aspek penting lain yang perlu mendapat perhatian terkait dengan edukasi lansia dengan xerosis kutis yaitu pencegahan robekan kulit, penggunaan tabir surya dengan faktor perlindungan matahari minimal 30, mandi dengan waktu tidak lebih dari 10 menit, mandi dengan air suhu ruangan atau suhu tubuh, menghindari produk yang mengandung parfum atau pewangi, menggunakan sabun dengan pH hampir netral, dan sabun bayi dapat direkomendasikan untuk digunakan karena dapat memperbaiki kekeringan pada kulit serta sabun pelembab dengan biaya yang lebih murah.        

Pengabdian masyarakat dan penelitian yg dilakukan oleh Dept/KSM Kesehatan Kulit dan Kelamin yang bekerja sama dengan UK Restu RSUD Dr. Soetomo mengevaluasi tingkat pengetahuan lansia tentang xerosis cutis sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan. Jumlah partisipan sebanyak 71 lanjut usia yang merupakan anggota UK Restu RSUD Dr. Soetomo.

Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengavaluasi  mengevaluasi tingkat pengetahuan lansia. Kuesioner pre test dan post test pada penelitian ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah mengenai perubahan kulit pada lansia, bagian kedua mengenai faktor risiko xerosis kutin dan bagian terakhir adalah mengenai manajemen dari xerosis kutis terutama pada lansia. Pada awal pertemuan seluruh peserta akan diberikan lembar pre test yang kemudian akan dilanjutkan dengan pemberian materi edukasi xerosis kutis berupa ceramah, diskusi, sesi tanya jawab, serta pemberian buku saku dan video edukasi. Setelah pemberian materi edukasi, seluruh peserta diminta untuk mengisi kuesioner post test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan tingkat pengetahuan lansia terkait xerosis cutis. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi yang baik dan benar dapat meningkatkan pengetahuan lansia terkait xerosis kutis, dimana hingga saat ini masih menjadi permasalah kulit yang umum terjadi pada populasi lansia.

Penulis: Dr.Damayanti,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Knowledge Improvement of Xerosis Cutis through Health Education in  theElderly Damayanti, Trisiswati Indranarum, Astindari, Hasnikmah Mappamasing, Farsha Naufal Hadiwidjaja, Presstisa Gifta Axelia

AKSES CEPAT