51动漫

51动漫 Official Website

Peran Hutan, Urbanisasi, dan Inklusi Keuangan dalam Menciptakan Keberlanjutan di Kawasan BIMSTEC

Peran Hutan, Urbanisasi, dan Inklusi Keuangan dalam Menciptakan Keberlanjutan di Kawasan BIMSTEC
Sumber: Okezone

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan BIMSTEC (Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation) menghadapi tantangan dan permasalah lingkungan yang semakin serius. Dalam hal ini, ancaman seperti deforestasi, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan dampak perubahan iklim terus meningkat dan mengancam kawasan ini. Kawasan BIMSTEC ini sendiri terdiri dari negara Bangladesh, Bhutan, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand. Negara-negara tersebut bergantung pada ekosistem Teluk Bengal untuk mata pencaharian dan aktivitas ekonomi mereka. Sebuah penelitian terbaru yang berjudul Environmental health in BIMSTEC: the roles of forestry, urbanization, and financial access using LCC theory, DKSE, and quantile regression yang merupakan kolaborasi dari beberapa peneliti dari berbagai universitas di dunia termasuk Dr. Miguel Angel Esquivias Padilla, M.SE, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Pembangunan, mengkaji hubungan antara kehutanan, urbanisasi, inklusi keuangan, dan faktor daya dukung lingkungan atau Load Capacity Factor (LCF). LCF sendiri merupakan indikator keseimbangan ekologis yang mengukur sejauh mana suatu wilayah mampu menopang konsumsi sumber daya dan populasi manusia tanpa melampaui kapasitas lingkungannya. Adapun hasil yang ditawarkan pada penelitian ini adalah temuan baru yang penting bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan strategi yang efektif dalam mendukung keberlanjutan. 

BIMSTEC (Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation) adalah asosiasi yang terdiri dari tujuh anggota yaitu Bangladesh, Bhutan, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand. Tujuan utamanya adalah mendorong kerja sama dan integrasi regional di antara negara-negara anggotanya. Kawasan ini menyumbang 7% perdagangan intra regional dan 22% populasi dunia dengan pertumbuhan ekonomi sebesar $2,7 triliun. Dalam hal ini, penting untuk memperhatikan keberlanjutan lingkungan di BIMSTEC untuk menghindari berbagai ancaman kerusakan lingkungan seperti perubahan iklim yang mana apabila tidak ditangani secara serius akan membawa konsekuensi serius di masa depan. Seiring dengan urbanisasi yang pesat dan transisi ekonomi di negara-negara BIMSTEC, deforestasi, polusi, dan pengurasan sumber daya semakin intensif, yang mana hal ini secara signifikan mempengaruhi kesehatan lingkungan dan memperburuk perubahan iklim. Kawasan BIMSTEC berbatasan dengan Teluk Bengal dan telah mengalami 20 dari 23 siklon terbesar secara global selama 200 tahun terakhir.

Penelitian ini meneliti dampak hutan, urbanisasi, dan akses keuangan terhadap kualitas lingkungan dengan menekankan pentingnya kehutanan berkelanjutan untuk mengurangi degradasi lingkungan dan menyelaraskan urbanisasi serta praktik keuangan dengan tujuan keberlanjutan. Penelitian ini juga menyoroti tekanan yang dihadapi pusat-pusat perkotaan akibat tekanan pertumbuhan ekonomi di negara-negara BIMSTEC. Penelitian ini akan menggunakan LCF sebagai variabel dependen dan GDP, Forestry, Financial Inclusion, Urbanization, and Population sebagai variabel independen dengan data selama periode 2000 hingga 2022 dengan menggunakan metode ekonometrik untuk menguji hipotesis Load Capacity Curve (LCC).

Peran hutan dan urbanisasi dalam hasil penelitian menunjukkan korelasi yang positif terhadap LCF. Manajemen hutan berkelanjutan adalah komponen kunci dalam melestarikan keanekaragaman hayati dan layanan ekosistem di kawasan BIMSTEC. Hutan mencakup lebih dari 72% luas daratan dari kawasan ini yang mana memiliki peran vital dalam menyediakan sumber daya bagi masyarakat. Namun, ekstraksi yang tidak bertanggung jawab dan deforestasi dapat memperburuk dan merusak ekosistem. Oleh karena itu, investasi dalam konservasi hutan dan perluasan wilayah hijau menjadi langkah penting untuk meningkatkan LCF. Sama seperti hutan, urbanisasi dapat membawa tantangan seperti peningkatan polusi dan konsumsi sumber daya, tetapi dapat juga memberikan manfaat jika dikelola dengan baik. Dalam hal ini, kawasan perkotaan yang berteknologi hijau dan memiliki infrastruktur berkelanjutan dapat mengurangi tekanan lingkungan yang ada di kawasan BIMSTEC.

Berbeda dari hutan dan urbanisasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa inklusi keuangan berkorelasi negatif dengan LCF. Dalam hal ini, inklusi lingkungan memberikan akses yang lebih luas terhadap layanan keuangan yang mana dampak yang dihasilkan juga bervariasi. Di satu sisi, inklusi keuangan dapat mendorong investasi pada teknologi hijau dan praktik ramah lingkungan. Namun, di sisi lain, inklusi keuangan juga dapat meningkatkan emisi CO2 jika mendorong pertumbuhan sektor industri tanpa pengelolaan yang baik. Misalnya, pembangunan real estat dan konsumsi pribadi yang didorong oleh akses kredit seringkali berkontribusi pada peningkatan polusi.

Pembangunan berkelanjutan di kawasan BIMSTEC memerlukan beberapa pendekatan yang padu dan tepat. Kombinasi manajemen hutan yang berkelanjutan, urbanisasi yang terkendali, dan inklusi keuangan yang bijaksana dapat membantu kawasan ini mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Dengan mengadopsi praktik-praktik keberlanjutan ini, BIMSTEC memiliki peluang besar untuk menjadi model global dalam mengatasi tantangan lingkungan dan menciptakan masa depan yang lebih hijau.

Penulis: Dr. Wisnu Wibowo, S.E., M.Si

Link:

Baca juga:

AKSES CEPAT