Gangguan mental merupakan salah satu tantangan besar kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi gangguan mental berat meningkat dari 1,7 per mil pada tahun 2013 menjadi 7 per mil di tahun 2018. Kota Surabaya, sebagai salah satu wilayah dengan angka pasien tertinggi di Provinsi Jawa Timur, menjadi sorotan utama dalam penelitian ini. Sebuah studi yang dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, menggambarkan bagaimana determinan keluarga memainkan peran penting dalam durasi gangguan halusinasi pada pasien mental.
Faktor Penentu Durasi Halusinasi
Penelitian tersebut menyoroti bahwa durasi gangguan halusinasi dipengaruhi oleh beberapa faktor penting: usia pasien, pendamping pasien, dan usia pendamping. Secara rata-rata, pasien dengan gangguan halusinasi mengalami gejala selama lebih dari lima tahun. Menariknya, pasien berusia 26 tahun ke atas cenderung mengalami durasi gangguan yang lebih singkat dibandingkan dengan mereka yang berusia 18-25 tahun. Hal ini bisa dikaitkan dengan kematangan emosi dan kemampuan coping yang lebih baik pada kelompok usia dewasa muda.
Selain itu, peran pendamping, yang mayoritas adalah anggota keluarga dekat, juga menjadi penentu signifikan. Pasien yang diasuh oleh orang tua menunjukkan durasi gangguan yang lebih pendek dibandingkan dengan mereka yang diasuh oleh saudara atau pihak lain. Hal ini menggambarkan pentingnya hubungan emosional yang mendalam antara pasien dan pengasuh utama.
Fungsi Keluarga dan Percepatan Pemulihan
Keluarga, sebagai unit sosial terkecil, memiliki peran krusial dalam memfasilitasi pemulihan pasien dengan gangguan mental. Penelitian menunjukkan bahwa fungsi keluarga yang optimal dapat meminimalkan durasi gangguan halusinasi. Dalam konteks ini, fungsi keluarga diukur melalui berbagai aspek, seperti kemampuan berkomunikasi, dukungan emosional, serta pengelolaan konflik. Semakin baik fungsi keluarga, semakin cepat pasien dapat kembali pulih.
Studi ini juga menekankan pentingnya peran pasangan menikah sebagai pendamping pasien. Pasangan yang sudah menikah umumnya memiliki struktur tanggung jawab yang lebih jelas dalam memantau kesehatan anggota keluarga. Meski tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam durasi gangguan berdasarkan status pendamping, pendamping dengan usia lebih matang (50 tahun ke atas) cenderung memiliki pendekatan yang lebih terencana dan sabar dalam menangani pasien.
Kesenjangan Wilayah di Surabaya
Penelitian menunjukkan bahwa distribusi pasien dengan gangguan halusinasi tidak merata di Kota Surabaya. Wilayah Surabaya Utara memiliki jumlah penderita terbanyak (28%), sedangkan Surabaya Barat mencatatkan jumlah penderita paling sedikit (13%). Faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, kondisi sosial ekonomi, dan akses ke layanan kesehatan mental kemungkinan berkontribusi terhadap disparitas ini.
Stigma dan Peran Sosial Keluarga
Meskipun keluarga memainkan peran penting, stigma sosial terhadap pasien dan keluarga mereka tetap menjadi tantangan. Beberapa keluarga menganggap merawat pasien dengan gangguan mental sebagai kewajiban moral, sehingga mampu memberikan penerimaan yang lebih baik. Namun, kolaborasi antara keluarga, tenaga medis, dan komunitas menjadi kunci untuk menghilangkan stigma dan memastikan perawatan yang holistik bagi pasien.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Durasi gangguan halusinasi pada pasien di Surabaya sangat dipengaruhi oleh faktor usia, pendamping, dan fungsi keluarga. Optimalisasi fungsi keluarga dan dukungan pendampingan yang baik dapat mempercepat pemulihan pasien. Penelitian ini merekomendasikan pelibatan aktif keluarga dalam terapi, edukasi tentang gangguan mental, serta peningkatan akses ke layanan kesehatan mental.
Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menjamin perawatan menyeluruh, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan. Dengan memperkuat peran keluarga sebagai garda terdepan, kita dapat bersama-sama mewujudkan pemulihan pasien yang lebih cepat dan kehidupan yang lebih sehat.
Penulis: Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes.
Link:
Baca juga: Tantangan Kesehatan Mental yang Dihadapi oleh Perawat Asing





