Kepemimpinan keselamatan yang efektif adalah kemampuan pemimpin untuk membimbing dan memengaruhi organisasi secara protektif melalui praktik dan prinsip yang aman, yang melibatkan perilaku peduli dan pengendalian. Kinerja keselamatan diukur melalui metrik organisasi dan penilaian perilaku keselamatan individu, dengan fokus pada antisipasi dan refleksi aktif terhadap potensi kecelakaan. Di perusahaan petrokimia terkemuka di Indonesia, yang berisiko tinggi karena bahan kimia berbahaya dan mesin berat, kepemimpinan keselamatan sangat penting. Iklim keselamatan kerja, terutama bagi karyawan garis depan, memainkan peran penting dalam mengurangi kecelakaan. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan keselamatan yang efektif dan pengetahuan keselamatan mempengaruhi kinerja keselamatan melalui iklim keselamatan kerja. Kepemimpinan yang efektif dan pengetahuan keselamatan membentuk interaksi dinamis antara karyawan dan supervisor, yang mengutamakan keselamatan sebagai prioritas utama dan mengintegrasikan pengetahuan keselamatan ke dalam aktivitas sehari-hari, sehingga mempengaruhi pemahaman dan perilaku karyawan.
Dalam investigasi yang kami lakukan, ditemukan 198 responden karyawan pada salah satu perusahaan petrokimia terkemuka di Indonesia yang terdiri dari tiga pabrik operasional. Kemudian kami membuat model daripada riset ini dengan cara membangun tujuh hipotesis yaitu kepemimpinan keselamatan yang efektif terhadap Kinerja keselamatan dan Iklim keselamatan kerja (H1,H2), pengetahuan keselamatan terhadap kinerja keselamatan dan Iklim keselamatan kerja (H3,H4), iklim keselamatan kerja terhadap kinerja keselamatan (H5). Terakhir, peran mediasi iklim keselamatan kerja pada kepemimpinan keselamatan terhadap kinerja keselamatan (H5a) dan pengetahuan kesealamtan terhadap kinerja keselamatan (H5b).
Selanjutnya kami menggali teori-teori yang ada dengan basis teori social cognitive Bandura (1986), melalui basis teori tersebut kami mengadopsi penggunaan kuesioner dimana pengukurannya bersumber dari penelitian terdahulu yaitu, kepemimpinan keselamatan yang efektif diukur dengan mengacu pada penelitian Wu et al. (2008,2011), pengetahuan keselamatan diukur dengan mengacu pada penelitian Griffin and Neal (2000), Iklim keselamatan diukur dengan mengacu pada penelitian Jafari et al. (2017), kinerja keselamatan yang diukur dengan mengacu pada penelitian Wu et al. (2011). Penelitian kami menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan structural equation model (SEM) partial least square, dimana pendekatan tersebut mengakomodir secara prediktif dari model yang kami bangun.
Berdasarkan karakteristik responden karyawan pada tiga pabrik mayoritas laki-laki sebanyak 90% (n =179), sisanya perempuan sebanya 10% (n=19). Berdasarkan penempatan bagian, bagian produksi merepresentasikan jumlah responden tertinggi sebanyak 82 karyawan, sisanya departemen inspeksi teknik rotasi (n=2), departemen bengkel fabrikasi (n=9), departemen inspeksi teknik statis (n=3), departemen keselamatan & kesehatan kerja (n=11), departemen lingkungan (n=5), departemen layanan umum (n=11), departemen pemeliharaan (n=7), departemen manajemen pelabuhan (n=10), departemen pengembangan perusahaan (n=6), departemen perencanaan dan pengendalian (n=1), departemen perencanaan & manajemen energi (n=8), departemen perencanaan strategi pemeliharaan (n=7), departemen pergudangan (n=8), departemen proses & pengendalian kualitas (n=7), departemen desain dan pembangunan (n=8), departemen keandalan (n=1), departemen penelitian (n=8), departemen teknik & bisnis (n=4).
Dari hasil pengolahan data yang berasal dari responden karyawan ditemukan bahwa kepemimpinan keselamatan yang efektif berdampak pada kinerja keselamatan dan iklim keselamatan kerja (H1 dan H2 diterima), kemudian pengetahuan keselamatan berdampak pada iklim keselamatan kerja (H4 diterima), iklim keselamatan kerja berdampak pada kinerja keselamatan (H5 diterima) dan secara mediasi berdampak pada kinerja keselamatan melalui kepemimpinan keselamatan yang efektif dan pengetahuan karyawan (H5a dan H5b diterima), yang mengejutkan adalah pengetahuan karyawan tidak berdampak pada kinerja keselamatan (H3 ditolak). Riset ini memperkuat riset terdahulu dimana pentingnya kepedulian dan pengendalian terhadap keselamatan dalam analisis perilaku diungkapkan dengan memahami dan memodifikasi kondisi lingkungan yang memengaruhi dan memotivasi sikap-sikap yang terkait dengan keselamatan. Kepemimpinan keselamatan yang efektif memungkinkan partisipasi berbagai individu dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah, untuk meningkatkan komitmen mereka terhadap tindakan tertentu. Selanjutnya, iklim keselamatan kerja hadir sebagai mekanisme kontrol dan komitmen manajemen terhadap perlindungan, penegakan, dan seluruh kondisi keselamatan di tempat kerja sehingga berdampak positif pada kinerja keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan kecenderungan kecelakaan yang tinggi memberikan kondisi yang sangat baik untuk pencegahan terjadinya kecelakaan kerja, khususnya dalam perusahaan petrokimia terkemuka di Indonesia.
Kontribusi riset ini yaitu secara empiris yang terjadi, kami sepenuhnya mendukung kebijakan manajerial perusahaan petrokimia yang senantiasa terus mendukung fasilitasi daripada budaya keselamatan di tempat kerja khususnya pada industri yang memiliki tingkat potensi kecelakaan kerja yang tinggi, kemudian perusahaan harus mengedukasi para supervisor dan karyawan tentang pengetahuan kognitif terkait dengan keselamatan di tempat kerja yang lebih substansial seperti pelatihan interpersonal, self-management skills. Perushaan perlu melakukan sosialisasi aturan atau regulasi yang mengatur tentang iklim keselamatan kerja untuk meningkatkan pengetahuan karyawan tentang keselamatan di tempat kerja. Riset ini memperluas teori social kognitif dengan melihat proses interaksi antara kemampuan kognitif dan motivasi untuk memimpin, yang mempengaruhi munculnya jiwa kepemimpinan. ndividu dengan motivasi dan kemampuan kognitif yang tinggi lebih mungkin terlibat dalam kerja tim melalui keterampilan interpersonal dan manajemen diri yang efektif, yang penting untuk kepemimpinan.
Penulis: Ahmad Rizki Sridadi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Baca juga: Perilaku Inovatif di Tempat Kerja: Studi pada Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia





