Penyakit tidak menular merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, dan prevalensinya terus meningkat. Pendekatan yang paling efektif untuk mengendalikan atau mencegah penyakit tidak menular adalah melalui perubahan pola makan dan gaya hidup (Organisasi Kesehatan Dunia, 2024). Nutrisi dapat berinteraksi dengan mekanisme molekuler dan memodulasi fungsi fisiologis dalam tubuh. Namun demikian, variabilitas genetik di antara individu menyebabkan orang bereaksi secara biokimia berbeda terhadap nutrisi yang sama yang dikonsumsi melalui makanan atau suplemen. Profesional perawatan kesehatan, khususnya ahli gizi dan ahli diet, secara tradisional berfokus pada rencana makan sebagai tindakan pencegahan terhadap berbagai jenis penyakit. Namun, banyak dari rencana makan ini tidak memperhitungkan variasi perbedaan antar individu yang ditentukan secara genetik dalam metabolisme makanan, sehingga menghambat efektivitasnya (Ahluwalia, 2021). Mengingat adanya interaksi nutrisi-gen, saran diet tidak boleh didasarkan pada pendekatan “satu ukuran untuk semua”, seperti piramida makanan. Bukti yang muncul menunjukkan bahwa pendekatan “satu ukuran untuk semua” terhadap rencana makan tidak efektif dalam mengatasi masalah yang terkait dengan penyakit tidak menular yang terkait dengan diet yang berlebihan atau tidak tepat, yang menimbulkan beban kesehatan masyarakat yang sangat besar (Ahluwalia, 2021). Nutrisi yang dipersonalisasi semakin mendapat perhatian dalam pengaturan klinis, di mana para profesional perawatan kesehatan menggunakan pengujian genetik dan pendekatan personal lainnya untuk mengelola penyakit kronis dan meningkatkan hasil pasien (Park et al., 2024).
Nutrigénomika berfungsi sebagai prinsip utama untuk mengembangkan strategi nutrisi yang dipersonalisasi yang ditujukan untuk manajemen dan pencegahan penyakit (Aruoma et al., 2019). Ini adalah bidang yang menggunakan genomik dalam nutrisi untuk memeriksa bagaimana nutrisi memengaruhi ekspresi gen. Ini juga menjelaskan pembentukan penyakit terkait diet melalui pengaruh nutrisi melalui jalur metabolisme (Aruoma et al., 2019). Selain itu, pengujian nutrigenomik personal (PNT) menawarkan wawasan kepada individu tentang risiko mereka mengembangkan penyakit atau kondisi terkait nutrisi tertentu berdasarkan susunan genetik mereka (Horne et al., 2016). sampel Penelitian cross-sectional ini dilakukan mulai 3 April 2023 hingga 31 Juli 2023 menggunakan Google Form daring yang diisi sendiri melalui teknik pengambilan sampel yang mudah. Ukuran sampel dihitung menggunakan rumus proporsi populasi tunggal [n = Z2 p(1 “ p)/d2 ], dengan asumsi interval kepercayaan 95% (Z) dan margin kesalahan 5% (d) (Teh et al., 2023). Karena belum ada penelitian sebelumnya tentang topik penelitian saat ini yang dilakukan di Malaysia, proporsi populasi 50% (p) digunakan Ukuran sampel minimum yang dibutuhkan adalah 384; namun, total 423 sampel yang memenuhi kriteria sebagai mahasiswa penuh waktu di bidang ilmu kesehatan Malaysia dan mengidentifikasi diri sebagai mahasiswa yang memahami genetika dasar atau nutrigenomik direkrut selama periode pengumpulan data. Hasil penelitian ini adalah terdapat Perbedaan sosiodemografi dalam pengetahuan genetik, sikap dan persepsi terhadap nutrigenomik Perbedaan sosiodemografi dalam pengetahuan genetik, serta sikap dan persepsi terhadap nutrigenomik, ditunjukkan pada Tabel 2. Mahasiswa yang mempelajari dietetika (13,79 ± 2,67) dan ilmu biomedis (13,76 ± 2,98) menunjukkan pengetahuan genetik yang secara signifikan lebih tinggi (p < 0,05) dibandingkan dengan mereka yang mempelajari pengobatan Tiongkok (11,36 ± 3,03). Sementara itu, mahasiswa di tahun kedua (14,05 ± 2,68) dan tahun ketiga (14,48 ± 2,26) menunjukkan pengetahuan genetik yang secara signifikan lebih besar (p < 0,05) daripada mahasiswa tahun pertama (12,61 ± 2,93). Sebaliknya, mahasiswa tahun kelima (10,80 ± 3,52) menunjukkan tingkat pengetahuan genetika yang jauh lebih rendah (p < 0,05) dibandingkan dengan mereka yang berada di tahun kedua, ketiga, dan keempat masa studi. Pengetahuan genetika dan persepsi terhadap nutrigenomik mahasiswa yang pernah mendengar tentang nutrigenomik di masa lalu secara signifikan lebih besar (p < 0,05) dibandingkan mereka yang tidak pernah mendengar tentang nutrigenomik.
Penulis: Dr. Hariyono, M. Kep Dosen Sekolah Pascasarjana Unair
Artikel lebih lengkap dapat di akses melalui link





