Infeksi jamur superfisialis merupakan salah satu penyakit kulit dengan indisensi yang tinggi di dunia. Infeksi ini disebabkan oleh beberapa jenis jamur yang mampu menginfeksi beberapa bagian tubuh manusia. Penyebab penyakit ini sebagian besar tumbuh di lingkungan yang hangat dan lembab. Peningkatan prevalensi infeksi dermatofit didapatkan pada beberapa tahun terakhir di seluruh dunia, terutama di daerah tropis.
Diagnosis dermatomikosis ditegakkan secara klinis, dan ditunjang oleh beberapa pemeriksaan, seperti pemeriksaan mikroskopis, kultur, dan pemeriksaan dengan lampu Wood pada spesies tertentu. Pemeriksaan kultur bertujuan untuk mengidentifikasi spesies jamur, sedangkan pemeriksaan dengan kalium hidroksida (KOH) 10-20% bertujuan untuk menemukan spesies dermatofit yang memiliki septa dan percabangan hifa. Kecukupan sampel, kesesuaian alat yang digunakan untuk pengumpulan sampel, serta keahlian tenaga kesehatan untuk menentukan sensitivitas dan spesifisitas diagnosis dermatomikosis superfisialis.
Oleh karena infeksi jamur superfisialis masih menjadi penyakit kulit tersering di negara tropis dan membutuhkan penegakan diagnosis yang cepat, maka diperlukan banyak tenaga ahli dalam melakukan pemeriksaan KOH. Peningkatan kemampuan tenaga medis dalam penegakan diagnosis dan terapi dapat secara langsung meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis adalah dengan mengadakan pelatihan.
Pengabdian masyarakat dan penelitian yang dilakukan oleh Dept/KSM Kesehatan Kulit dan Kelamin yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro mengevaluasi tingkat pengetahuan tenaga medis tentang pemeriksaan laboratorium penunjang diagnosis dermatomikosis superfisialis. Partisipan terdiri dari dokter umum dan analis medis dari seluruh Puskesmas di Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah partisipan sebanyak 70 orang, meliputi 35 analis medis dan 35 dokter umum.
Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan dokter umum dan analis medis. Kuesioner pre test dan post test pada penelitian ini dibagi menjadi 2 bagian. Pada awal pertemuan seluruh peserta akan diberikan lembar pre test yang kemudian akan dilanjutkan dengan pemberian materi mengenai dermatomikosis superfisialis, cara pemeriksaan KOH, Gram dan kultur jamur melalui ceramah, diskusi, sesi tanya jawab, serta pemberian buku saku dan video.
Selanjutnya, partisipan mengikuti live demo dan pelatihan hands-on oleh para narasumber sehingga para partisipan dapat melakukan diskusi dan praktik langsung mengenai cara pemeriksaan KOH, Gram, dan kultur jamur. Setelah pemberian materi, seluruh peserta diminta untuk mengisi kuesioner post test.
Tidak hanya itu, penilaian selanjutnya dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu diberikan kuisioner pre test dan post test pengulangan pada hari ke-30 setelah pelaksanaan pelatihan hari pertama dengan tujuan untuk mengevaluasi lebih lanjut tingkat pengetahuan dokter umum dan analis medis.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada dokter umum dan analis medik setelah diberikan pelatihan pemeriksaann. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pelatihan pemeriksaan laboratorium penunjang dermatomikosis superfisialis dapat meningkatkan pengetahuan dokter umum dan analis medik sehingga diharapkan tingkat akurasi penegakkan diagnosis kasus dermatomikosis superfisialis meningkat.
Penulis: Evy Ervianti,dr.,Sp.DVE,Subsp.DT
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





