Dermatitis atopi merupakan salah satu penyakit alergi dengan kondisi serius dan dapat mengganggu kualitas hidup individu penderitanya. Riwayat atopi pasien maupun keluarganya seperti riwayat asma dan rhinitis alergi umumnya berkaitan dengan timbulnya dermatitis atopi. Usia awitan tersering untuk dermatitis atopi adalah usia tiga sampai enam bulan. Pasien mengalami perkembangan penyakit pada tahun pertama kehidupan hingga usia lima tahun. Studi epidemiologis telah menunjukkan bahwa kelompok usia yang paling banyak mengalami dermatitits atopi adalah mereka yang berusia 15 hingga 24 tahun.
Penyakit ini sering dikaitkan dengan gangguan fungsi sawar kulit, sensitisasi alergen, dan infeksi kulit berulang. Keluhan utama pada pasien dermatitis atopi yang datang ke poliklinik adalah gatal berulang, kulit kering, dan kemerahan. Dermatitis atopi menyebabkan gatal dan garukan kronis, yang dapat berdampak pada psikososial dan kualitas hidup pasien. Penurunan kualitas hidup telah dikaitkan dengan kurang tidur dan gejala depresi serta kemungkinan adanya efek pengobatan dermatitis atopi. Kekurangan tidur yang kronis pada pasien dermatitis atopi berkontribusi terhadap kelelahan emosional dan fisik yang berdampak negatif pada kepekaan sosial serta hubungan sosial yang ada.
Beberapa pendekatan terapi dermatitis atopi telah ditetapkan, seperti meningkatkan hidrasi kulit, penggunaan pelembab, penghindaran alergen pencetus, dan penggunaan antihistamin atau kortikosteroid selama fase eksaserbasi. Sejumlah besar informasi telah dirilis mengenai penggunaan probiotik pada dermatitis atopi seperti Lactobacillus plantarum, Lactobacillus salivarius dan Bifidobacterium breve, namun hasil yang dilaporkan beragam, terutama pada populasi orang dewasa. Probiotik banyak digunakan sebagai terapi penunjang untuk kasus alergi dengan hasil yang tidak konsisten karena mekanisme alergi multifaktorial.
Terdapat banyak bukti bahwa mikrobioma usus memiliki peran penting dalam perbaikan peradangan dan penyakit sistemik. Sifat dari mikrobioma usus secara alami bervariasi antar individu, namun terdapat fluktuasi yang disebabkan oleh berbagai faktor luar dan dalam. Faktor-faktor yang mengganggu keseimbangan mikrobioma akan menyebabkan bakteri seperti Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterococcus faecalis mendominasi saluran pencernaan dan menyebabkan penyakit. Mikrobioma menjadi target pengobatan yang memungkinkan dan memodulasinya menggunakan probiotik adalah salah satu cara.
Probiotik telah diketahui memiliki efek yang dapat mempengaruhi sistem imun (imunomodulator), meningkatkan fungsi sawar usus, dan mengurangi reaksi inflamasi pada penyakit alergi seperti dermatitis atopi. Probiotik juga mengembalikan fungsi sawar mukosa di usus dan mendegradasi zat berbahaya dari makanan sehingga membantu dalam menurunkan laju proliferasi penyakit. Probiotik berperan meningkatkan permeabilitas usus pada pasien dermatitis atopi, hal ini dapat dilihat pada pemulihan fungsi pelindung usus. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa terjadi penghambatan masuknya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit setelah pengobatan probiotik pada pasien dermatitis atopi. Penelitian juga menyatakan bahwa kombinasi probiotik sangat mempengaruhi aktivitas imunomodulator dan meningkatkan fungsi sawar usus.
Suplementasi probiotik ditemukan dapat mengurangi manifestasi klinis dermatitis atopi dan secara klinis dapat memperbaiki derajat keparahan dermatitis atopi pada orang dewasa. Tidak hanya pada pasien dewasa, penggunaan probiotik juga terbukti meningkatkan kualitias hidup pada anak-anak dengan dermatitis atopi. Mempertimbangkan banyaknya efek menguntungkan dari probiotik, rute pemberian yang sederhana, dan efek sampingnya yang rendah, sebaiknya dilakukan penelitan di masa yang akan datang mengenai efek perawatan ini pada alergi lain seperti alergi makanan, asma, dan rhinitis alergi.
Walaupun keamanan yang sangat baik telah dipastikan dan terjadi peningkatan pesat dalam penggunaan probiotik, namun data keamanan jangka panjang masih terbatas. Laporan mengatakan adanya kaitan antara probiotik dan infeksi serta efek samping yang lebih berat pada individu dengan gangguan kekebalan tubuh. Dibutuhkan penelitian dan studi epidemiologi yang lebih banyak untuk mikrobioma sebagai faktor resiko dan dalam pengobatan penyakit.
Penulis: Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari tulisan ini dapat dilihat pada artikel kami di :
The role of probiotics in the treatment of adult atopic dermatitis: a meta-analysis of randomized controlled trials
Menul Ayu Umborowati, Damayanti, Sylvia Anggraeni, Anang Endaryanto, Ingrid S. Surono, Isaak Effendy, Cita Rosita Sigit Prakoeswa





