Penelitian ini membahas upaya untuk mengembangkan bahan alternatif periosteum dari jaringan hewan (sapi) sebagai kandidat osteokonduktor dalam regenerasi tulang maksilofasial. Artikel ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia medis modern, khususnya dalam bidang rekonstruksi tulang wajah, yang sering dihadapkan pada keterbatasan jaringan donor autologus serta risiko penolakan imun pada prosedur grafting.
Fokus utama penelitian ini adalah membandingkan karakteristik antigenik antara dua jenis jaringan : periosteum sapi asli dan periosteum sapi yang telah melalui proses deselularisasi serta pembekuan-kering. Proses deselularisasi bertujuan untuk menghilangkan komponen seluler yang bersifat antigenik, sehingga jaringan tersebut dapat digunakan sebagai scaffold tanpa menimbulkan reaksi imun yang merugikan. Metode yang digunakan mencakup pembekuan pada suhu rendah, perendaman dalam deterjen SDS, serta pembilasan intensif untuk menghilangkan sisa bahan kimia. Evaluasi dilakukan melalui pemeriksaan histologi (HE staining) dan pengukuran kadar DNA dengan nanodrop.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun proses deselularisasi berhasil mengurangi jumlah sisa sel, kadar DNA pada jaringan yang telah diolah masih berada di atas ambang batas yang dianggap aman untuk aplikasi klinis. Hal ini menandakan bahwa jaringan tersebut masih berpotensi menimbulkan respon imun jika ditanamkan pada tubuh manusia. Secara statistik, terdapat perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dalam hal jumlah sel residu dan kadar DNA, yang menguatkan temuan bahwa metode deselularisasi saat ini belum cukup efektif untuk menghilangkan sifat antigenik sepenuhnya.
Dari sisi kekuatan, artikel ini menonjolkan metodologi yang sistematis dan pendekatan laboratorium yang sesuai standar, mulai dari teknik pengambilan sampel, perlakuan bahan, hingga analisis statistik. Penulis juga merujuk pada literatur dan studi terdahulu untuk memperkuat latar belakang dan pembahasan hasil, menjadikan artikel ini kredibel secara akademik.
Namun demikian, artikel ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, belum ada pengujian in vivo atau uji fungsional lanjutan yang dapat menilai langsung reaksi biologis tubuh terhadap jaringan hasil olahan tersebut. Kedua, penulis belum mengeksplorasi pendekatan tambahan seperti penggunaan enzim DNase atau teknik alternatif yang mungkin lebih efektif dalam mengurangi residu DNA. Selain itu, aplikasi praktis bahan ini dalam konteks klinis juga belum dibahas secara rinci.
Secara keseluruhan, artikel ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan bahan biomaterial berbasis hewan dalam dunia kedokteran regeneratif, khususnya untuk kebutuhan rekonstruksi tulang wajah. Temuan ini menegaskan bahwa decellularized freeze-dried bovine periosteum memiliki potensi besar, tetapi masih memerlukan penyempurnaan dari sisi keamanan biologis. Penelitian lanjutan dengan teknik decellularisasi yang lebih mutakhir dan uji in vivo sangat disarankan sebelum bahan ini dapat digunakan dalam praktik klinis secara luas.
Penulis: Prof. R.M. Coen Pramono D, drg., SU., Sp.BMM., Subsp.Ortognat-D (K)., FICS.
Sumber : Ita Musta檌nah, Indra Mulyawan, RM Coen Pramono Danudiningrat : Comparison of Antigenic Characteristics of Decellularized Freeze-Dried Bovine Periosteum as Osteoconductor Candidate for Bone Regeneration; Journal of International Dental and Medical Research 2025; 18(1): 161-165.





