Sepsis merupakan kondisi medis yang sangat berbahaya, ditandai dengan disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respons imun yang tidak terkendali terhadap infeksi. Setiap tahun, sepsis menyebabkan sekitar 11 juta kematian di seluruh dunia, sehingga deteksi dini komplikasi dan optimalisasi terapi menjadi krusial dalam praktik ICU. Salah satu komplikasi yang sering muncul adalah sepsis-associated acute kidney injury (SA-AKI), yang meningkatkan morbiditas, mortalitas, beban pembiayaan kesehatan, serta memperburuk prognosis pasien. Namun demikian, diagnosis SA-AKI masih banyak bergantung pada kriteria umum (kreatinin dan produksi urin), yang pada sebagian kasus baru berubah setelah cedera ginjal berlangsung. Berbagai biomarker telah dikembangkan untuk membantu mendeteksi dan memprediksi SA-AKI lebih awal, di antaranya kidney injury molecule-1 (KIM-1), proenkefalin, dan presepsin. Karena itu, penelitian yang membandingkan ketiga biomarker ini secara langsung mungki dapat memberikan gambaran realistis tentang nilai tambah biomarker dalam praktik klinis sehari-hari.
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan kohort di ruang perawatan intensif RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada periode Januari“Juni 2024. Sampel diambil melalui consecutive sampling dengan total 59 pasien sepsis yang memenuhi kriteria, namun 3 pasien dikeluarkan karena data tidak lengkap sehingga jumlah sampel valid menjadi 56 orang. Kriteria inklusi meliputi pasien sepsis usia >18 tahun yang memenuhi kriteria Surviving Sepsis Campaign 2021 (SOFA ≥2, NEWS ≥8, atau MEWS ≥3) disertai persetujuan keluarga. Pada setiap pasien, biomarker diukur pada hari pertama (H1), ketiga (H3), dan ketujuh (H7) menggunakan metode ELISA, dengan KIM-1 dari urin serta proenkefalin dan presepsin dari serum. Keparahan AKI dinilai menggunakan KDIGO (Grade 1“3), sedangkan akurasi biomarker dianalisis menggunakan ROC untuk mendapatkan AUC, sensitivitas, spesifisitas, dan ukuran akurasi pada tiap waktu pengukuran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengukuran hari pertama, kadar KIM-1 sebesar 1,80 ± 0,70 ng/mL, proenkefalin 534,98 ± 640,72 ng/L, dan presepsin 578,95 ± 1601 ng/L. Untuk diagnosis SA-AKI, nilai AUC uKIM-1 mencapai puncak pada hari ketiga (AUC 0,628; sensitivitas 66,7%; spesifisitas 57,9%), namun tidak signifikan secara statistik (p=0,154). Pada hari ketujuh, proenkefalin dan presepsin masing-masing menunjukkan AUC 0,600 dengan sensitivitas/spesifisitas yang bervariasi, tetapi tetap tidak signifikan (p>0,05). Untuk prediksi keparahan AKI, tidak ada biomarker yang menunjukkan kinerja yang menonjol sepanjang waktu pengamatan; pada hari ketujuh, ketiganya tidak dapat digunakan untuk memprediksi keparahan AKI secara akurat karena AUC rendah dan nilai p tidak signifikan.
Berdasarkan penelitian ini, KIM-1, proenkefalin, dan presepsin tidak terbukti cukup akurat untuk dijadikan prediktor tunggal diagnosis maupun keparahan SA-AKI pada pasien sepsis. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan ukuran sampel lebih besar dan metodologi yang lebih kuat masih diperlukan sebelum biomarker ini diadopsi luas dalam praktik rutin. Meski demikian, penelitian ini tetap bernilai bagi klinisi dan rumah sakit karena mencegah penggunaan biomarker secara prematur sebagai penentu keputusan tunggal. Temuan ini juga menegaskan bahwa SA-AKI bersifat heterogen dan dinamis, sehingga biomarker sebaiknya diposisikan sebagai pelengkap penilaian komprehensif.
Pada level sistem, biomarker dapat dipertimbangkan sebagai alat tambahan untuk riset atau stratifikasi risiko, tetapi tetap perlu dikombinasikan dengan evaluasi klinis dan parameter standar agar keputusan terapi aman dan berbasis bukti.
Take-home message untuk klinisi ICUyaitu pada pasien sepsis, prioritaskan deteksi dan tata laksana SA-AKI berbasis evaluasi klinis dan kriteria AKI standar; biomarker (bila tersedia) sebaiknya digunakan sebagai informasi tambahan, bukan pengganti penilaian klinis. Hasil studi ini menunjukkan bahwa KIM-1, proenkefalin, dan presepsin dalam skema pengukuran H1“H3“H7 belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis atau menentukan derajat SA-AKI secara mandiri.
Penulis: Dr. Bambang Pujo Semedi, dr., SpAn-TI., Subsp. TI(K)., Subsp. An. Ped(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Puspitasari S, Semedi BP, Rehatta NM, Maulydia, Purnomo W. Comparison of kidney injury molecule-1, proenkephalin and presepsin as predictors of diagnostics and severity of sepsis associated acute kidney injury. Edelweiss Applied Science and Technology. 2025;9(2):331“42.





