Penyu merupakan hewan reptil langka yang telah masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Populasi penyu cenderung terus menurun akibat kegagalan penetasan alami. Perubahan kelembaban, pH, jenis pasir, kelembaban, keberadaan bakteri, serangga, jamur, dan predasi ditengarai menjadi alasan tidak optimalnya penetasan dalam menambah populasi tukik. Tak hanya itu, morfologi telur penyu berstruktur lunak dan berpori yang berfungsi sebagai tempat penukaran udara maupun gas berpotensi menjadi jalur kontaminasi mikroba.
Keberadaan bakteri pada pasir sarang penetasan juga mencadi ancaman mematikan bagi telur penyu. Berdasarkan hal tersebut, peneliti melakukan riset dengan membandingkan jumlah kontaminasi bakteri pada sarang penyu alami dan semi alami di Pantai Boom, Banyuwangi. Penelitian ini akan membantu meningkatkan keberhasilan penetasan dalam upaya konservasi penyu di Pantai Boom, Banyuwangi yang dilakukan dengan konsep kolaborasi antara Peneliti Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR bersama Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF).
Peneliti mengambil 25 gram sampel pasir dari tempat penetasan alami dan semi alami. Tempat tersebut memiliki luas permukaan 50脳50 cm dengan kedalaman 60 cm yang telah diukur menggunakan menggunakan roll meter. Dalam memastikan kepadatan pasir dimampatkan menggunakan sekop. Tiap sampel pasir tersebut dimasukkan kedalam 225 ml Buffered Peptone Water (BPW) yang dihomogenisasi menggunakan vortex. Lalu dilakukan pengenceran 1 ml dilusi kedalam 9 ml BBW dari 10-1 hingga 10-6. 2 ml dari pengenceran 10-6 tersebut diinokulasi ke dalam nutrient agar menggunakan metode spread yang diinkubasi selama 24 jam.
Hasil pengecekan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) menunjukkan total 2.975.000 (2,9 x 10鈦) koloni bakteri terdeteksi dari sarang penetasan alami. Sedangkan dalam sarang semi alami terdapat total 2.360.000 (2,3 x 10鈦) koloni bakteri. Dari hasil tersebut, terdapat perbedaan 615.000 bakteri antara sarang alami dan sarang seri alami. Oleh karena itu sarang semi alami harus mendapatkan perawatan berkala berupa penggantian pasir di setiap musim penyu bertelur.
Sterilisasi atau pemanasan pasir juga dapat dilakukan untuk mengurangi kontaminasi bakteri dalam pasir yang akan digunakan. Upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan hasil penetasan dan mendukung upaya konservasi secara maksimal. Tujuan utamanya adalah membuat populasi tukik semakin meningkat dan dapat bereproduksi secara alami ketika sudah menjadi penyu dewasa di lautan.
Penulis Korespondensi: Ratih Novita Praja, drh., M.Si.
Artikel selengkapnya dapat dilihat di:
Praja, R.N., Yudhana, A., Haditanojo, W., Handijatno, D., Purnama, M.T.E., Maslamama, S.T., Insani, A.K., Prasetyo, D.R., Prameswari, N.P., Praja., S.S. (2024). Comparison of Bacterial Contamination in Sea Turtle Natural and Semi-natural Hatching Nest at Boom Beach Banyuwangi. The Indian Veterinary Journal, 101(4), 7-11.





