51动漫

51动漫 Official Website

Perbedaan Daya Antibacteri Ekstrak Biji Pepaya dibanding Daun Pepaya terhadap Streptococcus Mutans

Perbedaan Daya Antibacteri Ekstrak Biji Pepaya dibanding Daun Pepaya terhadap Streptococcus mutans
Sumber: Kompas Lifestyle

Karies merupakan kelainan pada jaringan keras gigi (enamel, dentin, dan sementum) akibat proses demineralisasi. Karies merupakan masalah kesehatan di Indonesia dengan angka kejadian yang sangat tinggi. Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kementerian Kesehatan tahun 2018, menunjukkan prevalensi karies gigi di Indonesia sebesar 88,8% dan karies akar gigi sebesar 56,6%. Berdasarkan sebaran karies menurut umur, kejadian karies gigi tertinggi terdapat pada kelompok umur 55-64 tahun sebesar 96,8%, sedangkan kejadian karies akar tertinggi terdapat pada rentang umur 35-44 tahun sebesar 75,6%.

Karies gigi merupakan kelainan multifaktorial. Setidaknya faktor etiologi penyebab karies dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu host (inang), mikroorganisme, substrat, dan waktu. Hal ini berkaitan erat satu sama lain dalam proses terjadinya karies, tanpa salah satu faktor tersebut karies tidak akan terjadi. Faktor host meliputi bentuk anatomi gigi (pit dan fissure) serta kepadatan dan ketebalan email. Pada gigi yang mempunyai bentuk anatomi pit dan fisura yang dalam dapat mengakibatkan penumpukan sisa-sisa makanan dan sulit dibersihkan oleh sikat gigi karena sulit menjangkau kedalaman pit dan fisura. Selain itu, pada gigi sulung dan permanen terdapat perbedaan kepadatan dan ketebalan email. Gigi sulung memiliki enamel yang lebih tipis dan kepadatan yang lebih rendah dibandingkan gigi permanen, sehingga meningkatkan risiko terjadinya karies pada gigi sulung.

Faktor host lain yang dapat mempengaruhi terjadinya karies adalah saliva. Saliva mempunyai peranan sebagai buffer dan antibakteri pada rongga mulut. Buffer saliva bertugas menyeimbangkan pH dalam rongga mulut sehingga mencegah demineralisasi akibat lingkungan asam dalam rongga mulut. Aktivitas antibakteri pada saliva bekerja dengan cara membunuh bakteri yang ada di rongga mulut, sehingga mencegah terjadinya infeksi oportunistik seperti karies yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans (S.mutans), yang merupakan mikroorganisme yang berperan penting dalam terjadinya karies. S. mutans bersifat kariogenik. Bakteri tersebut menempel pada permukaan gigi dan kemudian melakukan metabolisme untuk mengubah glukosa menjadi ATP dan asam laktat. Asam laktat menyebabkan demineralisasi secara bertahap hingga membentuk lesi karies. S. mutans juga mempunyai faktor virulensi terhadap karies yaitu adesin. Adesin berperan penting dalam menempelnya bakteri pada permukaan gigi. Tanpa menempelnya bakteri pada permukaan gigi, karies tidak akan terjadi.

Selain itu, S. mutans mempunyai faktor virulensi yaitu mampu bertahan pada lingkungan asam. Kemampuan bertahan hidup pada lingkungan asam menjadikan S. mutans sangat adaptif terhadap kondisi di dalam rongga mulut. Virulensi lain dari S.mutans adalah kemampuannya membentuk struktur hidrofobik ekstraseluler polisakarida sehingga mampu bertahan dalam berbagai sistem pertahanan di dalam mulut. rongga mulut. Substrat adalah makanan yang mengandung monosakarida seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Glukosa merupakan bahan utama metabolisme bakteri S. mutans untuk menghasilkan ATP dan membentuk matriks biofilm ekstraseluler polisakarida (EPS). Matriks EPS berperan penting dalam proses kolonisasi bakteri di rongga mulut. Selain itu, hasil metabolisme substrat glukosa adalah asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan akan menyebabkan penurunan pH rongga mulut yang berakibat pada demineralisasi gigi. Tindakan yang biasa dilakukan untuk mengatasi karies adalah dengan merestorasi gigi dengan menggunakan bahan tambal gigi. Tindakan restorasi gigi memberikan dampak positif berupa pemulihan fungsi gigi serta menghilangkan dan mencegah perkembangan karies lebih lanjut, namun demikian, penambalan karies gigi mempunyai kelemahan yaitu dapat terjadi karies sekunder. Menurut Sritomo, karies sekunder dapat terjadi bila tepi restorasi/restorasi mengalami kebocoran (microleakage).

Selain tindakan restorasi gigi, upaya penanggulangan yang juga perlu dilakukan adalah tindakan preventif. Salah satu upaya pencegahan karies adalah penggunaan pasta gigi dengan bahan antibakteri berupa triclosan dan chlorexidine. Penggunaan triclosan dapat menimbulkan risiko timbulnya resistensi bakteri. Kloreksidin dapat menyebabkan perubahan rasa pada lidah, perubahan warna gigi, dan iritasi pada mukosa. Berdasarkan hal tersebut, peneliti melakukan penelitian alternatif bahan antimikroba selain triclosan untuk mengatasi resistensi bakteri, dengan menggunakan bahan alami yang berpotensi sebagai zat antibakteri, yaitu biji dan daun pepaya.

Di Indonesia terdapat berbagai varietas pepaya yang dibudidayakan, namun yang paling umum adalah pepaya California dan pepaya Bangkok. Pepaya California memiliki daun yang besar, lebat, dan biji buah yang cukup banyak jika dibandingkan dengan varietas lainnya. Tanaman pepaya telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan tradisional. Akar tanaman pepaya berkhasiat untuk mengobati penyakit ginjal dan kandung kemih, sedangkan daun dan biji pepaya berkhasiat untuk diare, dan buah pepaya untuk sembelit. Biji pepaya dapat membunuh bakteri Salmonella typhimurium penyebab diare, sedangkan ekstrak daun pepaya dapat membunuh bakteri disentri Shigella dan Escheria coli sehingga mampu mengatasi patogen penyebab penyakit diare. Penelitian mengenai kemampuan ekstrak biji dan daun pepaya juga telah dilakukan terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis penyebab radang gusi pada rongga mulut, hasilnya menunjukkan bahwa Ekstrak biji pepaya juga terbukti mampu menghambat Porphyromonas gingivalis, bakteri penyebab radang gusi pada rongga mulut

Biji pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin. , saponin, dan fenol yang dapat menghambat pertumbuhan sekaligus membunuh bakteri. Sedangkan daun pepaya mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan fenol yang mempunyai sifat antimikroba sehingga dapat membunuh bakteri. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun papaya mengandung flavonoid (6,10%), alkaloid (3,97%), saponin (4,95%), phenol (6,52%) and tannin (3,28%); sedangkan ekstrak biji papaya mengandung flavonoid (3,05%), alkaloid (4,18%), saponin (2,98%), phenol (3,10%), and tannin (2,90%). Ekstrak daun papaya memiliki daya antibakteri terhadap S. mutans yang lebih tinggi dibanding ekstrak biji papaya, hal ini oleh karena kandungan flavonoids, saponin, fenol dan tannin yang lebih tinggi dibanding ekstrak biji papaya. Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum ekstrak daun papaya terhadap S. mutans masing-masing pada konsentrasi 10% dan 20%, sedangkan Konsentrasi Hambat Minimum dan Konsentrasi Bunuh Minimum ekstrak biji papaya terhadap S. mutans masing-masing pada konsentrasi 20% dan 40%.                

Penulis : Anis Irmawati

Departemen Biologi Oral, Fakultas Kedokteran Gigi, 51动漫, Surabaya, Indonesia

Artikel ini dapat diakses secara lengkap pada :

Research Journal of Pharmacy and Technology (RJPT), vol.17, Issue 9, September 2024.

ISSN : 0974-3618 (Print), 0974-360X (Online).

Tersedia di https://

DOI: 10.52711/0974-360X.2024.00673

Baca juga: Potensi Tanpa Batas Kandungan Kunyit, Kedelai dan Sage Merah

AKSES CEPAT