51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Penerapan Sistem Farmakovigilans dalam Mendeteksi Adverse-Drug Reactions untuk Mengoptimalkan Medication Safety pada Pasien Lansia

Penerapan Sistem Farmakovigilans dalam Mendeteksi Adverse-Drug Reactions untuk Mengoptimalkan Medication Safety pada Pasien Lansia
Sumber: Alomedika

Meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut menyebabkan meningkatnya kejadian reaksi obat yang tidak diharapkan (Adverse Drug Reactions) akibat berbagai obat yang diresepkan, sehingga memicu terjadinya masalah mengenai interaksi obat. Sebesar 86% prevalensi pasien lanjut usia yang dirawat di rumah sakit karena reaksi obat yang tidak diharapkan yang berkaitan dengan polifarmasi, dengan dugaan 46% terjadi akibat interaksi antar obat. Kejadian yang tidak diharapkan di rumah sakit tentu berkontribusi pada peningkatan lamanya waktu rawat inap dan biaya perawatan yang besar.

Dalam farmakovigilans, menilai kausalitas kejadian tidak diharapkan membantu memahami risiko dan manfaat penggunaan obat dan berfungsi sebagai sistem peringatan dini untuk mendetksi adanya kejadian tidak diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem farmakovigilans untuk mendeteksi kejadian obat yang merugikan (Adverse Drug Events), kemungkinan ketidaktepatan pengobatan (Potentially Inappropriate Medications), dan kemungkinan kelalaian dalam peresepan (Potential Prescriptions Omissions). Penelitian ini dilakukan dari Mei hingga Juni 2023 di salah satu rumah sakit umum terbesar di Kalimantan Selatan, Indonesia.

Penelitian melibatkan pasien usia 60 tahun ke atas yang dirawat di rumah sakit karena penyakit degenerative non-darurat, menerima polifarmasi, dan menjalani rawat inap selama lebih dari 48 jam. Dalam penelitian ini, apoteker dan dokter berkolaborasi meninjau rekam medis pasien menggunakan Pharmacovigilans System (PoSt) yang digunakan untuk mendeteksi ADE dan mengoptimalkan ketepatan pengobatan pada pasien lansia berdasakan kriteria TRIGGER-CHON dan STOPP/START versi 2.

Dalam menggunakan PoSt, 163 penyebab diidentifikasi dari 144 rekam medis yang mengarah pada 28 Adverse Drug Events yang disebabkan oleh setidaknya satu obat yang perlu diwaspadai. Pada kriteria STOPP/START ditemukan sebanyak 62 kemungkinan ketidaktepatan obat dan 41 kelalaian dalam peresepan obat.

Menggunakan instrument STOPP/START atau Beer™s Criteria dalam rekonsiliasi pengobatan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan ketidaktepatan obat pada pasien lanjut usia dan mencegah terjadinya reaksi obat yang merugikan. Sistem farmakovigilans dapat mengurangi frekuensi kejadian yang tidak diharapkan yang disebabkan oleh obat yang digunakan oleh pasien lanjut usia.

Penulis: Elida Zairina, S.Si., M.P.H., Apt., Ph.D.

Artikel selengkapnya : Atmaja, D. S., Yulistiani, Y., Suharjono, S., & Zairina, E. (2024). Implementation of a pharmacovigilance system to detect adverse events and improve medication appropriateness in a hospital in Indonesia.Pharmacy Education,Ìý24(3), p. 7“11. Penulis: Dewi Susanti Atmaja, Yulistiani, Suharjono, Elida Zairina

Baca juga: Prevalensi dan Prediktor penyebab Polifarmasi Pasien Lansia

AKSES CEPAT