51动漫

51动漫 Official Website

Perhitungan Biaya Pelayanan Darah di Beberapa Negara Berdasarkan Tingkat HDI

Tranfusi darah merupakan sebuah metode yang digunakan untuk menolong pasien atau resipien yang mengalami kekurangan darah. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas darah melalui sistem sirkulasi. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009, pelayanan darah didefiniskan sebagai pelayanan kesehatan yang menggunakan darah manusia sebagai substansi dasar dan digunakan untuk upaya kemanusiaan serta tidak untuk diperjualbelikan. Harga produk plasma darah diatur oleh pemerintah dengan memperhitungkan biaya produksi dan kemampuan masyarakat sehingga harganya menjadi rasional dan sesuai dengan prinsip keadilan.

Di Indonesia, pemerintah memberikan subsidi kepada Unit Tranfusi Darah (UTD) yang bersumber dari dana pusat, dana pemerintah lokal, dan biaya lain. Biaya yang tersisa akan dibebankan kepada masyarakat. Pembebanan biaya tersebut bertujuan untuk menjaga agar pelayanan darah tetap berjalan dan dapat memberkan darah yang berkualitas. Biaya ini diatur di Surat Edaran Menteri Kesehatan HK/MENKES/31/I/2014 dengan biaya maksimum sebesar Rp 360.000 per kantong.  Biaya tersebut digunakan untuk pemrosesan dan pemeriksaan darah yang meliputi komponen pelayanan, administrasi, pemeliharaan, depresiasi, pengembangan, dan biaya habis pakai. Biaya pelayanan, administrasi, pemeliharaan, dan pengembangan diatur sebesar Rp 143.581. Biaya habis pakai diatur sebesar Rp 216.419 yang terdiri atas biaya kantong darah (Rp 49.470), biaya cek Rh/Hb (Rp 4.138), reagen crossmatch (Rp 25.000), HbsAg (Rp 18.319), anti-HC (Rp 51.789), vdrl (Rp 34.663), anti-HIV (Rp 29.785), dan material insentif bagi donor (Rp 3.255).

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan metode yang digunakan untuk menghitung biaya pelayanan darah di beberapa negara. Negara-negara berikut dipilih berdasarkan Human Development Index (HDI). Negara yang berasal dari tingkat HDI tertinggi adalah Kanada, Inggris, dan Yunani. Negara dengan tingkat HDI menengah adalah India sedangkan negara dengan tingkat HDI terrendah adalah Zimbabwe. Penelitian ini merupakan tinjauan literature dengan jumlah artikel yang terpilih sebanyak 5.

Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa seluruh negara yang diteliti memasukan komponen biaya personel, biaya habis pakai, depresiasi, dan pemeliharan dalam perhitungan biaya. Penelitian di Zimbabwe dan Yunani menggunakan perspektif sosial untuk dimasukan kedalam biaya insentif donor. Hanya beberapa penelitian yang memasukkan gedung, transportasi, biaya umum, dan alat tulis karena data yang akurat tidak ditemukan atau biaya yang dikeluarkan jumlahnya kecil. Penelitian di India tidak memasukan gedung dan pemeliharaan sebagai biaya kapital karena bank darah terletak di rumah sakit umum besar. Dalam perhitungan biaya, setiap metode pendekatan memiliki keuntungannya sendiri sehingga tidak terdapat metode standar yang digunakan. Penelitian di Zimbabwe dan Kanada menemukan bahwa peneliti menggunakan metode Activity Based Costing untuk mengestimasi biaya. Penelitian di Inggris menggunakan estimasi komprehensif melalui metode penelitian microcosting. Di sisi lain, penelitian di Yunani dan India tidak menggunakan metode spesifik dalam melakukan perhitungan biaya.

Perhitungan biaya dibutuhkan dalam setiap langkah di pelayanan darah. Dari sudut pandang penyedia, perhitungan memasukan komponen personel, peralatan, alat habis pakai, gedung, transportasi, dan pemeliharaan. Setiap pengadaan komponen darah memiliki biaya yang berbeda-beda tergantung dari kegiatan yang dilakukan. Beberapa studi penelitian menggunakan sistem perhitungan Activity Based Costing sebagai metode penghitungan biaya layanan darah, atau produk komponen darah tertentu.

Penulis: Dr. Ernawaty, drg., M.Kes.

Jurnal: Literature Review: Cost Calculation of Blood Services in Some Countries (Based on HDI Level)

AKSES CEPAT