Banyak dampak negatif bagi kehidupan masyarakat akibat penyebaran virus corona di seluruh Indonesia, termasuk dampak negatif sosial, ekonomi, dan kesehatan. Penyakit yang disebut Covid-19 ini sebagian besar memengaruhi sistem pernapasan, yang dapat menyebabkan masalah pernapasan sedang dan infeksi paru-paru yang mengancam jiwa. Untuk menghentikan penyebaran Covid-19 dan untuk melindungi kelompok usia balita dan prasekolah, salah satu kelompok yang paling berisiko tertular dan terinfeksi Covid-19, diperlukan tindakan yang konsisten dan terkoordinasi.
Faktor utama dalam menentukan status kesehatan anak adalah keterlibatan orang tua. Dalam hal pengasuhan anak, tindakan pengasuhan yang berbeda akan berdampak pada seberapa baik anak tumbuh dan berkembang. Keluarga merupakan lingkungan utama anak dan unit terkecil dari masyarakat. Menurut Dai dan Wang (2015), ada dua dimensi fungsi keluarga: indeks lunak, yang meliputi pemberian dukungan kasih sayang, keterlibatan, kontrol perilaku, dan penanaman nilai dan aturan, dan indeks reguler, yang meliputi bantuan pemecahan masalah, komunikasi, dan alokasi tugas di antara anggota keluarga dalam setiap peran. Mengingat pentingnya lingkungan keluarga bagi perkembangan anak, tentunya orang tua memiliki pola atau pola asuh tersendiri dalam membesarkan anak agar menjadi anak yang baik.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini berjumlah 212 orang tua balita anggota posyandu di salah satu wilayah puskesmas di Surabaya. Sampel penelitian ini berjumlah 125 orang tua balita yang dipilih dengan cara purposive sampling. Variabel independen dari penelitian ini yaitu 6 faktor pada teori HPM (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, dan self efficacy) sedangkan variabel dependen dari penelitian ini adalah perilaku pencegahan orang tua. Intrumen penelitian menggunakan kuesioner I-CHBMS, dan dianalisis menggunakan uji korelasi spearman (p<0,05).
Temuan hasil penelitian menjelaskan bahwa Persepsi kerentanan yang dirasakan oleh orang tua terhadap penularan Covid-19 pada anak berhubungan dengan perilaku pencegahan level individu yang dilakukan. Semakin tinggi persepsi kerentanan yang dirasakan, maka semakin baik perilaku pencegahan yang dilakukan oleh orang tua. Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, perilaku orangtua dalam hal kesehatan sangat dibutuhkan. Persepsi Keseriusan yang dirasakan oleh orang tua terhadap konsekuensi resiko penularan Covid-19 pada anak berhubungan dengan perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan level individu pada anak. Pada penelitian ini,hubungan antara persepsi keseriusan dengan perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan memiliki nilai positif, yang berarti hubungan antara keduanya searah, semakin tinggi persepsi keseriusan yang dirasakan orang tua terhadap penularan Covid-19 pada anak, maka semakin baik nilai perilaku orang tua dalam pencegahan level individu pada anak. Persepsi manfaat yang dirasakan orang tua dalam melakukan pencegahan level individu pada anak berhubungan dengan perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan penularan Covid- 19 pada anak. Sehingga semakin tinggi manfaat yang dirasakan, maka semakin baik perilaku pencegahan yang dilakukan orang tua. Pada penelitian ini, tidak didapatkan hubungan antara persepsi hambatan dengan perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan level individu pada anak. Hampir seluruh responden menyatakan dapat melakukan pencegahan tanpa hambatan. Sehingga perilaku pencegahan menujukkan kategori baik. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi bahwa perlunya peningkatan peran orang tua dalam meningkatkan promosi kesehatan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat pada anak demi tercapainya kesehatan keluarga yang optimal.
Penulis: Dr. Yuni Sufyanti Arief, S.Kp.,M.Kes
Informasi detail mengenai penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di





