UNAIR NEWS – Peringatan Maulid Nabi Muhammad menjadi momentum penting bagi civitas academica 51动漫 (UNAIR) untuk menumbuhkan kecintaan sekaligus meneladani akhlak mulia Rasulullah. Semangat itu terwujud dalam Kajian Spesial Maulid Nabi yang terselenggara di Ruang Utama Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C, pada Senin (22/9/2025).
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Rektor UNAIR, Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin beserta jajaran wakil rektor, ketua dan sekretaris senat akademik, sekretaris universitas, para dekan dan wakil dekan, serta civitas academica UNAIR maupun jamaah Masjid Ulul Azmi.
Perdalam Spiritualitas
Dalam sambutannya, Prof Madyan menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi ini sejalan dengan motto UNAIR, Excellence with Morality. 淜ita ingin mencetak mahasiswa yang berdaya, expert di bidangnya. Namun kita tidak boleh melupakan moralitas dan akhlak mulia. Kehadiran Nabi Muhammad adalah rahmat bagi semesta alam, dan ajarannya merupakan pedoman sempurna bagi kita semua, tutur Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis () itu.
Ia berharap, melalui kajian kali ini mahasiswa mampu mengambil hikmah dan meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. 淧ribadi yang jujur, amanah, dan peduli sesama adalah cerminan iman yang kuat. Mari kita senantiasa memakmurkan Masjid Ulul Azmi sebagai pusat kegiatan yang tidak hanya memperkaya ilmu, tetapi juga memperdalam spiritualitas, tambah Prof Madyan.
Teladan Nabi
Kajian itu turut mengundang pemateri Prof Dr H Ahmad Zahro MA Al-Hafidz. Ia menegaskan bahwa kecintaan kepada nabi dapat terwujud melalui bacaan salawat, Al-Qur檃n, serta kehadiran di majelis ilmu. 淜ehadiran kita di sini adalah bukti bahwa umat Muhammad mencintai nabinya dan meneladani semangat juangnya. Nabi Muhammad adalah makhluk paling mulia sejak diciptakan hingga hari kiamat, ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Zahro menguraikan tiga dimensi meneladani Rasulullah. Pertama, keteladanan dalam ibadah yang menekankan pentingnya mengikuti tuntunan Nabi. 淚badah harus mencontoh nabi. Tidak boleh membuat aturan sendiri. Meski berbeda mazhab, semua memiliki dasar dan semuanya benar. Inilah keluasan Islam yang harus kita syukuri, jelasnya.
Kedua adalah keteladanan dalam aspek sosial-kemasyarakatan. Ia mencontohkan isu poligami yang sering disalahpahami. 淧oligami itu seperti sate kambing, halal, tapi kalau tidak mau, ya, tidak apa-apa. Artinya, itu bagian dari syariat, namun bukan kewajiban. Jangan salah menyikapi, terangnya.
Ketiga, berkaitan dengan keteladanan dalam aspek kebudayaan. Menurutnya, Islam memberi ruang kreativitas selama sesuai dengan prinsip syariat. 淣abi tidak pernah memakai celana, tapi bukan berarti celana bid檃h. Yang penting adalah menutup aurat. Jangan mudah menyalahkan, sebab banyak hal sebenarnya dibolehkan dalam Islam, ucapnya.
Ingatkan Jaga Persaudaraan
Prof Zahro juga menekankan pentingnya persatuan umat dalam perayaan Maulid tersebut. 淢enjelang wafat, Nabi berpesan tiga hal untuk menjaga salat, berpegang pada Al-Qur檃n dan hadis, serta bersatu dalam persaudaraan. Perbedaan, jangan menjadi alasan untuk saling memusuhi, namun harus memperkuat ukhuwah, tegasnya.
Pada akhir kajian, ia berpesan kepada mahasiswa agar meneladani nabi sesuai kapasitas masing-masing. 淕enerasi muda harus maju dalam ilmu dan kualitas, tetapi adab tetap nomor satu. Jagalah lisan, sebab orang yang mampu menjaga lisannya akan terpelihara imannya, pungkas Prof Zahro.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Yulia Rohmawati





