51动漫

51动漫 Official Website

Peringati Hari AIDS se-Dunia, LPT UNAIR Gelar Seminar Nasional

FOTO Prof Dr Nasronudin dr Sp PD KPTI FINASIM selaku Direktur RSUA saat memaparkan materinya kepada para peserta. (Foto: Istimewa)
FOTO Prof Dr Nasronudin dr Sp PD KPTI FINASIM selaku Direktur RSUA saat memaparkan materinya kepada para peserta. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati AIDS yang jatuh setiap 1 Desember, Lembaga Penyakit Tropis (LPT) 51动漫 (UNAIR) menggelar seminar nasional bertajuk Dampak Pre-Exposure Prophylaxis terhadap Kasus HIV: Data dan Realitas di Lapangan.

Seminar yang terlaksana di Kampus MERR-C pada Sabtu (30/11/2024) itu, menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof Dr Nasronudin dr Sp PD KPTI FINASIM selaku Direktur Rumah Sakit 51动漫 (RSUA), Prof Dr Pande Putu Januraga M Kes DrPH selaku PUI Center for Public Health Innovation Universitas Udayana dan terakhir Rosita Dewi Yuliandari S KM M Epid selaku Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

mengawali seminar dengan mengkaji PrEP dari perspektif klinis. Menurutnya, PrEP atau Pre-Exposure Prophylaxis merupakan metode preventif yang efektif bagi individu dengan risiko tinggi terkena HIV. PrEP berbentuk obat yang dikonsumsi secara rutin sebelum terpapar virus HIV, sehingga dapat mencegah infeksi.

淥bat ini bekerja dengan cara mencegah kemampuan virus HIV untuk mereplikasi dalam tubuh manusia, terang Prof Nasronudin. Dalam konteks klinis, ia menerangkan bahwa PrEP tidak hanya bertujuan untuk mencegah infeksi, tetapi membantu memahami pola epidemi HIV di masyarakat.

PrEP bekerja dengan mengandalkan kandungan antiretroviral (ARV) seperti Tenofovir dan Emtricitabine. 淥bat ini menciptakan penghalang di dalam sel tubuh manusia, sehingga virus HIV tidak dapat masuk dan berkembang biak, jelasnya.

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa kendala besar dalam pengobatan HIV adalah potensi pasien untuk berhenti minum antiretroviral (ARV), yang dapat menurunkan efektivitas terapi. 淏agi pasien HIV yang sudah minum obat, tapi jumlah sel CD4 belum naik signifikan, ini seringkali disebabkan oleh dropout obat. Maka, edukasi dan pengawasan berkelanjutan sangat diperlukan, jelasnya.

Sesi Foto Bersama Narasumber. (Foto: Istimewa)

Selain dari kacamata klinis, Prof Pande menyoroti melalui pendekatan kesehatan masyarakat dalam mencapai target global untuk mengakhiri epidemi HIV. Target ambisius itu dikenal dengan . Berfokus pada tiga aspek utama, yaitu tidak ada infeksi HIV baru (zero new HIV infections), tidak ada kematian terkait AIDS (zero AIDS-related deaths), dan tidak ada diskriminasi (zero discrimination).听

Meski target itu memberikan harapan besar, realitas di lapangan menurut laporan Kementerian Kesehatan pada tahun 2022 bahwa sekitar 41 persen orang dengan HIV belum menerima pengobatan antiretroviral (ARV), dan stigma sosial masih menjadi hambatan utama. 淜ita harus menghadapi kenyataan bahwa cakupan penggunaan kondom, sebagai alat pencegahan utama, masih di bawah 70%, tambahnya.

Demi mendukung target itu, program PrEP menjadi langkah strategis mencegah penularan HIV/AID. Sekitar 20.810 orang di beberapa wilayah Indonesia telah menggunakan PrEP. 淏adan Kesehatan Dunia (WHO) tentu sangat merekomendasikan metode ini. Pasalnya klaim PrEP efektif mencegah penularan virus HIV hingga 96% jika konsumsinya setiap hari, pungkasnya.

Penulis:

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT