Ketika saya studi di University of London tahun 1987 saya mengamati bahwa kehidupan mahasiswa banyak dihabiskan di perpusatakaan, mulai jam 09.00 pagi sampai malam. Hal ini terjadi karena guru besar ketika memberikan kuliah hanya memberi kuliah garis besarnya saja. Untuk lebih detailnya, dia menyebutkan 5-10 textbook yang harus dibaca. Besoknya, profesor lainnya meminta hal yang sama.
Kalau kita di Indonesia, seorang mahasiswa yang tidak ikut kuliah maka dia bisa pinjam atau foto copy catatan teman. Sementara di negara-negara maju tidak ada foto copy di jalan-jalan, selain karena menyangkut hak cipta buku. Akibatnya, mau tidak mau supaya tidak ketinggalan materi kuliah, maka mahasiswa harus rajin-rajin ke perpustakaan dan dijadikannya rumah kedua. Selain itu, perpustakaan di negara maju ramai dikunjungi karena tingkat minat baca warganya memang sangat tinggi.
Saya dulu tahuna 1970-an bukannya mahasiswa tipe kutu buku. Namun, saya tergolong mahasisa yang ˜rutin™ mengunjungi perpusatakaan fakultas ekonomi dan hukum yang berlokasi di lantai dua gedung kedua fakultas itu di kampus B UNAIR. Sehari-hari tidak banyak yang berkunjung di perpustakaan, dan baru ramai menjelang ujian.
Memang perpustakaan kampus/akademik memainkan peran penting terhadap pencapaian tujuan perguruan tinggi dan hampir tidak akan ada lembaga akademik yang mampu menyediakan minat akademik, intelektual, dan lainnya serta kebutuhan informasi siswa tanpa layanan perpustakaan yang baik. Menurut Agyen-Gyasi, Lamptey dan Frempong (2010), perpustakaan akademik adalah kontributor penting bagi generasi pengetahuan dan melayani spektrum pencari pengetahuan yang luas. Lesikar dan Petit (1995) mencatat bahwa dalam melakukan penelitian, tempat alami untuk memulai pencarian informasi sekunder yang tertib adalah perpustakaan. Hal ini membuat lembaga pendidikan tanpa fasilitas yang sangat penting ini (perpustakaan) mengkhawatirkan. Aina (2004) telah mengamati bahwa layanan yang disediakan oleh perpustakaan universitas mencerminkan kualitas universitas.
Fungsi perpustakaan akademik sebagai jalan raya menuju hutan gagasan intelektual dengan memperoleh, mengatur, mengolah, dan menyimpan informasi dalam bentuk yang dapat diambil dan menyediakan alat yang dapat digunakan untuk mengakses informasi. Materi yang berguna untuk pendidikan dan minat lainnya terus menerus ditulis dan diterbitkan oleh banyak sarjana sejak peradaban kuno. Produk intelektual ini disimpan di perpustakaan, museum, dan repositori lain untuk konsumsi pengguna. Perpustakaan akademik berfungsi sebagai poros dimana kegiatan akademik berputar di perguruan tinggi. Ubogu dan Okiy (2011) telah menunjukkan bahwa perpustakaan akademik adalah perpustakaan yang melekat pada universitas, politeknik, perguruan tinggi pendidikan, dan lembaga pendidikan tinggi serupa lainnya.
Melimpahnya sumber daya informasi yang disediakan oleh perpustakaan menjadikannya lingkungan belajar yang potensial di sebuah universitas. Oleh karena itu, mereka menganjurkan bahwa perpustakaan akademik yang baik harus menyediakan lingkungan multifungsi di dalam ruang perpustakaan karena ini akan menciptakan platform bagi individu untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Harrison dan Beenham (1985) berpendapat bahwa tujuan umum perpustakaan akademik dapat dicantumkan sebagai berikut: a) untuk melayani kebutuhan komunitas akademik, jurnal Pendidikan; b) menyediakan area studi bagi penguna; c) menyediakan layanan pinjaman yang sesuai dengan berbagai jenis pengguna; dan d) untuk menyediakan layanan informasi aktif yang dapat melampaui institusi untuk industri dan perdagangan lokal.
Sejarah perpustakaan di dunia ini sudah berumur tua. Antara lain berada di Aleksandria Mesir pada jaman kuno dulu, dan pada tahun 1258 masehi bencana besar menimpa peradaban dan literatur Islam ketika kerajaan Monggol yang dipimpin Hagu Khan menyerang Daulah Abbasiyah di Bagdad, Iraq Tentara Monggol membunuh labih 1,5 juta orang dan membakar beribu-ribu buku yang ada di perpustakaan. Mayat-mayat dan buku-buku itu dibuang di sungai Tigris sehingga warnanya menjadi merah dan hitam. Perpustakaan di Bagdad itu dibangun selama 600 tahun.
Di jaman modern ini, di berbagai negara maju terutama di perguruan tingginya kita saksikan perpustakaan yang besar-besar, salah satunya di Library of Congress di Washington DC Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 38 juta buku dan bahan cetakan lainnya, sekitar 3, 6 juta rekaman, 14 juta foto-foto, 5,5 juta peta, 8,1 juta lembaran musik, dan 70 juta manuskrip. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perpustakaan bagi pengembangan intelektual suatu bangsa.
Perpustakaan (UNAIR) sendiri memiliki koleksi lengkap. tercatat jumlah koleksi bukunya saat ini 145.148 judul buku dengan total 210.482 jumlah eksemplar, 95.572 jumlah repository yang berisi kara ilmiah, dan 11.484 jumlak ebooks. Pihak rektorat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan perpustakaan dengan senantiasa menambah jumlah koleksi buku-buku terbaru.
Civitas akademika UNAIR terutama para tenaga pendidik dan mahasiswa harus menjadikan perpustakaan di kampus sebagai rumah kedua setiap saat, dan tidak boleh hanya ramai dikala musim ujian tiba. Bagi para mahasiswa sudah saatnya dalam menjalani kehidupan akademik tidak hanya ikut kuliah lalu pulang, namun harus berkunjung ke perpustakaan untuk meng-explore samudra ilmu pengetahuan. (*)





