51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Persepsi Sensorik dan Obesitas pada Anak

ilustrasi obesitas pada anak (sumber: kompas)

Obesitas pada anak telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan secara global dengan prevalensi yang terus meningkat selama beberapa dekade. Tren yang memprihatinkan ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap kesehatan individu dan sistem kesehatan masyarakat, karena obesitas pada masa kanak-kanak sering kali berlanjut hingga masa dewasa. Terjadinya obesitas pada anak melibatkan faktor yang sangat kompleks, tetapi konsumsi makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi, seperti makanan cepat saji dan minuman manis, telah diidentifikasi sebagai kontributor yang patut diperhitungkan. Sebuah penelitian di Meksiko menunjukkan bahwa anak-anak cenderung lebih menyukai makanan manis, sementara makanan sehat seperti sayur-sayuran, sereal utuh, dan ikan seringkali sulit diterima. Penerimaan makan pada anak “ anak sangat dipengaruhi oleh preferensi rasa mereka yang terbentuk oleh faktor lingkungan, sosial, dan biologis seperti sensitivitas rasa. Faktanya, sensitivitas dan preferensi rasa memainkan peran penting dalam membentuk kebiasaan makan, memengaruhi pilihan makanan, dan juga pola konsumsi. Terlepas dari pentingnya hal ini, penelitian yang dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara persepsi rasa, preferensi, dan obesitas pada anak, terutama terkait pilihan makanan sehat masih terbatas.

Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti dari 51¶¯Âþ melakukan studi potong lintang yang melibatkan 101 anak usia 9 “ 14 tahun di Surabaya pada akhir tahun 2020 hingga 2022. Penelitian terdiri dari pengukuran antropometri, uji sensitivitas rasa, uji preferensi rasa, dan uji formulasi snack sehat. Uji sensitivitas rasa dilakukan dengan membandingkan larutan sukralosa (rasa manis) dan larutan garam (asin) pada konsentrasi 0.1709, 0.3418, dan 0.6837 mol/L dengan air murni. Uji preferensi rasa dinilai menggunakan empat gradasi pemberian gula pada smoothies mangga (0, 5, 10, dan 15 g) dan garam pada kuah bakso (0.5, 0.75, 1, 1.25 g) yang akan dipilih oleh subyek. Serta formulasi snack sehat yang menyajikan puding mangga dan klappertart pisang dengan pemberian 10 g gula serta tahu skotel dan tahu bakso dengan pemberian 1 g garam tiap sajian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun anak-anak lebih mudah mengidentifikasi rasa asin, mereka cenderung lebih menyukai makanan yang memiliki cita rasa manis. Hal ini diperkuat oleh uji preferensi rasa pada smoothies mangga dan kuah bakso, yang menunjukkan bahwa anak-anak lebih menyukai makanan dengan konsentrasi gula atau garam tertinggi, atau dapat dikatakan sebagai yang paling manis atau asin. Namun, hasil yang positif juga diperoleh dari uji formulasi snack sehat, yang menunjukkan bahwa pemberian makanan dengan kandungan gula dan garam yang rendah masih dapat diterima dengan baik oleh anak-anak. Temuan ini menyoroti pentingnya formulasi snack yang tepat dalam meningkatkan penerimaan makanan sehat oleh anak-anak. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa sensitivitas dan preferensi rasa manis berkorelasi secara signifikan dengan status gizi, terutama pada laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman lebih lanjut mengenai preferensi dan sensitivitas rasa dapat menjadi faktor penting dalam mengelola status gizi anak-anak secara efektif.

Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga mengenai peranan sensitivitas dan preferensi rasa dalam memengaruhi kebiasaan makan anak-anak. Hasil-hasilnya menyoroti pentingnya formulasi makanan yang mempertimbangkan preferensi rasa anak-anak, sekaligus menawarkan peluang untuk memperkenalkan makanan sehat dengan cara yang menarik bagi mereka. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengembangan strategi yang lebih efektif dalam mempromosikan pola makan sehat dan mencegah terjadinya obesitas di kalangan anak-anak.

Penulis: Afifah Nurma Sari, S.Gz dan Farapti, dr., M.Gizi

Informasi lebih lengkap dari penelitian dapat diakses pada:

Farapti, F., Sari, A.N., Fadilla, C. et al. Association between taste sensitivity, taste preference, and obesity: study of healthy snacks in children aged 9“14 years. Food Prod Process and Nutr 6, 37 (2024).

Baca Juga: Ibu Hamil Perokok Berisiko Menyebabkan Obesitas pada Anak

AKSES CEPAT