51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Perubahan Gaya Hidup Anak Sekolah dan Risiko Konstipasi Fungsional di Masa Pandemi COVID-19

Ilustrasi Diskusi Siswa SMA. (Foto: Unsplash.com).
Ilustrasi Diskusi Siswa SMA. (Foto: Unsplash.com).

Sejak Maret 2020, World Health Organization menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global. Beberapa negara menetapkan beberapa kebijakan physical distancing dan  lockdown secara nasional seperti sekolah daring, pembatasan aktivitas luar ruangan dan tindakan karantina dalam upaya pencegahan virus COVID-19. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa di masa pandemi COVID-19 terdapat perubahan gaya hidup khususnya pada anak. Gaya hidup tidak sehat yang  terjadi masa pandemi antara lain penurunan aktivitas fisik, peningkatan waktu menonton layar, peningkatan konsumsi makanan tidak sehat. Penelitian yang sudah dilakukan di Italia menjelaskan bahwa anak-anak berusia 6-18 tahun mengalami aktivitas fisik yang menurun, peningkatan waktu menonton layar dan konsumsi caliman padat kalori. Perubahan gaya hidup tidak sehat tersebut menjadi faktor risiko jadi kejadian konstipasi pada anak. Konstipasi ditandai dengan buang air besar yang tidak teratur dan menyakitkan , dan sering disertai nyeri perut. Prevalensi kejadian konstipasi pada anak berkisar antara 5% hingga 30%. Konstipasi terjadi pada anak apabila anak mengalami setidaknya dua dari gejala diantara kesulitan saat buang air besar (BAB) sehingga sering mengejan, merasa BAB belum tuntas, atau ada yang mengganjal dibagian bawah perut, perlu menggunakan tangan untuk membantu buang air besar, buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu, bentuk dan tekstur tinja yang dikeluarkan juga dinilai untuk melihat keparahan dari konstipasi.

          Penelitian yang dilakukan pada anak usia 3 hingga 5 tahun dari beberapa negara membuktikan bahwa pandemi COVID-19 telah membuat perubahan signifikan rutinitas pada anak sekolah termasuk peningkatan gaya hidup tidak sehat dan penurunan waktu tidur.  Penelitian lain yang dilakukan secara global menunjukkan lebih dari separuh anak di seluruh dunia mengalami penurunan aktivitas fisisk. Adaptasi dari pembelajaran daring dan interaksi langsung dengan teman sebaya yang kurang menyebabkan waktu layar pada anak meningkat drastis, apabila tanpa pengawasan dapat mempengaruhi kualitas tidur dan kesehatan mental anak. Studi lain yang pernah dilakukan juga menemukan bahwa stres pada anak selama pandemi menjadi salah satu faktor tambahan yang mempengaruhi kesehatan anak yaitu gangguan pencernaan seperti konstipasi. Penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan menunjukkan rata-rata konstipasi fungsional pada anak sekolah adalah 0,7% hingga 29,6%. Kondisi tersebut disebabkan oleh multifaktorial diantaranya kondisi ligkungan, stres, pola makan, dan dukungan sosial.

          Konstipasi pada anak perlu dilakukan penanganan yang efektif dengan pendekatan yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup anak. Perubahan gaya hidup sehat menjadi hal yang perlu dilakukan dalam pencegahan dan penanganan konstipasi pada anak seperti perubahan pola makan, asupan cairan yang bertambah, buang air beras yang rutin, serta dukungan ortu. Beberapa penelitian menemukan rekomendasi dalam mengatasi konstipasti antara lain dengan meningkatkan asupan sehat, mengatur pola tidur, dan meningkatkan aktivitas fisik. Apabila perubahan gaya hidup sehat tidak dapat mengatasi konstipasi anak, hal yang perlakukan adalah intervensi medis.

          Intervensi medis yang dapat digunakan untuk mengobati konstipasi pada anak adalah menggunakan pencahar ringan yang aman. Salah satu yang sering digunakan adalah Polietilen Glikol (PEG). Cara kerja obat tersebut dapat menarik air ke dalam usus, membuat tinja lebih lunak dan mudah dikeluarkan. PEG dianggap aman dan sering menjadi pilihan pertama untuk sembelit kronis. Selain itu, ada juga Laktulosa, pencahar osmotik yang difermentasi oleh bakteri usus, yang juga menarik air ke usus besar. Laktulosa cocok untuk penggunaan jangka panjang meski bisa menyebabkan kembung. Pencahar lain yang dapat digunakan minyak mineral yang melapisi tinja dan dinding usus agar tinja lebih mudah keluar, meski sebaiknya hanya digunakan dalam jangka pendek. Susu magnesia atau magnesium hidroksida juga membantu menarik air ke usus dan cocok untuk sembelit ringan hingga sedang. Bila obat-obatan tersebut kurang efektif, dokter bisa meresepkan Bisacodyl, pencahar stimulan yang membantu merangsang pergerakan usus, tapi penggunaannya tidak disarankan dalam jangka panjang.

          Penting bagi orang tua dan tenaga kesehatan untuk memahami bahwa konstipasi pada anak bukanlah kondisi yang bisa diabaikan, terutama di masa perubahan besar seperti pandemi COVID-19. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa perubahan gaya hidup selama pandemi, seperti penurunan aktivitas fisik, peningkatan konsumsi makanan tidak sehat, serta tingginya waktu layar, berdampak nyata terhadap kesehatan pencernaan anak. Harapan dari enelitian yang dilakukan dapat menjadi dasar kuat untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola hidup sehat sejak dini dan mendorong intervensi yang tepat. Perlu ada penelitian yang mendalam mengenai faktor-faktor risiko konstipasi pada anak serta efektivitas penanganannya, agar kualitas hidup anak dapat terus ditingkatkan melalui pendekatan yang lebih holistik dan berbasis bukti.

Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Nuryandari, S. ., Ranuh, R. G. ., Athiyyah, A. F. ., Darma, A. ., Sumitro, K. R. ., & Sudarmo, S. M. (2024). Lifestyle changes in school children at risk of increasing functional constipation during COVID-19 pandemic. Edelweiss Applied Science and Technology, 8(6), 5179“5186. https://doi.org/10.55214/25768484.v8i6.3141

AKSES CEPAT