Cedera otak adalah kondisi medis yang terjadi sebagai akibat peristiwa traumatis di otak. Cedera otak menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan pada tahun 2020, menurut World Health Organization (WHO), dengan lebih dari 10 juta orang terkena dampaknya setiap tahun.
Literatur terbaru menunjukkan bahwa individu yang bertahan dari fase akut setelah cedera otak berat memiliki peningkatan risiko kematian selama fase pemulihan pasca akut dan rata-rata pasien juga memiliki rentang hidup lebih pendek dibandingkan dengan populasi umum. Biomarker sistemik dari sistem saraf pusat dapat memberikan informasi mengenai prediksi kematian akut setelah cedera otak berat. Selain itu, biomarker menggambarkan patologi spesifik cedera otak yang relevan dengan jalur molekuler yang diwakilinya. Biologis bawaan, seperti genetika, berinteraksi dengan biomarker akut yang mempengaruhi mortalitas.
BDNF, suatu neurotropin yang diekspresikan di otak, merupakan target yang menarik untuk penelitian intervensi cedera otak karena perannya dalam kelangsungan hidup neuron, neurogenesis, dan plastisitas.
Meskipun BDNF diketahui memiliki efek protektif pada kejadian cedera otak dalam hal perlindungan sel saraf, mekanisme pastinya masih belum dipahami dengan jelas. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mempelajari kegunaan pengukuran kadar BDNF sebagai faktor penentu luaran dari cedera otak.
Metode Penelitian
Setiap penelitian yang menyelidiki BDNF pada pasien dengan cedera otak akan dimasukkan dalam tinjauan sistematis ini. Luaran klinis dinilai dengan: Glasgow Outcome Scale (GOS), Glasgow Outcome Scale Extended (GOSE), dan kelangsungan hidup.
Hasil
Pencarian literatur dilakukan dari database online. Database jurnal online yang digunakan dalam pencarian adalah PubMed (176 literatur), Cochrane (8 literatur), dan DoAJ (2 literatur), dan sembilan studi lainnya diperoleh dengan pencarian manual, dengan total 195 studi. Setelah dilakukan penyaringan duplikasi, diperoleh total 179 literatur kemudian disaring melalui judul dan abstrak dan diperoleh 17 literatur. Dari 17 literatur tersebut, teks disaring dan ditemukan tujuh literatur yang memenuhi kriteria.
Demografi
Sebanyak tujuh literatur dimasukkan dalam tinjauan sistematis ini dengan jumlah pasien adalah 687 dengan usia rata-rata 36 (1,3-74) tahun. Enam penelitian melaporkan distribusi jenis kelamin pasien, dengan total sampel 576 pasien. Dari enam penelitian tersebut, mayoritas pasien adalah laki-laki, yaitu 483 (83,85%) pasien, dibandingkan dengan 93 (16,15%) pasien perempuan.
Semua pasien dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan luarannya, yaitu luaran baik dan luaran buruk.
Pengukuran Kadar BDNF pada Pasien Cedera Otak
Pengukuran kadar BDNF pada pasien cedera otak yang dilakukan pada tujuh literatur menunjukkan adanya perbedaan tren kadar BDNF dari sumber cairan serebrospinal dan serum.
Pengukuran Kadar BDNF di Cairan Serebrospinal
Kadar BDNF cairan serebrospinal dilaporkan dalam dua dari tujuh literatur, dengan median kadar BDNF cairan serebrospinal pada kelompok yang memberikan luaran buruk adalah 0,2365 (0,19-0,3119) ng/ml. Tingkat BDNF cairan serebrospinal lebih tinggi dari median kelompok yang memberikan luaran baik, yaitu 0,20585 (0,17-0,5526) ng/ml.
Tren tingkat BDNF cairan serebrospinal lebih rendah pada kelompok luaran baik dibandingkan dengan kelompok luaran buruk.
Pengukuran Kadar BDNF di Serum
Tingkat BDNF di serum dilaporkan dalam dua dari tujuh literatur, dengan median tingkat BDNF di serum pada kelompok luaran buruk adalah 3,9058 (0,6142“13,0) ng/ml. Tingkat BDNF serum lebih rendah daripada median pada kelompok luaran baik, yaitu 4,3 (0,6174-23,3) ng/ml. Hasil dari analisis empat literatur melaporkan bahwa ada tendensi untuk tingkat BDNF di serum lebih rendah pada kelompok luaran buruk.
Diskusi
Studi ini dilakukan dengan melalui pencarian literatur sistematis dari semua literatur yang melaporkan penilaian tingkat BDNF pasien dan dikaitkan dengan luaran pasien cedera otak. Studi literatur secara sistematis menghasilkan tujuh literatur yang digunakan untuk analisis. BDNF dapat digunakan untuk memprediksi luaran pasien cedera otak, baik dari BDNF serum maupun BDNF cairan serebrospinal. Tingkat BDNF bahkan dapat digunakan untuk menilai hasil jangka panjang dan kematian hingga 12 bulan setelah trauma.
Karena tes ini masih relatif tidak populer, kemampuan untuk memeriksa BDNF masih belum merata dan tidak ada angka pasti terkait dengan outcome pada pasien TBI, sehingga tes ini tidak rutin dilakukan.
Pengukuran Kadar BDNF pada Pasien Cedera Otak
Pengukuran kadar BDNF pada pasien cedera otak dilakukan pada pasien dalam tujuh literatur. Temuan ini menunjukkan perbedaan antara tren kadar BDNF dari sumber cairan serebrospinal dan serum. Kadar BDNF serum lebih tinggi pada kelompok luaran baik dan, sebaliknya, kadar BDNF cairan serebrospinal lebih rendah pada kelompok yang memberikan luaran buruk. Tingkat BDNF cairan serebrospinal lebih tinggi dari median pada kelompok yang memberikan luaran baik yaitu 0,20585 (0,17-0,5526) ng/ml.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa setelah cedera otak berat, terdapat gangguan pada sawar darah otak, menyebabkan transfer BDNF serum secara akut ke otak setelah cedera otak yang menyebabkan penurunan kadar BDNF serum dan peningkatan BDNF cairan serebrospinal pada pasien yang memberikan luaran buruk. Hal ini diduga karena adanya peningkatan fungsi otonom pada pasien dengan kondisi yang lebih buruk sehingga aktivasi aksis hipotalamus dan kelenjar pituitari menyebabkan penurunan kadar BDNF pada serum.
Kesimpulan
Tingkat BDNF serum ditemukan lebih rendah pada kelompok yang memberikan luaran baik daripada kelompok yang memberikan luaran buruk. Hal ini dikaitkan dengan peningkatan fungsi otonom serta kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan penurunan kadar BDNF serum. Hal ini dikaitkan dengan gangguan sawar darah otak yang memfasilitasi transfer serum BDNF ke otak.
Kadar BDNF pada serum dan cairan serebrospinal berpotensi menjadi prediktor hasil pada pasien cedera otak, terutama mereka dengan kondisi parah.
Penulis: Dr. dr. Achmad Fahmi, Sp.BS (K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Agus Turchan, Achmad Fahmi, Achmad Kurniawan, Abdul Hafid Bajamal, Asra Fauzi, Tedy Apriawan. The change of serum and CSF BDNF level as a prognosis predictor in traumatic brain injury cases: A systematic review. 17-Jun-2022;13:250. DOI: 10.25259/SNI_1245_2021





