Penyembuhan luka pada tubuh melibatkan aktivitas respon tubuh yang diatur dari berbagai sel, seperti munculnya faktor pertumbuhan, dan sitokin yang akhirnya menyebabkan penutupan luka. Namun tidak semua luka dapat sembuh dengan sendirinya, seperti halnya luka diabetes. Luka diabetes sangat resisten terhadap pengobatan. Hal ini disebabkan karena luka diabetes memiliki faktor patofisiologis yang lebih rumit dari pada luka biasa. Pada saat luka Reaktive Oxygen Species (ROS) diproduksi secara berlebih sehingga menghambat perbaikan jaringan lingkungan kulit, inflamasi yang stagnan dan menyebabkan rusaknya makromolekul biologis jaringan. Meskipun jaringan kulit dapat mengatasi adanya radikal bebas, penggabungan terapi berupa obat yang mengandung antioksidan pada struktur plester luka memungkinkan memiliki efek positif yang lebih efektif. Mequinol (4-methoxyphenol) adalah senyawa fenolik aktif yang sering digunakan dalam kombinasi dengan retinoid untuk depigmentasi kulit. Studi terbaru menunjukkan aktivitas antioksidan kuat dari mequinol yang dapat dikaitkan dengan keberadaan gugus fenolik dalam strukturnya.
Oleh karena itu, senyawa ini memiliki potensi untuk dapat mempercepat proses penyembuhan luka diabetes dengan cara mencegah peroksidasi lipid dan melindungi sel dari Namun, aktivitas penyembuhan dari plester luka ini masih perlu ditingkatkan untuk mengobati luka kronis yang tidak sembuh-sembuh. Dalam studi ini, plester luka electrospun dikembangkan untuk pengembangan berkelanjutan mequinol ke dasar luka diabetes. Sejauh pengetahuan dan hasil penelitian saat ini, penelitian ini merupakan studi pertama yang mengembangkan plester luka yang mengandung mequinol untuk penyembuhan luka diabetes, terlebih, fungsi penyembuhan mequinol dalam bentuk bebas atau dalam sistem pembawa obat belum diselidiki pada cedera kulit. Oleh karena itu, obat ini berpotensi mencegah peroksidasi lipid dan melindungi sel terhadap stres oksidatif pada luka diabetes.
Electrospinning merupakan proses elektrohidrodinamik, pengubahan tetesan cairan yang dialiri listrik menjadi benang-benang, diikuti dengan peregangan dan pemanjangan untuk menghasilkan serat yang nantinya dapat digunakan sebagai bantalan plester luka. Di antara beberapa jenis electrospinning, metode pemintalan electrospinning mono-aksial lebih mampu untuk dilakukan produksi massal dan sudah teruji klinis. Jenis bahan plester luka memainkan peran dasar dalam aktivitas penyembuhannya. Biomaterial yang ideal untuk penyembuhan luka harus mampu menyerap eksudat/cairan luka, mencegah infeksi luka, memungkinkan pertukaran gas, dan memiliki fungsi hemostatic. Kitosan merupakan polisakarida polikationik alami yang mendapat perhatian signifikan dalam penyembuhan luka karena memiliki sifatyang biokompatibel, antibakteri, non-imunogenik, dan dapat dimodifikasi untuk menunjukkan fungsi tertentu. Campuran polimer kitosan dengan polimer lain telah terbukti meningkatkan cakupan aplikasinya. Scafold yang dihasilkan dari biomaterial hibrida memanfaatkan kedua polimer dan menunjukkan peningkatan sifat fisikokimia dan biologis.
Dalam studi ini, karboksimetil selulosa (CMC) dicampur dengan kitosan untuk produksi plester luka. CMC adalah polimer yang sangat biokompatibel yang berasal dari modifikasi kimia selulosa. Polimer ini dapat menyerap eksudat luka dalam jumlah tinggi dan memelihara lingkungan yang lembab untuk penyembuhan luka. Berdasarkan prinsip-prinsip ini, penelitian ini mencoba untuk menghasilkan plester luka electrospun dengan memasukkan mequinol ke dalam matriks perancah kitosan/CMC. Kemudian, kami mengevaluasi aktivitas penyembuhan plester ini pada model tikus dengan luka diabetes. Bahan pada penelitian ini adalah semua polimer dan pelarut dibeli dari sigma Aldrich (AS) dan Merck (Jerman). Metode yang dilakukan diantaranya Elektrospinning, Scanning electron microscopy (SEM), Studi perilaku pembengkakan, Tes antibakteri, Uji adsorpsi protein, Tes pelepasan obat, lalu dilakukan Uji aktivitas antiinflamasi in vitro diantaranya uji denaturasi protein, uji antioksidan, Uji viabilitas sel, uji sitoproteksi, FITR analysis, pengukuran sudut kontak, Studi kekuatan tarik, Studi in vivo, Studi ekspresi gen dan yang terakhir melakukan analisis statistik menggunakan software graphpad prisma, ANOVA satu arah dan uji-t siswa digunakan untuk analisis statistik. Dalam studi ini, plester luka yang mengandung mequinol dikembangkan menggunakan metode electrospinning untuk mengobati luka diabetes.
Berdasarkan uji kultur sel, kami berasumsi bahwa scafold yang mengandung 0,3% b/b mequinol adalah formulasi optimal untuk mengobati luka diabetes. Oleh karena itu, uji penyembuhan luka dan karakterisasi in vitro dilakukan pada tahap formulasi. Studi in vitro menunjukkan bahwa perancah yang mengandung mequinol memiliki fungsi anti-inflamasi dan anti-oksidan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perancah bebas obat. Dalam semua percobaan, setidaknya tiga ulangan dilakukan dan nilai p<0,05 dianggap signifikan. Studi in vitro menunjukkan bahwa penggabungan mequinol ke dalam matriks perancah electrospun secara signifikan meningkatkan aktivitas anti-inflamasi dan antioksidan mereka. Uji penyembuhan luka menunjukkan bahwa plester luka kitosan/CMC/0,3% mequinol. Namun, penyelidikan lebih lanjut pada tingkat ekspresi gen dan protein diperlukan untuk menjelaskan mekanisme lain yang mungkin terlibat dalam fungsi penyembuhan luka mereka.
Penulis: Trias Mahmudiono,
Untuk mengetahui artikel secara lebih detail, maka dapat mengunjungi link dibawah :
Judul: Mequinol-Loaded Carboxymethyl Cellulose/Chitosan Electrospun Wound Dressing As A Potential Candidate To Treat Diabetic Wounds





