51动漫

51动漫 Official Website

Polimorfisme CYP2C19 di Indonesia: Perbandingan antara Etnis-Etnis dan Asosiasi dengan Hasil Klinis

Ilustrasi oleh hotliputan6

Triple terapi terdiri dari dua antibiotik, seperti amoksisilin dan klaritromisin, disertai dengan proton pump inhibitor (PPI) banyak digunakan untuk terapi eradikasi infeksi Helicobacter pylori, sebuah eradikasi yang dapat mengurangi peradangan mukosa lambung, dan menunjukkan kemajuan pada gastritis kronis. PPI adalah prodrug yang diaktivasi oleh asam yang tidak aktif dalam bentuk aslinya dan terutama di metabolisme di hati. CYP2C19 adalah sebuah enzim yang terutama bertanggung jawab untuk memetabolisme sebagian besar PPI, termasuk omeprazole, esomepreazole, lansoprazole dan pantoprazole, dengan pengecualian rabeprazole, yang utamanya dimetabolisme oleh reduksi non-enzimatik untuk membentuk thioether. CYP2C19 memainkan peran penting dalam mengubah PPI menjadi senyawa hidroksil melalui reaksi hidroksilasi aromatik sebelum akhirnya di metabolisme oleh CYP3A4 menjadi sulfon.

Gen CYP2C19 mengandung sembilan ekson dan terletak di kromosom 10 (10q24.1-10q24.3). Protein diekspresikan terutama di hati dan pada tingkat yang lebih rendah, di dinding usus. CYP2C19 dikenal polimorfik dan menyajikan 19 varian. CYP2C19 paling sering menunjukkan dua jenis alel yang bermutasi: CYP2C19*2 dan CYP2C19*3. Mutasi yang paling umum dari CYP2C19*2 mengandung mutasi basa tunggal G ke A pada poisisi 681 pada ekson 5, sebuah mutasi yang menghasilkan sambungan dan mengubah rangka baca terbuka, menghasilkan kodon stop awal dan protein terpotong. CYP2C19*3 mengandung mutasi basa tunggal G ke A pada posisi 636 di ekson 4, yang juga menghasilkan kodon stop awal dan protein terpotong.

Polimorfisme genetik CYP2C19 dapat menyebabkan perbedaan farmakokinetik, farmakodinamik dan menyebabkan perbedaan dalam kemanjuran klinis dari PPI. Menurut perbedaan genotip CYP2C19, individu dan dikategorikan menjadi tiga jenis metabolik: pemetabolisme cepat, sedang dan lambat. Pemetabolisme cepat dicirikan dengan memiliki dua alel bertipe liar dan aktivitas enzim yang cepat, sedangkan pemetabolisme lambat dicirikan dengan dua alel mutan dan laju aktivitas enzim yang sangat lambat. Pemetabolisme sedang dicirikan dengan sebuah alel bertipe liar dan sebuah alel mutan dan oleh karena itu cenderung memiliki tingkat aktivitas enzim yang sedang. Meskipun sebagian besar adalah kelompok minoritas, fenotipe pemetabolisme lambat menunjukkan perbedaan antar etnis yang luas antara populasi (13%-20% untuk jepang, 10,4% untuk Thaliand, 11%-15% untuk Tiongkok, 2%-5% untuk Eropa dan 9% untuk Mesir). Fenotipe ini mungkin memiliki perbedaan yang luas dalam hal metabolisme obat di antara etnis-etnis. Beberapa penelitian telah dilakukan tentang pengaruh dari genotipe CYP2C19 pada penyembuhan infeksi H. pylori dalam berbagai populasi. Kerusakan ini secara langsung memengaruhi aktivitas enzim dan akibatnya memengaruhi keefektifan terapi. Karena pentingnya hal tersebut, pedoman dosis untuk obat-obatan seperti clopidogrel, antidepresan tricyclic dan penghambat selektif pengambilan ulang serotonin telah ditetapkan berdasarkan genotipe CYP2C19. Mengidentifikasi variasi genetik CYP2C19 merupakan faktor penting dalam penyesuaian dosis untuk PPI dan oleh karena itu dapat memperbaiki laju eradikasi.

Sebuah penelitian di Indonesia melaporkan polimorfisme CYP2C19 tetapi mengevaluasi CYP2C19*17 dan hanya memasukkan satu etnis (Bugis) sebagai partisipan. Oleh karena itu, varian polimorfisme CYP2C19*2 dan CYP2C19*3 yang terdapat pada etnis lain di Indonesia masih belum ditemukan. Selain itu, dispepsia adalah penyakit keenam dan kelima yang paling umum pada pasien rawat jalan dan rawat inap di Indonesia, secara berturut-turut. Genotipe polimorfisme CYP2C19 dapat menjadi pertimbangan penting ketika menentukan dosis terapi PPI untuk mengurangi gejala dispepsia.

Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, 51动漫 berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Biology. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti prevalensi polimorfisme genetik CYP2C19*2 dan CYP2C19*3 di Indonesia. Peneliti juga melakukan analisis distribusi antara etnis-etnis dan hasil klinis. Penelitian ini menggunakan metode polimerisasi berantai reaksi penolakan panjang fragmen polimorfisme untuk menentukan genotipe CYP2C19 dan mengevaluasi keparahan inflamasi dengan sistem Sydney yang diperbarui. Untuk CYP2C19*2, 46,4% adalah alel homozigot bertipe liar, 14,5% adalah alel mutasi homozigot dan 39,2% adalah alel heterozigot. Untuk CYP2C19*3, 88,6% adalah alel homozigot bertipe liar, 2,4% alel mutasi homozigot dan 9,0% adalah alel heterozigot. Secara keseluruhan, prevalensi pemetabolisme cepat, sedang dan lambat di Indonesia masing-masing adalah 38,5%, 41,6% dan 19,9%. Pada kelompok pemetabolisme lambat, frekuensi alel *2 (78,8%) lebih tinggi dibandingkan frekuensi alel *3 (21,2%). Orang Papua memiliki kemungkinan yang jauh lebih tinggi untuk  memiliki metabolisme lambat daripada orang Bali (OR 11,0; P = 0,002). Prevalensi pemetabolisme yang lambat lebih rendah dibandingkan dengan pemetabolisme cepat dan sedang pada pasien gastritis dan penyakit gastroesophageal reflux.

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa di Indonesia, pemetabolisme sedang memiliki prevalensi paling tinggi, diikuti dengan pemetabolisme cepat dan pemetabolisme lambat. Oleh karena itu, penyesuaian dosis harus dipertimbangkan saat memberikan terapi berbasis PPI di antara etnis-etnis di Indonesia.

Penulis : Muhammad Miftahussurur

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada link artikel berikut :

AKSES CEPAT