51动漫

51动漫 Official Website

Pompholyx Atipikal Sekunder akibat Infeksi Staphyloccoccus dan Klebsiella pada Pasien Penyakit Jantung

Ilustrasi sakit jantung. (Foto: suara.com)

Pompholyx atau eksim dishidrotik, juga dikenal sebagai dermatitis dishidrotik, ditandai dengan lepuhan berisi cairan yang tegang dan dalam yang muncul pada telapak tangan dan kaki terutama di sisi samping jari. Lepuhan tersebut diawali dengan rasa sangat gatal dan terkadang disertai nyeri. Eksim dishidrotik adalah bentuk dermatitis palmoplantar vesikular yang berulang atau kronis (RVPD). Kasus yang paling awal terjadi pada usia 5 bulan dan paling lambat pada usia 15 tahun. Sebagian besar kasus bersifat jarang namun penyebab pastinya tidak diketahui. Dalam kondisi parah, infeksi bakteri sekunder pada pompholyx oleh Staphyloccoccus atau Streptococcus umum terjadi dan menyebabkan nyeri, bengkak, dan benjolan kecil berisi nanah di tangan dan kaki.

Seorang gadis berusia 15 tahun datang ke Poli Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dengan keluhan utama luka progresif dan benjolan kecil berisi nanah di kaki dan tangannya yang awalnya muncul 6 bulan sebelum masuk rumah sakit. Kondisi ini memburuk selama sebulan terakhir, disertai rasa gatal dan nyeri di area yang mengalami erosi. Pasien memiliki penyakit jantung bawaan yaitu anomali Ebstein dan defek septum atrium sekundum sedang yang diketahui pada saat usia 9 tahun.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya RVPD pada individu yang rentan yaitu atopik, kontak allergen atau iritan, infeksi dermatofit, alergi terhadap logam yang tertelan (khususnya nikel dan kobalt), hiperhidrosis (produksi keringat berlebihan), penggunaan sarung tangan dalam waktu lama, pengobatan imunoglobulin intravena, stres psikologis, dan merokok.  Kemungkinan besar penyebab pompholyx pada pasien tersebut adalah hiperhidrosis yang mungkin berhubungan dengan penyakit jantung bawaannya (anomali Ebstein) menyebabkan kondisi penurunan aliran darah yang dapat menghambat pengiriman oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka yang baik. Pemeriksaan kultur dari spesimen nanah didapatkan Staphylococcus aureus dan Klebsiella aerogenes.

Manajemen RVPD melibatkan upaya untuk mengurangi gejala, mencegah flare-up, dan memberikan perawatan yang dapat mempercepat proses penyembuhan. Perawatan luka terdiri dari balutan basah dengan cairan infus normal saline pada erosi dan pelembab dengan salep minyak ikan cod dan gel hidrokoloid alami. Pasien diberikan cloxacillin 250 mg setiap 6 jam dan parasetamol 250 mg setiap 8 jam secara oral. Untuk gejala jantung, pasien telah rutin mengonsumsi spironolakton 25 mg sekali sehari dan propranolol 5 mg setiap 8 jam per oral. Pasien juga mendapatkan kloramfenikol 500 mg setiap 12 jam selama 14 hari berdasarkan hasil pemeriksaan kultur nanah. Lesi kulit berangsur-angsur membaik, mengelupas, dan mengering setelah menjalani regimen pengobatan komprehensif yang terdiri dari pengobatan topikal untuk kulit (kortikosteroid), obat sistemik untuk mengatasi infeksi sekunder, dan obat gangguan jantung.

Penulis: Prof. Parwati Setiono Basuki, dr., M.Sc., DTM&H., Sp.A (K)

Link Artikel

AKSES CEPAT