Humas (9/12/2022) | Hari AIDS Sedunia yang diperingati tiap tanggal 1 Desember menjadi salah satu rangkaian hari dalam peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP). Oleh karena itu, kegiatan 16 HAKTP yang diinisiasi oleh BEM FH UNAIR menggelar webinar yang berjudul “Men, Woman, vs AIDS”. Mr. Julian dari Yayasan AIDS Indonesia diundang sebagai pemateri pada webinar tersebut.
Julian menjelaskan bahwa Orang dengan HIV-AIDS (ODHA) telah ada di tiap provinsi di Indonesia, sejak awal masuknya HIV-AIDS di Indonesia pada tahun 1987. Ia memfokuskan terkait bagaimana masyarakat harus merespon terhadap fenomena ini. Tentunya, partisipasi masyarakat terkait AIDS adalah dalam meningkatkan kesadaran guna mengurangi mitos, stigma dan diskriminasi di setiap lapisan masyarakat.
“AIDS di Indonesia masih menjadi fenomena gunung es. Berarti yang terdeteksi dengan jumlah sebenarnya itu perbedaannya jauh,” ujar Julian.
Pada dasarnya, penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) itu disebabkan oleh virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). Julian mengatakan bahwa virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh pada manusia sehingga tubuh menjadi rentan terhadap serangan penyakit. Di dalam tubuh terdapat sel darah putih yang bertugas untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, dan kuman penyakit. Dengan adanya HIV di dalam tubuh, maka sel darah putih akan dihancurkanya.
“HIV berada di 4 media cairan, yaitu: cairan darah, cairan vagina, air susu ibu, dan cairan sperma. Oleh karena itu, transmisi HIV bisanya melalui perbuatan seperti transfusi darah, jarum tato, dan hubungan seks. Satu hal harus yang dipahami adalah HIV tidak akan menular melalui pegangan tangan, berpelukan, atau makan bersama,” ujar anggota LSM itu.
Julian menuturkan bahwa pencegahan AIDS di masyarakat dapat dilakukan melalui teknik ABCDE. A berarti abstinence yang berarti tidak melakukan hubungan seksual sebelum melangsungkan perkawinan. B adalah be faithful yakni tidak ganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual. C adalah menggunakan kondom bila melakukan hubungan seksual.
“D berarti don’t use drugs, yakni jangan sekali-sekali menjadi pengguna narkoba. Terutama, narkoba yang menggunakan jarum suntik. Yang terakhir adalah education, yang berarti kita harus mencari informasi yang akurat terkait HIV-AIDS,: tutup Julian.
Penulis: Pradnya Wicaksana




