Humas FH (06/11/2025) | Mahasiswa Fakultas Hukum 51动漫 (FH UNAIR) kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang kompetisi hukum tingkat nasional. Pada gelaran Gadjah Mada Law Competition (GMLC) 2025, dua tim delegasi FH UNAIR berhasil tampil gemilang. Tim Megamendung meraih Juara 1 sekaligus penghargaan Berkas Legal Opinion (LO) Terbaik, sementara Tim Bebekan berhasil mengamankan posisi Juara 3, mempertegas kemampuan analitis dan argumentatif mahasiswa UNAIR dalam ranah keilmuan hukum.
Tim Megamendung yang beranggotakan Akhmad Revan Satwika (2023), Dewangga Putra Prayoga (2023), dan Keisha Pramudhita Bernadi (2023) mengusung isu mengenai pertanggungjawaban korporasi dalam insiden pengeboran minyak dan gas (migas). Tema tersebut menuntut kajian meluas lintas disiplin, mencakup hukum lingkungan, hukum perusahaan, serta aspek perdata. Revan menuturkan bahwa timnya sejak awal telah menargetkan penyusunan legal opinion yang tidak hanya kokoh secara teoretis, tetapi juga memiliki relevansi praktis. 淜ami berupaya merumuskan opini hukum yang kuat secara akademik, namun tetap realistis dan dapat diimplementasikan sebagai solusi bagi klien, ungkap Revan.
Dewangga menambahkan bahwa tantangan terbesar terletak pada pengelolaan waktu di tengah padatnya kegiatan akademik. Untuk menyempurnakan analisis, mereka melakukan konsultasi dengan akademisi dan praktisi hukum lingkungan sehingga hasil kajian mereka tidak hanya tajam secara argumentatif, tetapi juga memiliki landasan empiris yang kredibel. Kerja sama tim yang telah terbangun jauh sebelum kompetisi membuat proses penyusunan strategi berlangsung lebih solid. Upaya konsisten tersebut akhirnya membawa Tim Megamendung meraih Juara 1 dan predikat Best Legal Opinion File. 淜emampuan mengkaji permasalahan hukum secara konkret merupakan keterampilan penting bagi calon sarjana hukum. Kompetisi seperti ini melatih kami menghadapi hal tersebut, tambah Revan.
Pada sisi lain, Tim Bebekan, yang beranggotakan Raymond Tjionardes (2023), Cornellius Matthew Wijono (2023), dan Moch Iqbal Maulana (2023) juga berhasil tampil mengesankan dan membawa pulang Juara 3. Tim ini mengangkat isu pengeboran minyak dan peristiwa blowout, sebuah kajian yang memerlukan pemahaman mendalam atas aspek teknis dan pertanggungjawaban hukum. Raymond menjelaskan bahwa pengalaman mengikuti berbagai kompetisi sebelumnya menjadi modal penting yang membantu tim bertahan dalam tekanan kompetisi. 淜ami ingin mencoba atmosfer baru dan menguji sejauh mana kemampuan kami dapat bersaing secara nasional, tutur Raymond.
Matthew menambahkan bahwa tim sempat mengalami kendala pada tahap pemberkasan karena kesalahan formatting yang menyebabkan pengurangan poin. Meski demikian, mereka tidak membiarkan hambatan tersebut mengganggu performa pada sesi presentasi. Justru, mereka tampil lebih percaya diri dengan mengedepankan artikulasi yang jelas, ritme penyampaian yang efektif, serta pemilihan istilah hukum yang tepat sasaran. Hasilnya, mereka memperoleh nilai presentasi tertinggi di luar penilaian berkas. 淜ami mengutamakan penyampaian argumen yang runtut dan mudah dipahami. Setiap poin disusun agar menjawab kebutuhan kasus dan pertanyaan juri secara menyeluruh, jelas Matthew.
Baca Juga:
Raihan prestasi dua tim ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FH UNAIR tidak hanya unggul dalam basis akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi, ketangguhan mental, dan keberanian bersaing di tingkat nasional. Kedua tim sepakat bahwa kunci keberhasilan terletak pada disiplin, komunikasi yang efektif, serta keberanian untuk terus mencoba dan belajar dari setiap proses. Prestasi ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa FH UNAIR lainnya untuk aktif mengikuti kompetisi hukum, mengasah kapasitas analitis, serta memperkuat kemampuan argumentasi sebagai bekal menuju dunia profesional.
Penulis : Angelique Novelyn
Editor : Masitoh Indriani




