Dapat berkuliah di luar negeri merupakan pengalaman yang mengesankan bagi setiap mahasiswa. Sebagai mahasiswa hukum, terdapat banyak pilihan negara untuk mengembangkan kemampuan analisis hukum mereka, salah satunya negara Swiss.
Adhitya Rasyid Nugroho adalah mahasiswa Fakultas Hukum 51动漫 (FH UNAIR) angkatan 2020 yang menjadi awardee program Airlangga Global Engagement (AGE) di Université de Genéve (UNIGE). Melalui wawancara dengan FH News pada Jumat (6/1/2023), mahasiswa yang akrab disapa Adhit itu menjelaskan bahwa program ini merupakan program student exchange antara UNAIR dengan UNIGE yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa UNAIR untuk melakukan studi kuliah selama satu semester di UNIGE secara offline.
“Puji syukur, saya dan satu rekan saya dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR terpilih menjadi mahasiswa program student exchange ini. Kegiatan ini dilakukan secara tatap muka di UNIGE yang terletak di Kota Jenewa, Swiss. Program ini dilaksanakan selama enam bulan yaitu dari September 2022 sampai Februari 2023,” jelas Adhit.
Adhit juga menjelaskan persyaratan untuk mendaftar program student exchange tersebut. Ia mengatakan mendapatkan informasi dari laman AGE langsung.
“Saya mendaftar setelah mendapatkan informasi dari laman AGE. Untuk pendaftaran memang saya akui lumayan sulit prosedurnya, terutama mengenai pendaftaran visa di Kedutaan Besar Swiss di Jakarta. Tetapi, setelah saya tanya ke teman-teman saya di PTRI (Perutusan Tetap Republik Indonesia, Red) Jenewa dan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia, Red) Bern, ternyata mereka mengalami kendala yang sama terkait urusan visa dengan Kedutaan Besar Swiss. Namun, untuk syarat dari UNIGE dan UNAIR sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit, kurang lebih seperti persyaratan program student exchange pada umumnya, seperti perlu melampirkan sertifikat kemampuan bahasa Inggris, transkrip nilai akademik, motivation letter, dan study plan,” tuturnya.
Adhit menceritakan program yang ia ikuti adalah program Certificate in Transnational Law (CTL) yang merupakan program khusus yang ditawarkan oleh UNIGE bagi mahasiswa S1 tahun ketiga atau mahasiswa S2 Ilmu Hukum untuk mendalami bidang hukum internasional. Dalam program tersebut, ia mengambil lima mata kuliah yang berbobot masing-masing enam kredit, yaitu World Trade Organization Law and Practices, International Arbitration, International Commercial Litigation, Comparative Law in Contract Law, dan International Capital Markets Law.
“Selama mengikuti kuliah ini, saya mendapatkan wawasan baru, terutama mengenai bagaimana proses hukum bekerja di Uni Eropa, misalnya terkait kompetensi dan jurisdiction yang diatur dalam Brussels I Regulation dan Lugano Convention, serta beberapa keunikan Swiss sebagai negara di Eropa Barat yang tidak tergabung dalam Uni Eropa. Selain itu, saya juga tentunya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai negara, karena memang kelas-kelas yang saya ambil adalah kelas bahasa Inggris yang memang didominasi oleh peserta student exchange seperti saya. Karena itu, saya bertemu dengan teman-teman sesama mahasiswa student exchange dari Australia, Austria, Turki, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, Singapura, dan berbagai negara lainnya,” ujar Adhit.
Pengalaman paling berkesan menurut Adhit yaitu saat ia mengikuti kelas World Trade Organization Law and Practices. Saat itu, dosennya, Profesor Gabrielle Marceau mengadakan pertemuan kelas di headquarters World Trade Organization. Profesor Marceau adalah seorang ahli hukum yang bekerja di World Trade Organization sebagai Counselor in Legal Affairs Division of World Trade Organization sejak tahun 1994 dan ia mendapatkan izin dari World Trade Organization langsung untuk mengadakan pertemuan di dalam gedung milik mereka, tepatnya di dalam ruangan General Council World Trade Organization.
“Selesai kelas, kami diajak berkeliling oleh Profesor Marceau untuk melihat-lihat isi gedung. Selain itu, menurut saya pengalaman paling berkesan lainnya adalah saat saya bertemu dengan rekan-rekan dari Indonesia yang bekerja dan tinggal di Swiss, seperti di PTRI Jenewa dan beberapa rekan Indonesia yang bekerja atau magang di World Health Organization. Pertemuan saya dengan mereka semua merupakan hal yang berkesan karena saya juga bisa mendapatkan relasi yang keren-keren,” paparnya.
Sebagai penutup, Adhit menyampaikan ia merasa sangat senang dan bersyukur dapat berkuliah di Jenewa. Itu juga alasan utama ia tertarik dengan program CTL dari AGE ini karena keinginan dan impian besarnya untuk dapat berkuliah di Jenewa, Swiss. Ia juga berpesan kepada para mahasiswa di luar sana, khususnya untuk mahasiswa FH UNAIR, agar tidak berhenti untuk bermimpi dan berusaha mewujudkan impiannya satu per satu.
Penulis : Dewi Yugi Arti
Caption Foto : Adhitya Rasid Nugroho dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss, Muliaman Hadad. (Foto: Dokumentasi Narasumber)




