Humas FH (14/03/2025) | , dosen (FH UNAIR) yang merupakan wakil dari Woman in Maritime Indonesia (WIMA) turut berpartisipasi dalam 3rd Global Project Task Force yang berlangsung di Truntum Kuta Bali, Indonesia. Kegiatan ini berlangsung pada 10-12 Maret 2025 dan diikuti oleh berbagai negara, dengan jumlah peserta kurang lebih 300 orang.
3rd Global Project Task Force disponsori oleh GloFouling, United Nations Development Programme (UNDP), dan International Maritime Organization (IMO). Kegiatan ini telah diselenggarakan sebanyak tiga kali dan pertemuan kali ini menjadi penutup dari program yang telah berlangsung sejak tahun 2018 dan akan berakhir pada bulan Mei 2025 mendatang. Program ini membahas tentang pengelolaan biofouling pada kapal untuk mencegah kerusakan lingkungan, terutama dalam hal invasi yang dapat mengancam ekosistem perairan.
Dr. Nilam menyatakan bahwa dalam forum tersebut, setiap negara memiliki kesempatan untuk melaporkan perkembangan terkait pengelolaan biofouling pada kapal. Negara kita, Indonesia masih belum memiliki regulasi khusus untuk menangani permasalahan biofouling. Namun, secara internasional terdapat panduan biofouling yang diterbitkan oleh IMO pada tahun 2023. Indonesia sebagai anggota IMO mengikuti panduan tersebut karena kapal-kapal berbendera Indonesia yang melakukan pelayaran internasional wajib mematuhi standar yang telah ditetapkan oleh IMO.
“Nantinya, akan ada sister project dari GloFouling ini yang melibatkan negara-negara lain. Langkah selanjutnya, isu biofouling ini kemungkinan besar akan dijadikan sebagai konvensi khusus di bawah IMO, serupa dengan proses yang terjadi pada Ballast Water Management (BWM) yang awalnya dimulai sebagai proyek inisiasi dan kemudian didorong untuk menjadi sebuah konvensi internasional.” ujar beliau.
Baca Juga:
Pada dasarnya, biofouling adalah penempelan organisme seperti teritip, mikroorganisme, dan makroorganisme pada suatu struktur, termasuk pada lambung kapal. Ketika mikroorganisme tersebut menempel dan berkembang biak menjadi koloni, seperti yang terjadi pada propeller kapal, hal ini dapat menyumbat aliran air yang secara otomatis mengurangi efisiensi daya luncur kapal. Akibatnya, kapal memerlukan lebih banyak bahan bakar untuk tetap melaju. Peningkatan konsumsi bahan bakar ini akan menyebabkan peningkatan emisi gas buang, yang pada gilirannya berkontribusi pada pencemaran udara melalui emisi gas rumah kaca.
At the end of the day, hal ini akan terus-menerus memperburuk dampak perubahan iklim sehingga pengendalian biofouling menjadi sangat penting untuk mencegah efek negatif tersebut. Secara scientific, biofouling juga berpotensi menjadi saluran penyebaran spesies invasif ke lingkungan baru. Ketika organisme-organisme ini menempel pada kapal dan dibawa ke perairan baru, terdapat kemungkinan besar bahwa spesies lokal akan terancam dan tergantikan yang dapat mengubah keseimbangan ekosistem. Perubahan ekosistem ini dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, kepunahan spesies asli, dan berbagai dampak negatif lainnya.
Penulis: Angelique Novelyn
Editor: Masitoh Indriani




