Humas FH (29/10/2025) | Fakultas Hukum 51动漫 (FH UNAIR) kembali menyelenggarakan kuliah tamu inspiratif pada Selasa, 28 Oktober 2025, bertempat di Gedung A.G. Pringgodigdo. Kegiatan ini menghadirkan narasumber ahli di bidang kelautan, Ir. Wahyudi Citrosiswoyo, M.Sc., Ph.D., Dosen Program Studi Teknik Lepas Pantai, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dengan mengusung tema 淎spek Geologi Laut dalam Penentuan Batas Landas Kontinen.
Kegiatan kuliah tamu ini bertujuan memperkaya wawasan mahasiswa hukum, khususnya dalam bidang hukum laut internasional dan hukum batas wilayah negara, melalui perspektif ilmu geologi dan oseanografi. Dalam paparannya, Dr. Wahyudi menjelaskan bahwa landas kontinen memiliki arti penting yang sangat besar, baik secara ekonomi maupun geopolitik. 淟andas kontinen berperan vital dalam ekstraksi sumber daya energi, jalur komunikasi global, hingga penelitian ilmiah yang berdampak pada ekonomi nasional dan global, jelasnya.
Dilanjutkan dengan penjelasan proses pembentukan dasar laut, Dr. Wahyudi menyoroti peran gerakan lempeng tektonik, baik divergen, konvergen, maupun transform. Gerakan divergen membentuk pematang tengah samudra (mid oceanic ridge), sedangkan gerakan konvergen menciptakan palung laut dalam (deep-sea trench). Aktivitas vulkanisme pun turut membentuk gunung laut, pulau vulkanik, hingga guyot atau gunung laut datar.
Dalam sesi selanjutnya, Dr. Wahyudi menjelaskan tiga satuan utama morfologi dasar laut, yakni batas benua (continental margin), cekungan laut dalam (deep sea basin), dan pematang tengah samudra (mid oceanic ridge). Ia juga menekankan bahwa pemahaman mengenai morfologi dasar laut menjadi krusial dalam menentukan batas landas kontinen antarnegara, sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Baca Juga:
Menariknya, beliau mengungkapkan bahwa hingga saat ini baru sekitar 5% permukaan dasar laut dunia yang berhasil dipetakan secara akurat. Hal ini disebabkan keterbatasan teknologi dan biaya tinggi yang dibutuhkan untuk melakukan pemetaan laut dalam. 淭eknologi seperti echo-sounding memang tersedia, tetapi prosesnya lambat dan memerlukan sumber daya besar, ujarnya.
Kuliah tamu ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif dan interaktif. Para mahasiswa tampak antusias mengajukan pertanyaan terkait hubungan antara aspek geologi laut dengan delimitasi batas wilayah negara, termasuk bagaimana Indonesia dapat memperkuat klaim landas kontinen melalui pendekatan ilmiah.
Melalui kegiatan ini, FH UNAIR menunjukkan komitmennya untuk terus menghadirkan perspektif lintas disiplin dalam memahami isu-isu hukum internasional. Materi yang disampaikan tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara ilmu hukum dan ilmu kelautan dalam menjaga kedaulatan serta kepentingan nasional Indonesia di wilayah laut.
Penulis: Jessica Ivana Haryanto
Editor: Masitoh Indriani




