Azzahra Dewa Isatilova saat menjelaskan materi ecoprint. (Foto: Istimewa)
FIB NEWS – Mahasiswa memiliki peran penting dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada poin ketiga, Pengabdian kepada Masyarakat, mengharuskan mahasiswa untuk mengabdi dan memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
Desa dan Kampung Mitra (Deputra) 7.0 merupakan program kerja Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) (BEM) 51动漫 (FIB UNAIR) yang menjadi wadah mahasiswa untuk melakukan tugasnya dalam memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Program kerja ini telah terlaksana sejak tujuh tahun berturut-turut dengan tujuan mengembangkan potensi yang ada di desa dan kampung mitra.
Pelaksanaan Deputra 7.0 di desa mitra, Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, berlangsung selama sepuluh hari, mulai dari Senin (13/1/2025) hingga Rabu (22/1/2025). Di tahun ketujuh ini, Deputra 7.0 menginisiasi kegiatan-kegiatan inovatif yang menyesuaikan kondisi masyarakat setempat. Salah satu kegiatan dalam Deputra 7.0 adalah Workshop Ecoprint.
Workshop Ecoprint ini terselenggara pada Minggu (19/1/2025) di Rumah RT. 5 Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Pada kesempatan itu, hadir Azzahra Dewa Isatilova, mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, untuk menyampaikan materi mengenai ecoprint.
Mengenal Eco-print
Zahra, sapaan akrabnya, memaparkan secara detail mengenai ecoprint kepada warga yang datang pada kegiatan workshop. Ia menerangkan bahwa ecoprint adalah suatu konsep mentransfer warna dari daun, bunga, batang, ataupun akar ke media kain.
Ecoprint ini merupakan jenis batik terobosan baru yang memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan utamanya. Hasil jadi ecoprint umumnya berupa kemeja, dompet kecil, baju, kebaya, topi, dan sebagainya.
Batik ecoprint masih jarang ditemui di pasar perdagangan. Untuk itu, peluang untuk menjual produk ini semakin tinggi. “Dari workshop ecoprint ini nantinya ibu-ibu bisa menjadikannya ide untuk sumber ekonomi atau mata pencaharian. Ecoprint ini juga harganya cenderung mahal daripada batik yang lain karena bikinnya rumit dan belum banyak,” tutur Zahra.

Sesi praktik pembuatan ecoprint bersama warga Desa Ngampungan. (Foto: Istimewa)
Praktik Pembuatan Ecoprint
Terdapat dua teknik dalam membuat batik ecoprint, yaitu memukul dan mengukus. Dengan teknik memukul, pembuatan ecoprint cukup dengan menata rapi tanaman-tanaman di atas media kain, lalu melapisinya dengan plastik, dan memukulnya. Produksi jumlah banyak tidak dapat menggunakan teknik ini, biasanya teknik memukul hanya sebagai praktik kecil untuk masyarakat yang ingin mencoba membatik ecoprint.
Berbeda dengan teknik memukul, teknik mengukus lebih sering industri gunakan untuk memproduksi batik ecoprint dalam skala besar. Cara membuat dengan teknik ini juga cukup rumit dibanding teknik memukul. “Pertama, kain perlu direndam semalaman di larutan berisi kapur, tunjung, tawas, dan cuka supaya warnanya bisa menempel di kain. Kedua, daunnya ditata rapi, lalu digulung. Terakhir, dikukus selama satu hingga dua jam,” papar Zahra.
Setelah sesi pemaparan materi oleh Zahra, warga yang hadir pada workshop ini juga mengikuti praktik pembuatan ecoprint dengan teknik mengukus. Di sesi praktik, warga kian antusias dalam menyusun tanaman untuk menciptakan pola indah pada masing-masing batiknya.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas.
Penulis: Selly Imeldha
Editor: Nuri Hermawan




