FIB NEWS – Sebagai bagian dari civitas akademika 51动漫 (UNAIR), para dosen tak hanya berperan dalam dunia pendidikan, tetapi juga aktif menyebarkan ilmu dan memberi kontribusi nyata kepada masyarakat. Hal ini juga berlaku bagi Kukuh Yudha Arnanta, S.S., M.A., dosen (FIB) UNAIR. Ia berkesempatan menjadi pembicara dalam acara Kajian Publik Membangun Nilai-Nilai Historis, Daya Juang, dan Nasionalisme pada pameran bersama Museum 淎ustralia. yang bertujuan untuk memperkuat karakter generasi bangsa. Kegiatan ini sukses terlaksana di Museum Dr. Soetomo, Surabaya pada Selasa (27/5/2025).
Definisi Nasionalisme
Pada awal pemaparan materi, Kukuh menampilkan data yang menunjukkan bahwa tingkat nasionalisme masyarakat Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya. Ia menjelaskan bahwa penurunan tersebut terpengaruh oleh munculnya fenomena globalisasi. Namun, Kukuh berpendapat bahwa data tersebut berdasar pada pemahaman masyarakat terhadap nasionalisme yang masih terikat pada ingatan masa lalu.
Menurut Kukuh, banyak orang mendefinisikan nasionalisme seolah-olah harus merujuk pada kondisi masa lampau. Sehingga, ia menekankan bahwa situasi saat ini sudah jauh berbeda. Saat ini, Indonesia tidak lagi mengalami penjajahan atau perlawanan seperti dahulu.
淜arena perbedaan tersebut muncullah frasa baru yaitu everyday nationalism. Suatu istilah yang menghubungkan aksi nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari, jelasnya.
Aktualisasi Semangat Pahlawan
Lebih lanjut, Kukuh menjelaskan bahwa everyday nationalism terwujud oleh masyarakat melalui pengaktualisasian nilai-nilai perjuangan para pahlawan bangsa. Ia mencontohkan hal ini dengan merujuk pada enam tokoh pahlawan yang kisah perjuangannya turut tersaji dalam pameran di Museum Dr. Soetomo, Surabaya. Keenam tokoh tersebut adalah Eduard Douwes Dekker, H.O.S. Tjokroaminoto, Soetomo, R.A. Kartini, W.R. Supratman, dan Ki Hajar Dewantara.
Dalam pemaparannya, Kukuh menjelaskan secara rinci bagaimana masing-masing tokoh memberikan kontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia, baik melalui pemikiran hingga pendidikan. Ia menyoroti pentingnya memahami jasa mereka tidak hanya sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebagai bentuk aktualisasi nilai perjuangan tersebut, Kukuh merumuskan tiga premis utama yang dapat menjadi landasan dalam menerapkan everyday nationalism. 淵ang pertama adalah mengetahui cara menghadapi situasi yang penuh tantangan. Lalu yang kedua adalah keberanian untuk menghadapi bahaya. Terakhir, pemantapan sikap untuk melayani masyarakat, jelasnya.
Terakhir, Kukuh menekankan bahwa esensi kepahlawanan terletak pada keberanian untuk berjuang demi meraih sesuatu yang lebih besar. 淜epentingan itu bisa bagi diri sendiri maupun masyarakat. Hal tersebut juga bisa berlaku bagi siapa saja dan di mana saja, pungkasnya.
Kajian publik ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Nadia Azahrah Putri
Editor: Nuri Hermawan




