Pembacaan serat ambiya
51动漫 mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat (Pengmas) di Desa Kemloko. Desa Kemloko merupakan salah satu desa yang ada di Kabupaten Blitar yang hingga saat ini memegang erat kebudayaan serta nilai-nilai tradisi yang kental.
Beragam adat istiadat masih gencar dilestarikan di desa tersebut, salah satu diantaranya adalah Serat Ambiya. Masyarakat Kemloko biasa melakukan tradisi membaca serat yang memiliki ketebalan 300 halaman tersebut pada saat tertentu, yakni ketika perayaan kelahiran bayi sampai bayi berusia tujuh hari tau sepasar.
Namun, perayaan kelahiran atau tujuh hari bayi ini tidak dilakukan oleh semua keluarga. Melainkan kembali kepada keputusan pemilik hajat ingin menyelenggarakan tradisi tersebut atau tidak. Penutur akan diundang oleh sang pemilik hajat atau keluarga bayi dan dibayar seikhlasnya. Awal mula tradisi lisan ini masuk di tengah masyarakat Kemloko dimulai dari pewarisan salinan Layang Ambiya.
Salinan tersebut merupakan peninggalan leluhur desa yang didapatkan dari Mataram, tepatnya Ndegelen. Kisahnya, ketika terjadi perang Diponegoro, beberapa orang yang selamat melarikan diri hingga ke Desa Kemloko dengan membawa Layang. Serat Ambiya juga merupakan cikal bakal kesenian khas masyarakat Blitar, Reog Bulkiyo pada tahun 1825 – 1830.
Banyak hal menarik yang dapat dijumpai dari pembacaan serat ambiya ini, salah satunya melodi atau nada yang dilantunkan oleh penembang. Pasalnya Naskah Serat Ambiya yang berisikan sebelas tembang macapat yang ditulis berbahasa Jawa dalam huruf Arab dimana pada setiap pembacaan, masing-masing memiliki nada atau lagu tersendiri.
Terdengar sederhana namun sulit untuk langsung ditirukan karena dalam pembacaannya tidak dapat dengan sembarangan. Terdapat aturan nada saat pembacaan pada tiap judul tembang dalam serat. Salah satu penembang serat Ambiya yang masih eksis, Bapak Nasrudin memberikan keterangan jika pada umumnya penembang atau pembaca serat menggunakan cengkok Bablok Tengahan Maijo Karto Hadiningrat.
Berdasarkan hasil wawancara bersama Pak Sutrisno yang merupakan salah satu pelaku pembacaan Serat Ambiya di desa tersebut, didapati makna dari 11 tembang macapat dalam Serat Ambiya. Menurut keterangan beliau, bahwa serat ambiya ini berkisah tentang perjalanan kehidupan manusia dari saat ia berbentuk janin hingga ia meninggal, 淣ggeh mbak, tembang macapat niki nyeritakaken tentang perjalanan urip e menungso.., terang beliau dalam suatu wawancara. Demikian urutan dan makna dari 11 tembang macapat dalam Serat Ambiya :
- Maskumambang (janin), bercerita terkait tahapan awal kehidupan manusia pada saat berada di dalam kandungan.
- Mijil (terlahir), mencerminkan simbolisasi mengenai munculnya suatu biji atau benih dalam kehidupan. Secara filosofis, tembang ini menggambarkan proses kelahiran manusia di dunia.
- Sinom (muda), merujuk pada kaum muda, dapat diartikan masa anak-anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan.
- Kinanthi (dipandu), berisikan pesan atau wejangan yang berfungsi sebagai pedoman atau petunjuk terkait pembentukan identitas diri.
- Asmaradhana (api asmara), penggambaran ketika manusia tengah berada dalam fase jatuh cinta dengan pasangannya.
- Gambuh (sepaham/cocok), mencerminkan hubungan manusia yang telah menemui kecocokan serta mengisahkan cara manusia berinteraksi dengan sesama manusia dan belajar untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan.
- Dhanndanggula (manisnya kehidupan), menggambarkan kehidupan manusia dimana menikmati buah yang telah ditanam selama hidupnya, juga berisikan pesan terkait bagaimana menyatakan harapan kepada sesama manusia.
- Durma (mundurnya tata krama), menggambarkan fase hidup manusia ketika mendapatkan nikmat dari Tuhan berupa kecukupan. Dengan begitu, seharusnya banyak berbagi pada sesama dan banyak bersyukur atas kenikmatan tersebut.
- Pangkur (menarik diri), mencerminkan kehidupan manusia yang mulai menarik diri dari duniawi dan lebih mendekatkan diri melalui spiritualitas atau rohani.
- Megatruh (sakaratul maut), mengisahkan tentang berakhirnya fase hidup manusia di dunia, yaitu ketika manusia dipisahkan dari raganya atau meninggal.
- Pucung (kematian/dipocong), berisikan tentang perjalanan akhir hidup manusia di alam baka.
Tembang macapat dalam Serat Ambiya mengandung banyak sekali nilai-nilai kehidupan, dan menjadi pengingat bagi manusia jika hidup pasti terdapat awal dan akhir. Oleh sebab itu, pelestarian tradisi pembacaan Serat Ambiya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kemloko sudah sepatutnya diteruskan. Terutama bagi generasi-generasi muda yang nantinya akan bertanggung jawab atas adat istiadat yang ada di daerahnya.




