Surabaya, 6 Juni 2024 – 51动漫 (FIB UNAIR) dengan bangga mengadakan seminar nasional yang bertajuk “Sungai, Rempah, dan Jejak Peradaban Indonesia”. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 6 Juni 2024, di Ruang Siti Parwati, FIB UNAIR, dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Seminar ini menghadirkan lima pembicara, yakni:
- Dr. Muslimin AR Effendi, Drs. M. Hum. – Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII
- Dr. Sarkawi, S.S., M.Hum. – 51动漫
- Prof. Nawiyanto, M.A., Ph.D. – Guru Besar Sejarah Lingkungan Universitas Jember
- Dr. La Ode Rabani, S.S., M.Hum. – 51动漫
- Eni Sugiarti, S.S., M.Hum. – 51动漫
- Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, S.S., M.A. – 51动漫
Tema Seminar: Mengolah Rempah, Memanjakan Rasa
Dr. Sarkawi memulai pembahasannya dengan menyoroti kuliner sebagai simbol dan refleksi pandangan dunia (worldview). Kuliner, menurutnya, bukan sekadar soal makanan, tetapi mencerminkan budaya, keterampilan, pengetahuan, nilai sosial, dan sistem kepercayaan. Setiap hidangan memiliki filosofi dan sejarah tersendiri. Kutipan dari Jean Anthelme Brillat-Savarin, “Tell me what you eat, I檒l tell you who you are”, menunjukkan bahwa apa yang kita makan mencerminkan identitas dan budaya kita.
Kuliner dan Konflik
Dr. Sarkawi juga membahas konflik yang sering kali timbul seputar klaim makanan antar bangsa. Contohnya, konflik antara Indonesia dan Malaysia mengenai rendang, serta Lebanon yang menuntut Israel atas klaim hak cipta makanan hummus. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya makanan dalam identitas budaya suatu bangsa.
Wilayah Geo-Historis Nusantara
Dalam pembahasannya, Dr. Sarkawi menguraikan lima wilayah geo-historis yang membentuk keindonesiaan dan karakter kebudayaannya:
- Selat Malaka: Pengaruh kuat dari bangsa India dan Tiongkok.
- Selat Sunda: Konektivitas dengan pelayaran laut menghubungkan Lampung dan Banten.
- Laut Jawa: Hubungan lama antara Banjar dengan Jawa, dengan pengaruh budaya India, Tiongkok, dan Melayu.
- Selat Makassar: Pelabuhan-pelabuhan didirikan oleh pedagang Bugis.
- Laut Maluku: Mencakup pulau-pulau rempah seperti Banda, Ambon, dan Seram.
Kuliner Kalimantan Selatan
Soto Banjar menempati urutan pertama dalam kuliner Kalimantan Selatan, merepresentasikan percampuran budaya dan akulturasi bumbu rempah seperti lada atau merica. Rempah ini telah menjadi komoditi perdagangan penting sejak akhir abad ke-16 dan mengalami puncak kejayaan pada abad ke-17 hingga abad ke-18.
Sungai dan Peradaban
Sungai memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban. Di Kalimantan Selatan, sungai bukan hanya sebagai jalur transportasi tetapi juga pusat kegiatan ekonomi dan sosial. Laporan perjalanan pada abad ke-19 mencatat adanya 49 anak sungai dan 184 kampung di sepanjang tepian sungai.
Seminar ini menegaskan bahwa sungai dan rempah-rempah telah membentuk jejak peradaban Indonesia. Kuliner, sebagai salah satu manifestasi budaya, merefleksikan sejarah dan identitas bangsa. Selain itu, sungai menjadi faktor penting dalam perkembangan kota-kota dan pusat perdagangan di Nusantara.




