51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

FIB Gelar Diskusi Teori Kritis Bersama Akademisi Austria

Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris bersama akademisi asal Austria

Dokumentasi: Panitia

FIB NEWS51¶¯Âþ (FIB UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk From Text to Context: The Relevance of Critical Theories in the Age of Digital Culture yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris pada hari Jumat (19/02/2026). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Parlinah, Lantai 3, Perpustakaan Kampus B UNAIR.

Akademisi asal Austria, Mag Dr Stefan Kutzenberger menyatakan bahwa di era digital ini media sosial rentan dipengaruhi oleh berbagai relasi kuasa yang dapat dianalisis melalui tiga perspektif teori kritis.

œTeori kritis adalah alat yang kuat untuk menembus permukaan. Dari situ, kita dapat mengungkap realita di balik standarisasi yang mengikuti kita di seluruh dunia, ujarnya.

Marxisme, Feminisme, dan Postkolonialisme dalam Budaya Digital

Marxisme biasanya dipahami sebagai pendekatan yang menyoroti adanya pembagian kelas-kelas sosial. Menurut Stefan, di era digital ini pembagian kelas-kelas sosial tersebut masih kerap terlihat.

œMedia sosial seperti Instagram juga sering menunjukkan adanya pembagian kelas sosial, ungkapnya.

Selain marxisme, feminisme di era digital seringkali mendapat perspektif keliru dari laki-laki yang memandang perempuan atas dasar kepuasan diri. Stefan juga menambahkan adanya istilah male gaze yang membuat perempuan tidak bisa menunjukkan dirinya dengan perasaan aman di media sosial.

Terakhir, postkolonialisme hadir sebagai bentuk kekuasaan yang dimiliki negara maju atas negara berkembang. Stefan menggambarkan postkolonialisme melalui analisis foto turis yang melanggar aturan berpakaian saat ke Bali.

œMisalnya, ada turis yang mengenakan pakaian terbuka berfoto di tempat ibadah dan diunggah ke media sosial. Seharusnya foto itu tidak boleh diunggah karena itu tempat suci bagi warga lokal. Di sini, dapat diamati adanya kesan postkolonialisme yang pada dasarnya turis merupakan warga negara asing yang tidak menghormati adat di Indonesia terutama di Bali, jelasnya.

Penggunaan AI dalam Budaya Digital

Penggunaan AI dalam era modern ini bukan menjadi hal yang asing. Stefan menuturkan AI telah menjadi bagian dari realitas budaya kehidupan manusia.

œMeskipun AI bukan sesuatu yang bisa kita katakan nyata, tetapi AI telah menjadi kenyataan, ucapnya.

Ia juga menegaskan diperlukannya kewaspadaan dalam menggunakan AI. Meski cerdas, AI tetaplah sebuah sistem yang tak tergantikan dengan pengetahuan masyarakat.

œAnda harus mempelajari budaya Anda. Dengan pengetahuan, Anda bisa melawan orang-orang kapitalis super ekstrem yang kehilangan kontak dengan budaya mereka, ucapnya.

Melalui kuliah tamu From Text to Context: The Relevance of Critical Theories in the Age of Digital Culture peserta diharapkan dapat membawa nilai-nilai kemanusiaan dalam mencapai perubahan pada dunia kelak. Oleh karena itu, kegiatan ini telah mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan yang Berkualitas.  

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Putri Andini

AKSES CEPAT