Pemberian Materi oleh pembicara
Sumber: Unit Digitalisasi dan Kehumasan FIB UNAIR
Pada saat ini, penggunaan AI dalam dunia akademik mulai dinormalisasi. Berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh AI membuat mahasiswa memanfaatkannya untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Namun, tidak jarang mahasiswa menjadi ketergantungan pada AI. Diskursus mengenai penggunaan AI itulah yang dibahas dalam kuliah tamu Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris 51动漫 (FIB UNAIR) pada Selasa, (19/11/2024). Kegiatan tersebut bertempat di Aula Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, 51动漫. Mengangkat tema 淭he Use of Artificial Intelligence for Academic, acara itu menghadirkan Dr. Hema Rosheny Binti Mustafa dari Universiti Teknologi Malaysia sebagai pembicara.
Pemanfaatan AI dalam dunia akademik
Artificial Intelligence atau AI adalah teknologi yang dirancang untuk dapat memecahkan sebuah permasalahan. Produk-produk AI seperti Grammarly, Chat Gpt, Quillbolt biasanya digunakan oleh mahasiswa. Mahasiswa menggunakan AI untuk membantu mereka melakukan pemrosesan bahasa, mendapatkan ide, hingga membuat kerangka sebuah tulisan ilmiah. Namun, jawaban tidak dapat disalin AI begitu saja. Mahasiswa perlu menggabungkan hasil dari pemanfaatan AI dengan ide kreatif dan orisinil mereka sendiri.
淎lthough we use Chat Gpt or other AI writing tools, we must be aware of the impact it has on your writing, of course, your assignment, and also on your own integrity, ungkap Hema.
Perlunya etika penggunaan AI
Sadar maupun tidak, jawaban yang diberikan oleh AI-generated acapkali tidak memiliki sumber yang jelas untuk dicantumkan dalam sebuah tulisan ilmiah. Itulah alasan pentingnya melakukan pengecekan ulang sumber untuk meminimalisir terjadinya plagiarisme. Selain itu, penggunaan AI juga cukup riskan bagi akademisi apabila digunakan sebagai rujukan untuk sebuah isu sensitif. Hal itu karena informasi yang diberikan oleh AI tidak terverifikasi sehingga dikhawatirkan terjadi misinformasi.
淲hatever is being generated by AI tools, especially when it comes to politics. It may not represent your argument or your belief. Right, so that is why it went by misrepresentation, jelas Hema.
Selaku peneliti sosial media, Hema mengungkap bahwa pemanfaatan AI dalam dunia akademik perlu disertai etika penggunaannya. Hal itu penting mengingat seorang akademisi harus menjunjung tinggi integritas. Selain itu, penggunaan AI yang tidak sesuai dengan etika menimbulkan berbagai konsekuensi. Mulai dari penurunan nilai akademik, menimbulkan ketergantungan, hingga penurunan daya berpikir kritis.
Kesesuaian dengan SDGs
Kegiatan kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB UNAIR tersebut merupakan bentuk dorongan Bagi tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) terutama pada poin ke-4 mengenai pendidikan yang berkualitas. Melalui adanya diskusi mengenai penggunaan AI di masa sekarang, diharapkan mahasiswa mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak tanpa mengurangi nilai integritas yang dijunjung.
Penulis: Arina Nida A




