51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Humanicast Hadirkan Dr. Layli Hamida Bahas Bahasa dan Literasi

FIB NEWS “ , 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) melalui program Humanities Podcast atau Humanicast menghadirkan segmen Kepakaran Dosen. Pada episode kali ini, Humanicast menghadirkan Dr. Layli Hamida, S.S., M.Hum., dosen Bahasa dan Sastra Inggris yang mendalami bidang sosialisasi bahasa dan literasi. Diskusi yang dipandu oleh Kendall Anjeanette ini mengulas pentingnya bahasa dan literasi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di tengah tantangan era digital.

Dalam pemaparannya, Dr. Layli menjelaskan bahwa ketertarikannya terhadap bidang bahasa dan literasi sudah muncul sejak jenjang sarjana. Ia memulai dari kajian pemerolehan bahasa, yaitu bagaimana anak-anak memperoleh kemampuan berbahasa sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan. Namun, penelitian tersebut kemudian berkembang pada aspek yang lebih luas, yakni bagaimana budaya dan lingkungan berpengaruh terhadap sosialisasi bahasa serta literasi.

œBahasa bukan hanya soal bunyi, struktur kalimat, atau kosakata. Lebih jauh, bahasa berkaitan erat dengan budaya dan kebiasaan sehari-hari. Literasi juga tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi bagaimana keterampilan tersebut digunakan untuk menjawab tantangan hidup, jelasnya.

Menurut Dr. Layli, literasi dapat dipahami melalui dua paradigma. Pertama, paradigma kognitif yang menekankan kemampuan membaca dan menulis. Kedua, paradigma sosial budaya yang melihat literasi sebagai praktik nyata dalam kehidupan, misalnya menulis catatan, membuat daftar belanja, atau menulis surat resmi. Dalam paradigma sosial budaya, literasi lebih aplikatif dan menjadi bagian dari budaya masyarakat.

Lebih lanjut, Dr. Layli menegaskan bahwa lingkungan keluarga berperan penting dalam pembentukan literasi anak. Kebiasaan sederhana seperti orang tua membacakan cerita, menulis pesan singkat, atau membiasakan anak untuk menulis dapat membantu anak beradaptasi di sekolah. Sebaliknya, anak yang tidak terbiasa dengan budaya literasi di rumah berpotensi mengalami kesulitan ketika memasuki dunia pendidikan formal.

Selain itu, Dr. Layli juga menyinggung tantangan literasi dan bahasa di era digital. Menurutnya, era digital telah menghapus batas-batas negara dan membuka peluang interaksi lintas budaya serta bahasa. Hal ini menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mempelajari berbagai bahasa asing, tidak hanya bahasa Inggris, tetapi juga bahasa lain seperti Prancis, Mandarin, maupun Jepang.

Namun, Dr. Layli mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menghadapi era digital. Generasi muda dituntut untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif media sosial, tetapi juga memahami cara kerja platform digital agar terhindar dari hoaks dan penipuan. œMenjadi digitally literate sangat penting agar kita mampu menggunakan dunia digital secara cerdas, tambahnya.

Di akhir diskusi, Dr. Layli menekankan bahwa kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan. Kebijakan pemerintah yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa asing, bukan bahasa kedua, menjadi salah satu hambatan. Meski demikian, ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan berbagai aplikasi dan platform digital yang kini tersedia luas sebagai sarana berlatih bahasa asing dan meningkatkan literasi.

Humanicast sendiri merupakan program podcast FIB UNAIR yang menghadirkan berbagai topik seputar ilmu budaya, kepakaran dosen, serta isu-isu akademik dan sosial. Melalui program ini, FIB UNAIR berharap dapat memperluas wawasan masyarakat dan menghadirkan kontribusi nyata dalam pengembangan budaya literasi di Indonesia.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT