Dr. Kavitha Ganesan saat memaparkan materi terkait Lokalitas Lundayeh
Penulis: 鈦燫ifdah Fadhillah | Editor: Lady Khairunnisa Adiyani
(MKSB), , 51动漫 (FIB UNAIR) mengadakan Joint Online Class bersama Universiti Malaysia Sabah (UMS) pada Rabu (25/09/2024) melalui zoom meeting. Acara ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa baik mahasiswa dari FIB UNAIR maupun UMS untuk mengikuti kelas gabungan internasional.
Joint Online Class ini termasuk kuliah tamu kolaborasi ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa FIB pada lokalitas kebudayaan lintas negara. Lokalitas budaya sendiri merujuk pada suatu tempat atau wilayah tertentu yang memiliki ciri khas karena budaya, masyarakat, serta lingkungan.
Pembicara pertama dalam acara tersebut, dosen tamu dari Universiti Malaysia Sabah, Dr. Kavitha Ganesan menjelaskan tentang Locality and strategies for the preservation and development of local culture: the case of Lundayeh in Sabah.
Locality and strategies for the preservation and development of local culture: the case of Lundayeh in Sabah.
Dr. Kavitha menjelaskan bahwa jika mempelajari masyarakat pribumi, seperti masyarakat pedalaman di sekitar laut berbeda dengan masyarakat yang diluar pedalaman, hal ini terlihat dari Lundayeh di Sabah. Istilah Lundayeh berasal dari kata Lun berarti orang dan Dayeh berarti hulu sehingga dapat diartikan bahwa masyarakat berhubungan dengan aliran sungai.
Ia juga mengatakan bahwa orang Lundayeh asalnya dari dataran tinggi Kerayan-Kelabit, memiliki sejarah yang kaya karena masyarakatnya dapat bertahan hidup secara nomaden sebagai pemburu-pengumpul dengan mempraktikkan pertanian, seperti mengumpulkan sayur, buah, dan sebagainya. Menariknya, mereka bercocok tanam padi dan membuat 淧adi Bukit
Namun, masyarakat di sana mengalami challenging untuk bertahan hidup. 淎da salah satu suku yang tinggal di Lundayeh, Sabah, yaitu Long Pasia atau dalam bahasa Malaysia dikenal dengan Lung Pa’ Sia, ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Kavitha membagikan strategi pelestarian budaya lokal yang dapat diterapkan dengan cara mempraktikkan masakan tradisional, bercocok tanam yang dilakukan pada bulan September di sawah, mempertahankan tradisi terkait rumah panjang, dan kesadaran melalui kegiatan penelitian. Dari beberapa metode ini dapat mencegah terkikisnya budaya Lundayeh.
淎da intervensi yang lebih terstruktur, seperti Sekolah Adat yang telah direncanakan oleh penduduk desa, mungkin berguna untuk pelestarian budaya lokal terutama karena ini merupakan inisiatif yang berasal dari dalam ke luar, ujarnya.
Philosophy of Cosmopolitanism in the Multicultural Island: The Case of Borneo Kalimantan
Lalu pembicara kedua, Dr. Shaffarullah bin Abdul Rahman menjelaskan tentang Philosophy of Cosmopolitanism in the Multicultural Island: The Case of Borneo Kalimantan. Ia mengatakan bahwa multikultural merujuk pada keragaman bahasa, agama, dan etnis yang terjalin secara kaya.
Letak geografis Kalimantan Barat (Kalbar) sangat strategis karena berada di satu daratan pulau Kalimantan, berbatasan dengan Sarawak, Malaysia, dan di sebelah barat berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.
淎sia Tenggara merupakan rumah bagi ribuan kelompok etnolinguistik; di Indonesia saja, terdapat lebih dari 1.300 kelompok adat yang diakui secara resmi, tuturnya.
Diakhir kelas, Dr. Shaffarullah menyampaikan bahwa perlu kita ketahui bahwa kemunculan identitas nasional modern yang dibentuk oleh batas-batas kontemporer tidak hanya bertentangan dengan konsep kewarganegaraan global yang tidak dibatasi secara jelas oleh batas-batas darat atau laut.
Kegiatan Joint Class ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education dan nomor 17, yaitu partnership for goals.




