51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kisah Inspiratif Iqbal, Mahasiswa FIB Dirikan Platform Reduka

Iqbal, pendiri platform belajar Reduka. (Foto: Isimewa).

FIB NEWS “ Kisah inspiratif datang dari seorang mahasiswa 51¶¯Âþ (FIB UNAIR). Iqbal Rohim Alfarizi, yang saat ini menempuh studi Bahasa dan Sastra Jepang itu merintis sebuah platform belajar bernama Reduka.

Reduka merupakan platform belajar yang berfokus untuk membantu generasi muda Indonesia yang terpaksa putus sekolah. Selain itu, Reduka juga menyediakan fasilitas belajar gratis bagi siswa-siswi SMA/SMK/Sederajat yang membutuhkan bimbingan untuk masuk ke perguruan tinggi. Fasilitas yang Iqbal hadirkan salah satunya mentoring gratis bagi para mahasiswa di seluruh Indonesia yang membutuhkan pelatihan dan bimbingan lomba esai hingga karya tulis ilmiah. 

Manfaatkan Waktu Luang di Masa Gap Year

Perjuangan Iqbal mendirikan Reduka bermula kala ia harus menelan pil pahit di tahun 2020 silam. Saat itu, Iqbal mengalami kegagalan dalam meraih kampus impiannya dan terpaksa memutuskan gap year. Namun, Iqbal tak begitu saja menyerah karena kegagalan tersebut. Menariknya, Iqbal justru memanfaatkan waktu tersebut untuk membantu siswa-siswi di daerahnya yang terpaksa putus sekolah.

œAwalnya itu bermula saat aku di masa gap year dulu. Aku melihat banyak anak muda di daerahku yang putus sekolah. Akhirnya aku bekerja sama dengan sesama teman seperjuanganku yang sedang gap year. Lalu kami berinisiatif menawarkan bimbingan belajar gratis kepada mereka yang putus sekolah, ujar Iqbal. 

Kepedulian Iqbal beserta teman-temannya terhadap dunia pendidikan membuat mereka kemudian menggalang donasi untuk kebutuhan penyediaan fasilitas belajar bagi generasi muda di daerahnya yang terpaksa putus sekolah. 

œDulu sempat bingung juga mau belajar di mana, akhirnya saya memanfaatkan rumah nenek, ya meskipun apa adanya, bisa dibilang jauh dari kata layak. Sampai akhirnya saya dan teman-teman menggalang donasi untuk perbaikan atap rumah dan lain-lain, tutur Iqbal. 

Menapaki Lika-liku Perjuangan

Berawal dari memberikan bimbingan belajar gratis, Iqbal akhirnya memutuskan untuk mendirikan platform belajar yang ia harapkan bisa memberikan manfaat yang lebih besar. Platform itu ia beri nama Reduka œRevolusi Edukasi.

Bersama ketiga teman seperjuangannya ketika gap year, Iqbal mulai merintis langkah demi langkah untuk membesarkan nama Reduka. Berbagai tantangan telah ia lewati, mulai dari keterbatasan tempat mengajar, pengajar yang hanya berjumlah empat orang (Iqbal dan ketiga temannya), waktu yang terbatas karena kesibukan masing-masing pengajar, dan penyesuaian metode belajar.

œYa walaupun dulu itu tantangannya banyak sekali, tapi kita saat itu tetap optimis berjuang agar program Reduka terus berlanjut, ucap Iqbal. 

Di tahun 2023, Reduka sempat terhenti sejenak karena faktor kesibukan pengajar. Namun tahun 2024 lalu, Reduka kembali aktif dengan membawakan program kerja baru, yaitu bimbingan belajar UTBK untuk persiapan masuk perguruan tinggi dan mentoring lomba bagi para mahasiswa. 

Saat ini, Reduka memiliki tiga program kerja unggulan, yakni Lentera, Sigma, dan Genius. Program Lentera berfokus pada bimbingan belajar bagi anak muda Indonesia yang terpaksa putus sekolah. Lalu program Sigma berfokus pada bimbingan belajar persiapan UTBK untuk masuk ke perguruan tinggi. Terakhir, program Genius berfokus pada mentoring lomba bagi mahasiswa di seluruh perguruan tinggi Indonesia.

œSeberat apapun lika-liku kehidupan, hal yang paling utama adalah bagaimana kita memfokuskan apa tujuan kita ketika mendapatkan lika-liku tersebut, pungkas Iqbal. 

Kisah Iqbal itu mendukung upaya Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu quality education.

Penulis: Rava Adistya Hanum

Editor: Nur Khovivatul Mukorrobah

AKSES CEPAT