51动漫

51动漫 Official Website

Kuliah Tamu Basasindo UNAIR Bahas Inovasi Pengajaran Sastra

Dr. Shakiratul Hanany Binti Abdul Rahman saat menyampaikan materi dalam Kuliah Tamu Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Basasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR. (Foto: Istimewa)

FIB NEWS – Sebagian individu menilai bahwa pembelajaran sastra dalam konteks akademik sering kali terasa membosankan karena terlalu berfokus pada kegiatan membaca teks secara pasif. Fenomena ini menjadi sorotan dari Dr. Shakiratul Hanany Binti Abdul Rahman dalam Kuliah Tamu 51动漫 (UNAIR). Kegiatan tersebut terselenggara pada Selasa (24/5/2025) di Ruang Prapanca Gedung FIB, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR. 

Dosen Universiti Malaysia Sabah (UMS) itu mengungkapkan bahwa pendekatan pengajaran sastra yang digunakan cenderung tidak tepat sehingga timbul rasa ketidaktertarikan peserta didik. “Pembelajaran sastra khususnya di Malaysia lebih bertumpu pada guru yang mengajar,” tuturnya.

Perombakkan Fokus Pengajaran

Lebih lanjut, Dr. Shakiratul mengenalkan metode pengajaran sastra berbahasa Inggris yang lebih efektif. Ia menyebut metode Student Centered Learning. Pendekatan ini menekankan peran aktif peserta didik dalam proses pembelajaran dengan menjadikan mereka bukan hanya penerima materi, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam kegiatan belajar-mengajar.

“Metode pembelajaran student centered ini dapat direalisasikan melalui pementasan drama, pertunjukkan, bercerita, atau respons kreatif lain. Hal ini guna membina kemahiran berbahasa Inggris, percaya diri, dan cinta terhadap sastra,” ujar Dr. Shakiratul.

Process Drama

Secara spesifik, Dr. Shakiratul membahas tentang keunggulan process drama sebagai salah satu metode Student Centered Learning. Ia menjelaskan bahwa process drama merupakan ruang kolaboratif tempat peserta didik dan pengajar secara spontan menciptakan serta mengeksplorasi dunia fiksi melalui improvisasi, tanpa bergantung pada naskah.

Process drama itu tidak berfokus pada pementasan akhir. Jadi tujuan akhirnya bukan mempersembahkan drama yang apik, tetapi sebagai tempat berkolaborasi untuk mengeksplorasi ide, emosi, dan perspektif yang kompleks,” jelas Dr. Shakiratul.

Selama kegiatan berlangsung, peserta didik berperan aktif dalam menyusun dan mengembangkan alur cerita. Mereka memiliki kendali penuh dalam membentuk karakter dan dinamika narasi yang muncul, sehingga tercipta ruang yang mendorong kreativitas dan kemandirian.

Dalam hal ini, peran pengajar sangat krusial sebagai fasilitator yang mendukung, bukan sebagai penilai mutlak. Dr. Shakiratul menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang suportif. “Kalau saya sebagai pengajar bahasa Inggris, saya tidak perlu memberitahu ‘ini salah’ atau ‘ini benar’, karena jika melakukan kesalahan yang harus dilakukan adalah memberi kesempatan mereka (peserta didik, Red) untuk membenarkannya, pungkasnya.

Kegiatan kuliah tamu ini mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat, yaitu pendidikan yang berkualitas.

Penulis: Selly Imeldha

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT