FIB NEWS – , (FIB) 51动漫 (UNAIR), kembali menyelenggarakan kegiatan akademik berskala internasional melalui kuliah tamu bertajuk Japan and China: Perspective from the History of Japanese Literature. Acara ini berlangsung pada 11 November 2025 di Ruang Majapahit, Tower ASEEC, Kampus B UNAIR.
Pada kesempatan tersebut, Departemen Bahasa dan Sastra Jepang menghadirkan Prof. Nishihara Daisuke dari Tokyo University of Foreign Studies sebagai pembicara utama. Kehadiran akademisi yang telah lama meneliti hubungan intelektual antara Jepang dan Tiongkok dalam lintasan sejarah sastra ini menjadi daya tarik besar bagi mahasiswa, dosen, serta peneliti yang hadir.
Sambutan Pembuka dan Gambaran Umum Materi
Dalam pemaparannya, Prof. Nishihara mengawali dengan membagikan pengalamannya selama perjalanan dari Tokyo menuju Surabaya. Ia menuturkan bagaimana interaksi antara masyarakat Indonesia dan Jepang tampak bahkan dalam penerbangan, mencerminkan kedekatan hubungan kedua negara yang kian berkembang.
Setelah pengantar ringan tersebut, Prof. Nishihara mulai masuk pada inti materi yang membahas dinamika hubungan sastra Jepang dan Tiongkok dari era kuno hingga modern. Ia menegaskan bahwa pemahaman tentang relasi kedua negara tidak hanya tampak dalam aspek politik, tetapi juga tercermin kuat dalam perkembangan karya sastra dari masa ke masa.
Sejarah Relasi Sastra Jepang揟iongkok
Menurut Prof. Nishihara, pengaruh Tiongkok terhadap Jepang sangat dominan pada masa awal terbentuknya sastra Jepang. Pada periode kuno, Jepang banyak mengadopsi kebudayaan dan sistem penulisan dari Tiongkok. Hal ini terlihat pada penggunaan aksara kanji dan penyusunan karya-karya awal seperti mitologi dan catatan sejarah kekaisaran Jepang.
Namun, perubahan signifikan terjadi pada awal abad ke-10 setelah melemahnya Dinasti Tang. Jepang mulai mengukuhkan identitas sastra nasional melalui penggunaan hiragana dan lahirnya karya-karya monumental seperti Kokin Wakash奴 hingga Genji Monogatari. Periode ini menandai pergeseran besar dari ketergantungan budaya Tiongkok menuju penguatan tradisi literasi Jepang.
Pada era berikutnya, terutama pada zaman samurai dan masa invasi Mongol, persepsi Jepang terhadap Tiongkok semakin kompleks. Tiongkok tidak lagi sekadar panutan budaya, tetapi juga dipandang sebagai negara pesaing. Pergeseran ini turut membentuk tema-tema dalam karya-karya sastra periode tersebut.
Pengaruh Barat dan Transformasi Modern
Memasuki periode Edo hingga modern, Prof. Nishihara menjelaskan bahwa Jepang mulai membuka diri pada pengaruh Barat, terutama melalui 淩angaku atau studi Belanda. Dari sinilah Jepang mendapati bahwa pengetahuan Barat memberikan perspektif baru yang lebih maju dibandingkan literatur Tiongkok.
Tokoh seperti Fukuzawa Yukichi bahkan menyerukan pentingnya modernisasi dengan meninggalkan ketergantungan intelektual pada Tiongkok. Menurut Prof. Nishihara, perubahan cara pandang inilah yang kemudian mempengaruhi dinamika sastra modern Jepang dan perannya dalam membentuk identitas kebudayaan Jepang pada era global.
Penutup
Kuliah tamu ini memberikan wawasan komprehensif mengenai bagaimana hubungan Jepang dan Tiongkok berkembang dalam jalur sastra selama lebih dari seribu tahun. Para peserta mendapatkan pemahaman mendalam tentang bagaimana perubahan sosial-politik turut memengaruhi arah perkembangan literatur kedua negara.
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya perspektif akademik mahasiswa, tetapi juga mempertegas komitmen Departemen Bahasa dan Sastra Jepang FIB UNAIR dalam menghadirkan pembelajaran berstandar internasional melalui kolaborasi dengan para pakar dunia. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




