FIB NEWS “ , 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) menggelar kuliah tamu yang menghadirkan sejarawan internasional, Dr. Jovan ÄŒavoÅ¡ki dari Institute for Recent History of Serbia. Kegiatan ini berlangsung pada 3 November 2025 di Ruang Herodotus dan diikuti oleh mahasiswa serta dosen yang tertarik pada kajian sejarah politik global.
Dalam kuliah tamu bertajuk The Historical Role of the Non-Aligned Movement, Dr. Čavoški memaparkan perjalanan panjang Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement/NAM) sejak kemunculannya pada era Perang Dingin hingga relevansinya di dunia internasional saat ini. Ia menjelaskan bahwa akar gerakan ini telah tumbuh sejak tahun 1950-an sebagai respons negara-negara berkembang terhadap ketegangan global.
Gerakan Non-Blok sebagai Respons Dunia Pasca-Kolonial
Menurut Dr. Čavoški, sebagian besar negara anggota awal Gerakan Non-Blok merupakan negara yang baru lepas dari kolonialisme dan mencari jalan untuk mempertahankan kemandirian politiknya. Gerakan ini menjadi wadah bagi negara-negara Asia, Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin untuk menolak keterlibatan dalam blok kekuatan besar, baik dari Timur maupun Barat.
Ia menyoroti peran Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 sebagai salah satu muatan penting bagi tumbuhnya semangat non-blok. Namun, ia menegaskan bahwa warisan Bandung memiliki keterbatasan, sehingga negara seperti Yugoslavia, India, dan Mesir mulai mendorong terbentuknya kerangka baru yang lebih inklusif. Upaya tersebut kemudian mengarah pada pelaksanaan Konferensi Belgrad 1961 yang menjadi tonggak penting bagi terbentuknya Gerakan Non-Blok modern.
Puncak Gerakan Non-Blok pada 1970-an
Dr. ÄŒavoÅ¡ki menjelaskan bahwa dekade 1970-an merupakan masa kejayaan NAM. Pada periode tersebut, dunia mengalami »åé³Ù±ð²Ô³Ù±ð atau meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, sehingga membuka ruang bagi negara-negara non-blok untuk memainkan peran lebih aktif dalam diplomasi global.
NAM kemudian berkembang menjadi organisasi internasional dengan agenda yang jelas, terutama terkait pemerataan ekonomi global, dan kerja sama negara-negara Selatan (South-South Cooperation). Upaya ini dianggap sebagai salah satu tantangan paling serius terhadap struktur ekonomi global yang dikuasai negara-negara Barat.
Tantangan dan Kemunduran
Memasuki era 1980-an, Gerakan Non-Blok menghadapi sejumlah tantangan, termasuk krisis ekonomi negara-negara berkembang, perang Iran-Irak, hingga bangkitnya kembali ketegangan Perang Dingin. Perpecahan internal antara kelompok œmoderat dan œradikal juga memperlemah konsolidasi organisasi. Meski demikian, konferensi New Delhi tahun 1983 menjadi momen pemulihan dengan mengembalikan fokus gerakan pada nilai-nilai dasar seperti perdamaian, kemerdekaan, dan pembangunan.
Relevansi NAM di Dunia Kontemporer
Dalam penutupannya, Dr. Čavoški menegaskan bahwa meskipun tidak lagi sepopuler masa Perang Dingin, Gerakan Non-Blok tetap menjadi forum strategis bagi negara-negara berkembang. Prinsip non-blok kini hadir dalam berbagai bentuk, termasuk strategi strategic autonomy dan multivector policy yang digunakan banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk menjaga kemandirian kebijakan luar negeri.
œGerakan Non-Blok mungkin mengalami pasang surut, namun kontribusinya terhadap dekolonisasi, kerja sama global, dan perjuangan menuju tatanan dunia yang lebih adil akan selalu tercatat dalam sejarah, tegasnya.
Kuliah tamu ini menambah wawasan mahasiswa mengenai peran negara-negara berkembang dalam percaturan global, sekaligus memperkuat komitmen Prodi Ilmu Sejarah FIB UNAIR dalam menghadirkan perspektif internasional dalam kegiatan akademik. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




