Rafida Mumtaz (pojok kanan atas) saat menyampaikan materi mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan karya ilmiah pada Kelas Lipres gelombang ketujuh, Minggu (27/4/2025). (Foto: Dokumen Pribadi)
FIB NEWS “ (BSO Lipres) 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) sukses menyelenggarakan Kelas Lipres gelombang ketujuh pada Minggu (27/4/2025) secara daring melalui Zoom Meeting. Kelas ini menghadirkan Rafida Mumtaz, Lulusan Terbaik Program Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia FIB UNAIR tahun 2023 dan juga alumni BSO Lipres, sebagai pembicara.
AI Bukan Jalan Pintas
Dalam pemaparannya, Rafida menekankan pentingnya melihat kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu, bukan pengganti proses berpikir dan menulis manusia. Ia berpendapat bahwa kita seharusnya menggunakan AI untuk mendukung kemampuan literasi, bukan menggantikan kreativitas atau proses belajar yang telah kita bangun sebelumnya.
“AI itu ibarat pisau, bisa kita gunakan untuk hal positif atau negatif, tergantung siapa yang menggunakannya,” ujar Rafida. Ia juga mengingatkan bahwa bagi para pemula supaya menggunakan AI secara bijak, agar mereka tidak bergantung pada teknologi tanpa melalui proses pembelajaran yang matang.
Mengingat potensi AI yang sangat besar, Rafida juga mendorong peserta untuk menjadikan AI sebagai mitra untuk meningkatkan produktivitas dan keterampilan. Namun, ia menegaskan bahwa AI bukan jalan pintas. “Yang ingin kita kembangkan adalah penulisnya, bukan cuma hasil tulisannya,” tambahnya.
Optimalisasi Literasi Akademik di Era Digital
Kelas Lipres memiliki misi untuk memperkuat literasi akademik mahasiswa FIB dan mempersiapkan mereka menghadapi tantangan teknologi, seperti AI. Nur Khovivatul Mukorrobah, Ketua Divisi Riskel, Riset dan Keilmuan BSO Lipres, menekankan bahwa tema ini penting untuk menjaga integritas dan orisinalitas keilmuan di tengah maraknya penggunaan AI.
“Risiko plagiat makin besar dengan AI, jadi penting tetap menjaga etika dan menulis dengan flow manusiawi,” ungkapnya dalam wawancara dengan Humas Muda (27/4/2024). AI harus pengguna imbangi dengan kesadaran kritis agar tidak terjerumus dalam kemalasan intelektual.
Viva juga berharap Kelas Lipres kedepannya lebih terbuka, tidak hanya untuk anggota internal, tetapi juga untuk mahasiswa lintas BSO dan fakultas. “Kami ingin banyak mahasiswa, termasuk yang baru, bisa ikut bergabung,” ungkapnya.
Keberlangsungan Kelas Lipres kali ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yakni Quality Education, serta nomor 17, Partnerships for the Goals.
Penulis: Gustyosih Chesta Pramesti
Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda




