51动漫

51动漫 Official Website

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Nobar Reog Bulkiyo

UNAIR NEWS – Kunjungan mahasiswa Program Studi (Prodi) 51动漫 ke Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Blitar sukses digelar pada hari Jumat (25/05/2023) dan Sabtu (26/05/2023). Kunjungan tersebut diadakan dalam rangka praktik kuliah lapangan mata kuliah Folklor.

Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa sangat antusias dalam mempelajari salah satu bentuk folklor yang ada di masyarakat, yakni yang notabenenya masih jarang diketahui oleh banyak orang. Meski demikian, Reog Bulkiyo merupakan salah satu kebudayaan tak benda asli Desa Kemloko yang kini telah diakui UNESCO.

Folklor sendiri adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Jan Harold Brunvand, seorang ahli folklor AS (dalam Danandjaja, 2002) menggolongkan folklor ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, antara lain folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan.

Berdasarkan bentuknya, Reog Bulkiyo termasuk folklor sebagian lisan karena merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan. Disebut sebagai folklor karena kesenian ini merupakan warisan leluhur yang berasal dari prajurit Diponegoro. Kesenian Reog Bulkiyo telah diwariskan secara turun-temurun hingga kini menginjak generasi ke-5. Berikut fakta menarik Reog Bulkiyo:

1.   Alat musiknya dibawa dari Mataram, Jawa Tengah

Dalam kesenian Reog Bulkiyo, iringan musik berasal dari gong, bende, pecer, kempul, kepyek, dan rebana. Nasrudin, penasehat sanggar seni Reog Bulkiyo menuturkan bahwa bende yang hingga kini dipakai (disebut juga sebagai kenong yang terbuat dari kuningan) dibawa langsung oleh pasukan Diponegoro yang dipimpin Sentot Prawirodirejo saat melarikan diri ke Desa Kemloko pada peperangan tahun 1825-1830 silam. Menurut beliau, terdapat akulturasi kebudayaan dalam kesenian ini, berupa alat musik bende yang merupakan peninggalan Hindu dan rebana yang merupakan kebudayaan Islam.

2.   Kostum yang dikenakan bernuansa merah putih

Berbeda dengan Reog Ponorogo yang mengenakan serba hitam dan dadak merak sebagai ciri khasnya, para pemain Reog Bulkiyo tampil nyentrik dengan busana serba warna merah dan putih. Bahkan ikat kepala yang disebut udheng gilik bawang sebungkul juga berwarna merah dan putih.

淭idak ada tradisi atau baju adat tertentu. Hanya udheng gilik bawang sebungkul saja. Jadi sebelum Indonesia merdeka, Reog Bulkiyo sudah memakai merah putih, itu ciri khususnya, selain itu nggak ada, ungkap Nasrudin.

3.   Merupakan sarana berlatih perang

Sejak melarikan diri ke Desa Kemloko, prajurit Diponegoro berlatih perang untuk tetap mengasah skill mereka dalam berperang. Sebagai kamuflase, mereka mengemasnya dalam kesenian tari. Oleh karena itu, inti gerakan dalam Reog Bulkiyo adalah perang dengan menggunakan pedang yang mengandalkan ketangkasan pemainnya.

Ada total sembilan orang penari yang terdiri dari dua orang yang membawa pedang, satu orang dalang yang membawa rontek (bendera), dan enam orang pemukul rebana. Berikut adalah gerakan dalam tarian Reog Bulkiyo beserta filosofinya:

  1. Laku kurmat, melambangkan memantapkan diri dan kesiapan mental
  2. Iring-iring prajurit, melambangkan kesiapan seorang prajurit mengikuti atasannya
  3. Lincak gagak, melambangkan kelincahan dan kegagahan seorang prajurit
  4. Rubuh-rubuh gedhang, melambangkan hidup manusia ibaratnya seperti pohon pisang akan mati dan hanya tunduk/takut kepada Allah
  5. Untir-untir, melambangkan kewaspadaan agar terlindung dari segala macam cobaan
  6. Singget, melambangkan hanya memohon dan meminta perlindungan hanya kepada Allah SWT
  7. Ngasah gaman, melambangkan kepintaran seseorang apabila tidak diasah secara terus menerus akan semakin tumpul
  8. Solah, melambangkan pencarian jati diri, bacokan melambangkan mengadu kekuatan dengan pedangnya masing-masing.

Hingga kini, gerakan dalam tarian Reog bulkiyo masih pakem. Akan tetapi, jika dahulu kesenian ini hanya dimainkan oleh laki-laki saja, sekarang siapapun dapat menjadi penari. Bahkan banyak siswa-siswi baik SD maupun SMP yang mempelajari kesenian ini, mereka didapuk menjadi generasi penerus.

4.   Pedang patuh kepada si penari

Tidak ada ritual khusus yang dilakukan sebelum maupun sesudah pementasan Reog Bulkiyo. Akan tetapi, ketika mengulik terkait hal mistis, Nasrudin membeberkan sedikit ceritanya, 渢etapi ada keanehan dalam Reog Bulkiyo, kalau pedang putus nggak mau mletik tekan adoh cuma jatuh di bawah sang pembawa pedang. Kemarin saya bermain di kota, itu pedangnya putus, nah, harusnya mencelat kena penonton tapi itu nggak mau, aneh. Beberapa kali ketika putus pasti jatuh di bawah yang perang.

Padahal saat digunakan berperang seringkali gesekan antar pedang menghasilkan percikan api. Akan tetapi, menurut penuturan warga setempat, jarang sekali pedang terputus. Apabila terputus pedang hanya akan jatuh di bawah penarinya, sehingga penonton tidak perlu khawatir.

Reog Bulkiyo, sebuah peninggalan budaya yang tak ternilai harganya, telah melintasi waktu dan tetap menjadi daya tarik utama dalam industri kesenian tradisional di Desa Kemloko. Dengan gerakannya yang menggugah semangat, kesenian ini telah memperkaya warisan budaya Indonesia. Kesenian Reog Bulkiyo perlu dijaga dan dilestarikan agar dikenal oleh banyak orang di berbagai penjuru dunia dan dapat memberikan inspirasi bagi generasi mendatang.

AKSES CEPAT