Muhimatul Khoiriyah dan timnya mendirikan komunitas Colourise untuk mengurangi adiksi gawai bagi anak penderita kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya. (Foto: Istimewa).
FIB NEWS – Anak-anak penderita kanker sering kali menghadapi berbagai tantangan, tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi juga dalam memperoleh pendidikan. Berawal dari keresahan terhadap adiksi gawai yang dialami anak-anak penderita kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya, tiga mahasiswa (Basasindo) 51动漫 (FIB UNAIR) mendirikan komunitas bernama Colourise.
Menurut Muhimatul Khoiriyah selaku CEO Colourise, anak-anak di yayasan sering menghabiskan waktu hingga 12 jam sehari saat mengakses gawai. Hal ini terjadi lantaran mereka tidak bisa bersekolah seperti anak-anak lain seusianya.
Lebih lanjut, wali dari anak-anak tersebut cenderung memberikan akses gawai tanpa batas sebagai hiburan agar mereka tidak mengalami stres. Namun, kebiasaan ini justru menimbulkan permasalahan baru, yakni adiksi gawai yang berlebihan.
淜ami terdorong untuk berinovasi menciptakan opsi hiburan lain yang sesuai dengan antusiasme dan kondisi fisik anak-anak, sekaligus menurunkan tingkat adiksi gawai mereka. Dari sinilah Colourise lahir dengan inovasi terapi seni lukis, jelas Muhimatul.
Berfokus pada Pendidikan Anak Kanker
Colourise didirikan oleh Muhimatul Khoiriyah bersama kawan-kawannya, yaitu Anisa Nanda Shafira dan Haikal Wiranata. Ketiga mahasiswa Basasindo angkatan 2022 itu, menyoroti bahwa aspek pendidikan bagi anak-anak kanker perlu mendapat perhatian khusus.
Hima, sapaan dekatnya, mengungkapkan bahwa hampir seluruh anak kanker di mitra komunitasnya putus sekolah. Bahkan belum dapat membaca di usia 10 tahun. Sebagai solusi, Hima dan timnya meluncurkan aplikasi berbasis edukasi yang serupa namanya dengan komunitas tersebut. Aplikasi ini menyediakan fitur storytelling yang kurikulumnya disesuaikan dengan Kurikulum Merdeka jenjang SD dan SMP.
Kemudian, dari ragam tema storytelling, anak-anak diajak untuk melukis sebagai sarana mengekspresikan emosi. Lebih dari itu, lukisan karya akan dipasarkan di online market Shopee dan hasil penjualan diberikan langsung kepada mereka sebagai motivasi ekonomi.

Komunitas Colourise mengajarkan seni melukis sebagai bentuk terapi hiburan bagi anak penderita kanker. (Foto: Istimewa).
Anak-anak Menjadi Gemar Melukis
Hima mengatakan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Colourise adalah pendanaan. Oleh karena itu, komunitas ini aktif mengikuti berbagai kompetisi proyek sosial, seperti PFMuda dan Innovillage. Meski menghadapi berbagai kendala, Hima tetap optimis dalam menjalankan program komunitasnya dengan penuh sukacita.
淪enang banget. Anak-anak kanker, menurut kami, beda dari anak-anak seusianya. Mereka lebih dewasa. Kalau anak lain masih takut sama orang baru atau nakal, mereka justru bisa bergaul dengan orang baru dan pemikirannya dewasa. Mereka juga sangat senang melukis. Ada yang akhirnya tahu bahwa bakatnya adalah melukis, tambah Hima.
Hima pun berharap Colourise dapat menjembatani pemerataan inklusivitas pendidikan, khususnya bagi anak-anak penderita kanker. 淜ami ingin menunjukkan bahwa belajar tidak harus selalu di ruang kelas. Seni lukis bisa menjadi alternatif yang menyenangkan sekaligus membantu anak-anak tetap aktif secara mental dan emosional, serta mengurangi ketergantungan pada gawai, pungkas Presiden BSO Lingkar Prestasi 2024 itu.
Peranan Hima dan timnya dalam mendirikan komunitas Colourise ini turut mendukung capaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada poin ke-4. Dengan berupaya memberikan pendidikan berkualitas, khususnya bagi anak-anak penderita kanker melalui terapi seni lukis.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Nuri Hermawan




