51动漫

51动漫 Official Website

Mahasiswa FIB Bawakan Tari Tradisional ke Kancah Internasional

Olivia Dewi Menggunakan Pakaian Khas Tari Cunduk Menur (Dok. Olivia Dewi).

FIB NEWS – , mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya () 51动漫 (UNAIR) sukses membawakan Tari Cunduk Menur di acara International Conference KRA XII 2025. Acara tersebut terlaksana pada Senin-Selasa (2-3/6/2025) di Aula KRT Fadjar Notonegoro Lantai 2 FEB UNAIR.

Mahasiswa FIB itu mengungkap rasa bangga atas keberhasilannya tampil di kancah internasional. “Wahh, senang dan bangganya itu bukan main. Sebagai anak perempuan yang asal dan tempat tinggalnya di kabupaten, bisa tampil di kancah internasional itu pencapaian besar tersendiri bagiku, tutur Olivia.

Persiapan yang Mendadak

Di balik kesuksesan Olivia, tersimpan kisah cukup mengejutkan. Ia mengungkap bahwa diumumkannya ia sebagai penampil tari dari Unit Kegiatan Tari dan Karawitan (UKTK) UNAIR cukup mendadak dengan kondisinya yang kala itu sedang sakit demam. Lebih lanjut, ia mengaku sudah lupa dengan gerakan Tari Cunduk Menur yang terakhir ia bawakan dua tahun lalu.

“Betul-betul selama kurang lebih 4 hari, aku berusaha buat menghafal lagi tariannya, aku latihan mandiri, dan jujur sempat merasa putus asa dan tidak yakin sama diri sendiri. Posisi aku juga lagi sakit. Jadi merasa latihanku kurang maksimal, ujarnya.

Makna Tari Cunduk Menur

Olivia berhasil mempersembahkan Tari Cunduk Menur. Ia pun menjelaskan bahwa secara filosofis, tarian tersebut memiliki makna mendalam bagi kehidupan.

“Kalau dilihat dari segi filosofisnya, cunduk itu melambangkan hubungan manusia, di mana dua sudut di bawah mewakili hubungan antarmanusia, jelasnya. Olivia juga menambahkan bahwa sudut lancip melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan dan bunga menur melambangkan kecantikan seorang wanita.

Harapan dan Langkah

Sebagai seorang seniwati, Olivia Dewi merasa mempunyai tanggung jawab besar untuk melestarikan budaya Indonesia. Ia juga ingin terus menggali kekayaan budaya bangsa, tidak hanya seni tari, tetapi juga adat istiadat, tradisi, pakaian, dan musik.

Lebih lanjut, Olivia memiliki harapan besar bagi mahasiswa UNAIR, khususnya FIB, agar lebih melek akan budaya Indonesia. Ia merasa masih banyak mahasiswa yang belum cukup aktif melestarikan budaya bangsa.

Selain aktif menari dan mengeksplorasi budaya, ia selalu berupaya melestarikan budaya, khususnya pakaian adat, seperti rutin memakai kebaya dalam keseharian. “Mungkin kelihatannya sepele, tapi impact-nya besar. Secara tidak langsung, aku sudah berkontribusi nyata dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.” Ia berharap aksinya itu dapat menginspirasi yang lain, khususnya bagi mahasiswa FIB UNAIR.

Cerita pengalamwn mahasiswa FIB membawakan tari tradisional ke kancah internasional tersebut mencerminkan poin SDGs ke-4, yaitu Pendidikan yang Berkualitas (Quality Education).

Penulis: Ainnur Ayu Nanda Agustin

Editor: Nur Khovivatul Mukorrobah

AKSES CEPAT