Foto Bersama Muhammad Gunawan, Ilham Baskoro, Devinta Angelia, dan Joe Adi Yuanda (Dok. Istimewa).
FIB News – Ngobrol Bareng Komunitas (NGOBRAS) bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya () 51动漫 (UNAIR) sukses terselenggara pada Senin (2/6/2025) di Gedung PRO 1 Surabaya. Topik acara tersebut adalah 淢erangkai Identitas Budaya dengan Musik dari Tradisi Hingga Digitalisasi.
Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Gunawan Muhammad dan Ilham Baskoro, yang merupakan mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB), serta Devinta Agelia, mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Melalui diskusi hangat itu, dibahas tentang peran musik dalam membentuk identitas budaya.
Musik Sebagai Identitas
Gunawan Muhammad kemudian membuka diskusi dengan menjelaskan esensi musik sebagai identitas. Ia memaparkan bahwa setiap lagu yang seseorang dengar secara tidak langsung dapat merefleksikan diri. “Kalau kita ngomongin musik, sebenarnya apa yang kita omongin adalah sebuah identitas,” ujar Gunawan.
Ia pun memberikan contoh fenomena musik galau yang kian populer di kalangan anak muda. Hal itu menunjukkan bahwa musik mampu mencerminkan masalah percintaan yang banyak terjadi pada generasi muda saat ini.
Kebangkitan Musik Tradisional di Era Modern
Sementara itu, Devinta Angelia memberikan perspektif menarik tentang musik tradisional sebagai identitas bangsa. Ia melihat potensi besar dalam kolaborasi musik tradisional dengan genre pop, bahkan yang diaransemen ulang dengan sentuhan modern. Ia mencontohkan musisi Niki Zefanya yang sukses meng-cover lagu “You檒l be in My Heart“.
淣iki Zefanya mengambil atau menambahkan aransemen-aransemen gamelan dan angklung. Jadi musik tradisional di situ menginspirasi Niki untuk 榠ni lho aku, aku dari Indonesia, paparnya. Hal tersebut, lanjutnya, berperan sebagai identitas sebuah bangsa.
Perpaduan Budaya dalam Musik
Salah satu audiens, Ibu Mira mengajukan pertanyaan krusial mengenai peran musik dalam pembentukan identitas budaya dan contoh konkretnya. Ilham Baskoro menjelaskan mengenai peran musik itu sendiri.
淵ang pertama, musik bisa kita bentuk sebagai identitas kita, seperti kalau orang yang suka mendengarkan lagu galau-galauan menunjukan bahwa orang itu begitu, dan bisa kita lihat melalui playlistnya, ujarnya.
Sementara menurut Baskoro, peran musik yang kedua adalah kebalikannya, yaitu identitas bisa membentuk sebuah musik yang dipengaruhi oleh budaya atau tradisi masing-masing.
Pengaruh Media Sosial
Terakhir, diskusi membahas tentang media sosial memengaruhi minat anak muda terhadap musik yang mencerminkan identitas budaya. Devinta Angelia memaparkan fungsi media sosial terhadap musik. 淢edia sosial menjadi jembatan kita untuk membuka batasan-batasan musik, seperti gabungan antara bahasa, aransemen-aransemen musik tradisional, serta modern, terangnya.
Diskusi tersebut secara jelas menunjukkan bahwa musik adalah media yang dinamis untuk merangkai identitas budaya. Melalui kolaborasi antara tradisi dan digitalisasi, musisi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkenalkan kekayaan budaya bangsa ke panggung dunia.
Kegiatan NGOBRAS RRI Surabaya bersama mahasiswa FIB tersebut salah satu langkah mewujudkan SDGs poin ke-4, yaitu Quality Education (Pendidikan yang Berkualitas).
Penulis: Ainnur Ayu Nanda Agustin
Editor: Nur Khovivatul Mukorrobah




