Potret sebelum acara KCIC di Semarang(Sumber: Narasumber)
FIB NEWS “ Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM PSUA) meraih Gold Medal 1st Runner Up kategori Equal Voices dengan nilai 83,33 serta Gold Medal 3rd Runner Up kategori Mixed dengan nilai 84,25 pada Karangturi International Choir Competition (KICC) 2025 di Semarang. Tiga mahasiswa 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) turut berpartisipasi dalam kompetisi ini.
Ketiganya ialah Edgar Allan Stefan dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2021, Gina Silvi Muharina dari Prodi Ilmu Sejarah Angkatan 2022, dan Marcella Pinastia Hendriyanti dari Prodi Bahasa dan Sastra Inggris Angkatan 2023.
Perjalanan Panjang Menuju Panggung KICC
PSUA menjalani proses persiapan selama sembilan bulan dengan latihan rutin tiga kali seminggu. Menjelang keberangkatan, latihan berlangsung hampir setiap hari untuk mematangkan teknik dan kekompakan. Tim berangkat ke Semarang pada Senin (10/11/2025), kemudian tampil pada Rabu hingga Kamis (12-13/11/2025) setelah menjalani masa istirahat dan uji coba panggung.
Edgar, yang menempati suara tenor, menjelaskan bahwa tantangan terbesar selama persiapan adalah penguasaan teknik lagu dan kelancaran lirik, serta penyesuaian jadwal antara latihan intensif dan kehidupan sebagai mahasiswa. Meskipun tidak mudah, seluruh proses dapat dijalani dengan dukungan tim dan pelatih, yakni Bagus Syafrieza Paradhika.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Edgar dan para anggota adalah ketika mereka saling bertukar kertas partitur untuk menuliskan pesan penyemangat. Tradisi sederhana itu memberi dorongan emosional yang penting menjelang kompetisi.
Kebersamaan, Tantangan, dan Dukungan
Edgar menilai kemenangan PSUA tidak lepas dari tiga kekuatan utama: latihan yang konsisten, bonding yang terjaga antara penyanyi dan pelatih, serta tirakat yang ia maknai sebagai usaha menjaga tubuh, emosi, dan spiritual selama menjalani proses latihan. Ia juga membagikan pelajaran terbesar yang ia dapatkan selama mengikuti kompetisi ini.
œSuara itu udara yang bergetar, udara itu napas, dan napas itu hidup. Jadi kalau mau suaranya bagus, napasnya bagus atau hidupnya juga harus bagus. Kalau hidup susah, pikirannya susah, negative thinking, ya suaranya masih kurang maksimal. Kalau kita hidup dengan positif, hidup dengan hopeful dan optimist, pasti tercermin dalam hidup kita, yang tercermin dalam suara dan nyanyian kita, ungkapnya.
Edgar juga menyampaikan rasa syukurnya karena masih diberi kepercayaan untuk tampil kembali setelah dua tahun vakum dari kompetisi paduan suara. œWalaupun sudah vakum dua tahunan, keluarga PSUA masih menerima dengan baik dan masih mempercayakan aku untuk mengikuti kompetisi internasional ini, ujarnya.
Dukungan dari pihak UNAIR juga berperan penting. UKM PSUA mengadakan konser pra-kompetisi bertajuk Mesophotia pada bulan oktober lalu sebagai bagian dari penggalangan dana, bentuk pertanggungjawaban kepada pihak pendukung, serta persiapan mental bagi para penyanyi. Teman dan dosen dari FIB turut hadir memberikan dukungan, sementara keberangkatan tim ke Semarang difasilitasi oleh Airlangga Travel.

Potret setelah acara KCIC di Semarang (Sumber: Narasumber)
Harapan untuk Mahasiswa FIB
Menutup wawancara, Edgar menyampaikan pesan kepada mahasiswa FIB UNAIR agar terus berkarya di bidang masing-masing. œKejar passion-mu, dan jadikan asalmu, yakni FIB UNAIR sebagai modal dan keunikan dalam tempatmu berkarya. Kembangkan minatmu, dan jadikan ilmu yang kamu pelajari sebagai keunikan yang hanya bisa didapatkan darimu, ujarnya.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yakni quality education.
Penulis: Gustyosih Chesta Pramesti
Editor: Fania Tiara Berliana Marsyanda




